Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
AADK


AADK (Ada Apa Dengan Kiyara)


.


.


.


“Iya, Mom … Dave nggak mau lagi menghalangi kebahagiaan kalian, bagaimana pun kalian berdua adalah orang tua kandungku, bahagianya Daddy dan Mommy juga bahagiaku, kalau Mommy mau ngasih kesempatan Daddy aku dukung-dukung aja, asal kalian bahagia dan janji sama aku nggak bakalan salng menyakiti udah cukup buat aku, Mom.”


“Tapi, usia Mommy …”


“SSsstttt … nggak ada yang tahu Mom usia manusia, jadi tetap semangat dan pasrahkan semuanya pada Allah. Pokoknya Mommy harus bahagia di umur Mommy yang sudah mau kepala 5 ini, jangan banyak pikiran semoga juga aku bisa ngasih Mommy cucu secepatnya."


“Makasih, Sayang … kamu selalu berusaha untuk membahagiakan Mommymu yang buruk ini.”


“Ssst … jangan seperti itu Mom, kalau dulu Mommy berjuang untuk melahirkan Dave di dunia, maka sekarang giliran Dave yang berjuang membahagiakan Mommy.”


“Makasih, Nak … ayo hubungi besan Mommy.”


Dave, tersenyum lalu mengeluarkan gawainya untuk menghibungi Bundanya di Bandung, berniat menanyakan keadaan El, keponakkannya.


Tut … tut … tut … suara panggilan vidio yang belum diangkat terdengar dari hp yang dipegang Dave, lalu tak lama


kemudian layar hpnya menampilkan wanita yang ia panggil dengan sebutan Bunda, wanita yang memiliki garis wajah sama seperti istrinya meski sedikit berbeda karena milik sang istri lebih tembam dan terlihat begitu empuk untuk di cubit.


“Assalamu’alaikum … Bunda …,” sapanya.


“Wa’alaikum salam, Nak … eh Besan … udah gimana perkembangannya?”


“Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik, insya Allah lusa kami kembali ke Bandung,” jawab Sita, Mommy Dave.


“Alhamdulillah, jangan lupa obat, sama pantangannya, Dek … bener-bener dilakukan dengan sesuai pesan dokter.”


“Aamiin … Ara di mana Dek, Dave?”


“Emh, anu Bun … Ara tidur … hehehe.”


“Hah, tidur? Pagi-pagi gini Dave? Nggak biasanya dia tidur pagi gini, barusan jugakan habis telepon Bunda,” kaget Bunda Alana, karena anaknya itu jarang sekali tidur pagi seperti ini kalau tidak karena sakit.


“Apa, Ara sakit, Nak?” sambungnya lagi.


Dave, menggelengkan kepalanya. “Tadi sehat-sehat aja, ya Mom … habis masak, sarapan juga bareng-bareng terus Bunda telepon tadi dia masuk kamar, pas Dave susulin ke sini Ara nangis-nangis katanya El lagi sakit, kasihan masih kecil di suntik gitu Bun katanya.”


“Apa? Hahahaha … Ya Allah, anakku … Kiyara-Kiyara … ada-ada aja, tadi emang Bunda awaktu vicall Ara, Bunda sama Asti pas lagi imunisasiin si El, lagi vaksin jadinya di suntik, Bunda iseng aja liatin paha El yang lagi d suntik terus nangis kejer Elnya, eh kok anak Bunda ikut-ikutan nangis di sana,” terang Bunda Alana, membuat Mommy dan Dave ternganga di buatnya.


“Hah? Berarti El bukan sakit yang sakit gituh Mom, nggak opnam gituh kan ya, cuman vaksin aja?” tanya Dave dengan nada heran.


“Iya, Nak … Elnya aja ini udah tidur lagi, cuman vaksin aja kok Nak.”


“Astaghfirullah, Ara … dia kenapa ya Bun, Mom, kok aku pikir-pikir dia lagi sensitif banget akhir-akhir ini dan manja banget. Kayak bukan Kiyara, aku takut dia bipolar.”


Puk …


“Aduh, Mommy sakit … kenapa aku di pukul?”


.


.


.


Hadeuh, malah dikira Bipolar, dasar Dave ...