Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Meluruskan


Dugh …


Dugh …


Dua bogeman tepat menyasar ke arah rahang Tama, selepas lelaki itu menceritakan semua kejadian yang menimpa Tiwi, gadis yang sudah ia nodai dan hendak bunuh diri siang tadi dengan menabrakkan diri pada sebuah mobil yang melaju cepat di jalan raya depan apartemennya.


“Apa kamu terlahir dari batu sampai bisa tega berbuat keji pada wanita, ha?” teriak Dave, dia sungguh marah dengan penuturan Tama, meski tak mengenal Tiwi dengan dekat tapi dia meyakini sahabat istrinya itu adalah wanita baik-baik.


“Untung Mommyku sudah kembali ke rumah bersama Daddyku, jika saja dia tahu apa yang terjadi sebenarnya jangan harap kamu akan baik-baik saja di tangannya,” gumam Dave.


“Aku tahu aku salah,tapi semua ini juga ada andil Fani yang sudah menipuku,” jawab Tama sembari megusap sudut bibirnya yang terasa perih.


“Hei, jangan salahkan orang lain tapi salahkan dirimu sendiri yang tak gentle menjadi seorang pria,” ucap Dave.


“Hiks … sudah-sudah, jangan berkelahi … hiks,” ucap Kiyara sembari menangis.


“Sekarang pikirkan saja bagaimana kita mengabari keluarga Tiwi, aku takut mereka akan kecewa pada Tiwi sedangkan saat ini Tiwi sangat butuh support dari orang-orang terdekatnya. Dan Kak Tama harus bertanggung jawab dengan apa yang menimpa sahabatku, ada atau tidak adanya janin yang tumbuh di rahim Tiwi setelah kejadian kemarin, nikahi dia!” ucap Kiyara dengan tegas.


Tama, memejamkan matanya sembari mengusap wajahnya dengan kasar. “Kenapa jadi begini, kenapa aku harus melakukan hal bodoh yang berujung pada pertanggung jawaban seperti ini,” gumamnya dalam hati.


“Aku akan bertanggung jawab tapi tidak dengan pernikahan,” jawab Tama.


“Kau gila? Setelah merusak anak orang kau masih mau berkilah dan tak mau bertanggung jawab dengan menikahinya? Laki-laki macam apa kau ini?” ucap Dave.


“Ha ha ha ha, andai kau tak merebut Kiyara dariku semua ini tak akan terjadi, brengsekkk!” maki Tama dan langsung mendapat bogeman mentah dari Dave.


“Jangan bawa-bawa istriku!”


“Cuih … ha ha ha, itu kenyataannya. Emh, bagaimana kalau kau yang menikahi Tika dan aku akan menikahi istrimu ini,” celetuk Tama yang berhasil memancing amarah Kiyara juga.


Plak …


Kiyara menampar Tama dengan tangan gempalnya, hatinya sakit mendengar ucapan Tama seperti itu, seolah-olah merendahkan harga dirinya juga Tiwi sebagai perempuan. “Jaga ucapanmu Kak, jangan melebihi batasanmu … aku tidak akan sudi menikah dengan lelaki pemarah dan berpikiran pendek sepertimu. Cukup perbaiki semua masalah yang sudah kamu timbulkan jangan malah menambahnya lagi, tanggung jawablah pada sahabatku aku memohon padamu, jangan membuatnya hancur Kak dia wanita baik-baik … bukankah kamu yang pertama untuknya?”


Tama, melemah saat mendengar penuturan Kiyara … membuat laki-laki itu mengingat kejadian kemarin saat dia merenggut paksa harta berharga gadis yang sekarang tengah berjuang untuk kehidupannya di dalam ruang tindakan sana.


“Sayang, kamu di sini sebentar aku mau ngajak Tama ke suatu tempat dulu biar pikirannya jernih dan terang,” bisik Dave pada sang istri.


“Iya, jangan emosi … oke.” Dave, mengangguk lalu mengusap kepala Kiyara sebelum berbicara dengan Tama.


“Ikut aku,” ajak Dave yang langsung menggeret Tama begitu saja tanpa menunggu jawaban terlebih dahulu.


“Sus, tolong diobati luka temen saya,” ucap Dave pada salah satu Suster jaga.


Beberapa menit berlalu akhirnya luka di wajah Tama sudah selesai di obati. “Ikut gue lagi,” ajak Dave dan terus berjalan menuju ujung lorong di mana letak musholla berada.


“Wudhu, salat, minta ampunan sama Allah atas perbuatan keji yang udah lu lakuin sama mohon kesembuhan buat wanita yang udah lu rusak hidupnya,” ucap Dave dingin, meski begitu dia tetap peduli dengan Tama dan Tiwi berusaha untuk menyadarkan Tama agar tak berpikir egois untuk saat ini dan memutuskan tanggung jawab terbaik yang bisa dia berikan pada sahabat istrinya itu.


“Hem, thank’s,” ucap Tama dan di balas tepukan di bahunya oleh Dave yang kini sudah lebih dulu masuk ke dalam tempat wudhu.


“Kiyara, nggak salah milih … dia laki-laki baik yang bisa membahagiakan Kiyara, sedangkan aku?” lirihnya sembari tersenyum kecut.


“Hanya pecundang,” sambungnya lalu beranjak dari berdirinya menuju tempat wudhu.


Tama, lelaki itu kini tengah bersimpuh di atas sajadah … memohon pengampunan atas kesalahan yang ia perbuat, kelakuan bejatnya yang merusak seorang gadis. Lalu air matanya mengalir mengingat kejadain pagi menjelang siang tadi saat Tiwi baru saja bangun entah dari tidur atau dari pingsannya Tama tak tahu itu, yang jelas gadis itu


terbangun dengan keadaan ketakutan dan histeris saat melihatnya berada di kamar yang sama dengan gadis itu. Tiwi yang merasa terancam langsung meminta Tama untuk membiarkannya pergi dari apartemen Tama, dan Tama pun mengizinkannya tanpa berniat mencegah sedikit pun. Sampai 5 menit kemudian dia menyusul saat mengingat koper milik wanita itu masih berada di dalam apartemennya. Tapi siapa yang menyangka bahwa saat sampai di loby dia dikagetkan dengan seoarang wanita yang berjalan di tengah jalan raya dengan pandangan kosong dan terlihat putus asa, dan yang lebih mengejutkannya lagi saat tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kencang menyambar tubuh wanitu itu, membuatnya langsung berlari sekencang yang dia bisa.


“Aku berdoa, Ya Allah … aku berdosa,” lirih Tama dengan air mata yang semakin deras membanjiri pipinya.


Sementara itu di depan ruang tindakan Tiwi, salah seorang suster keluar dari balik pintu yang sedari tadi tertutup rapat itu. Sontak saja Kiyara, yang sedari tadi menunggu di kursi tunggu langsung memberhentikan suster itu. “Bagaimana keadaan sahabat saya, Sus?”


“Maaf, Mbak nanti saya jelaskan … intinya sahabat Mbak lagi kritis, mohon bantu doanya, saya mau ke bank darah dulu,” jawab Suster tersebut sembari berlari kecil meninggalkan Kiyara.


“Ya Allah … Tiwi,” tutur Kiyara.


“Aku harus bagaimana ini, aku haru telepon orang tua Tiwi atau bagaimana … ini Kak Tama belum memberi keputusan apapun juga, ish … sampai terjadi sesuatu pada Tiwi aku tidak akan membiarkannya hidup tenang,” ucap Kiyara dengan emosi apalagi saat melihat suster yang tadi kini sudah kembali dengan membawa 3 kantung darah sekaligus.


“Astaghfirullah, apa kritis sekali keadaan Tiwi?” tanya Kiyara pada dirinya sendiri.


“Ki, bagaimana keadaan Tiwi?”


“Fani … kamu di sini?” tanya Kiyara kaget.


“Kok kamu kaget gituh si Ki, orang kamu yang nyuruh aku cepet ke sini malah nanya begitu. Katamu Tiwi habis kecelakaan, jadi ya aku ke sini,” jelas Fani.


Kiyara mengerutkan keningnya dan baru menyadari satu hal jika kini hpnya di bawa oleh sang suami. Dan sudah dapat di pastikan bahwa ini kerjaan sang suami yang mungkin berniat meluruskan permasalahan yang tercipta di antara sahabat-sahabat istrinya yang secara tidak langsung melibatkan Kiyara di dalamnya.


"Ayo, luruskan kesalah pahaman ini, dan setelahnya aku harap todak ada benci di antara kalian semua."