Sayap Patah Si Gendut

Sayap Patah Si Gendut
Pekerjaan Kakak Apa?


3 hari berlalu dengan cepatnya, Dafa sudah kembali ke Bandung dan Dave sudah kembali ke Singapura. Seperti


hari-hari sebelumnya kini Kiyara dan Dave berada di rumah sakit karena memang hari masih siang, meski Dave baru saja datang dari Bandung tapi tetap saja dia ikut menemani Mommynya bersama dengan istri tercintanya.


“Ini makan dulu, tadi Bunda buatkan lotek buat Mommy dan Kiyara, kata dokter juga nggak apa-apa ini termasuk makanan sehat karena lotek termasuk salad sayur kalau di luar negeri, meski ada beberapa item atau proses pengolahan yang berbeda,” ucap Dave sembari mengeluarkan beberapa tempat makan yang berisi berbagai lauk khas Jawa Barat.


“Alhamdulillah, bisa makan lotek,” kata Mommy sementara Kiyara hanya tersenyum melihat kesenangan Mommynya.


“Mommy duduk ya, biar Kiyara suapi,” ucap Kiyara dengan lembut, kadang melakukan hal seperti ini mengingatkannya pada kata-katanya sendiri waktu masih sekolah saat itu.


Dulu, ketika mata pelajaran agama pernah membahas Bab Tentang Pernikahan, dan gurunya saat itu meminta semua muridnya untuk menuliskan harapannya memiliki keluarga seperti apa, memperlakukan orang tua sendiri dan mertua seperti apa, serta harapan-harapan dan bayangan masa depan seperti apa yang ingin murid-muridnya inginkan. Masih ingat sekali dia pada bagian, ‘Orang tua dan Mertua’ dia ingin menjadi anak yang merawat orang tua atau mertuanya di masa tua mereka, jika orang tuanya lebih dulu mengalami masa sulit (sakit di usia tua) maka dia akan merawat orang tuanya terlebih dahulu tapi jika mertuanya yang mengalami masa sulitnya terlebih dahulu maka dia akan merawat mertuanya dulu. Dan sekarang seolah ini menjadi jawaban, dia terlebih dahulu merawat mertuanya yang sakit keras, dengan berharap kesembuhan agar dia yang masih baru menjadi menantu ini masih memiliki banyak waktu untuk menyenangkan hati mertuanya.


Klek …


Suara kotak makan yang di buka itu mengagetkannya sendiri. “Astaghfirullah … gegara ngelamun gini nih,” gerutunya dalam hati.


“Mommy nggak pakai kerupuk nggak apa-apa kan?” tanya Kiyara, sedikit takut kalau memberi hal-hal makanan yang berbau goreng-gorengan seperti ini. Karena setaunya kanker payudara dapat timbul karena pola hidup yang tidak sehat serta paparan asap rokok juga.


“Tidak apa-apa yang penting loteknya, lotek buatan Bunda kamu enak banget soalnya nggak pakai kerupuk juga udah enak,” jawab Mommy dengan senyuman menenangkannya.


“Iya, Mom …,” jawab Kiyara sembari mulai menyuapi Mommynya.


“Kamu juga makanlah, Nak … gantian habis menyuapi Mommy kamu menyuapi diri kamu sendiri juga.”


“Terima kasih Kiyara, sudah mau masuk ke dalam kehidupanku ini. Tapi maaf, jika di depan sana kamu harus banyak menelan pil pahit kekecewaan karena sudah menikah dengan pria bule seperti aku ini, tapi aku tak bisa kembali lagi ke masa lalu untuk mengubah alur cerita kita, hanya satu yang bisa aku jaminkan, rasa cinta dan sayangku ke kamu itu tulus melebihi apapun yang ak umiliki,” ucap Dave dalam hati.


“Makanlah, Kak … nanti temani aku sebentar,” ucap Kiyara membuyarkan lamunan Dave.


“Hem.”


Mereka semua makan dengan tenang setelahnya, meski sang Mommy yang tengah duduk di sandaran ranjang pesakitannya kini tengah memandang serius wajah menantunya yang terasa sedikit menyiratkan kesedihan, amarah, juga kekecewaan yang dipendamnya sedemikian rupa tapi sebagai perempuan juga ibu instingnya tak pernah salah menilai wajah menantunya ini, apalagi semenjak hari kedua Dave pergi ke Bandung unutk mengurusi pekerjaannya.


“Mom, aku izin bawa Kak Dave dulu ke depan sebentar, Mommy istirahat dulu ya,” ucap Kiyara.


“Iya, kalian berhati-hatilah jika Dave lelah, lebih baik kalian ke apartemen terlebih dahulu.”


“Baik, Mom … terima kasih, assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.”


Pintu ruang rawat sudah tertutup rapat kini tangan berisinya menggenggam erat tangan kekar suaminya, membawanya langsung ke apartement meski niat awalnya akan Kiyara bawa ke kantin rumah sakit tapi rasanya lebih baik membicarakan hal penting ini di apartemen saja, karena jauh lebih privet.


“Pekerjaan Kakak apa?”


Deg