PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Masih hidupkah?


Setelah beberapa hari Quenby di nyatakan sembuh meski tidak seratus persen. Itu karena Quenby hanya bisa mengingat masa lalunya saja, Quenby tidak mengingat yang lainnya termasuk pernikahannya dengan Avram. Pernikahannya dengan Livian, tidak mengenal Elena. Dan yang lebih parah lagi, Quenby tidak mengenali Rafa.


Namun Rafa terus berusaha mengingatkan Quenby kalau dia adalah putranya, sesuai saran dari Dokter. Minggu berlalu, bulan berganti, usaha Rafa membuahkan hasil. Quenby dapat mengingat Rafa adalah putranya, tapi tetap tidak dapat mengingat Avram.


Bagi Rafa, mengingatnya sebagai putranya pun sudah cukup membahagiakannya. Rafa tidak ingin memperumit masalah yang ada.


Suatu hari, Rafa mengajak Quenby duduk di bangku taman rumah berdua saja. Menikmati senja hari, menatap langit yang menyisakan semburat oranye.


"Momy.."


"Iya sayang.." sahut Quenby merangkul bahu Rafa, mereka berdua menatap langit.


"Apakah kau bahagia hidup berdua denganku?" tanya Rafa melirik sesaat ke arah Quenby.


"Tentu saja sayang, bagiku hanya kau lah hartaku satu satunya." Tangan Quenby menyandarkan kepala Rafa di bahunya.


"Aku juga Momy, aku tidak butuh apa apa lagi selain Momy." Ungkap Rafa hati hati.


"Aku menyayangimu.." kata Quenby mencium puncak kepala Rafa.


"Momy, boleh aku bertanya?" tanya Rafa.


"Iya sayang.."


"Kalau momy tidak keberatan, bolehkah aku tahu siapa ayahku?" tanya Rafa dengan ragu ragu.


"Pria brengsek itu bukan ayahmu, dia hanya sampah!" kata Quenby sedikit marah.


"Siapa dia Mom?" tanya Rafa lagi.


"Aku tidak tahu namanya, aku juga lupa wajahnya seperti apa. Waktu dia menodaiku, dia seumuran denganmu sayang, dan aku baru berusia kurang lebih sepuluh tahun kalau aku tidak salah mengingat." Kata Quenby.


Rafa mengeluarkan ponselnya. Ia menunjukkan foto Enzi Alexi Ortama yang sudah dewasa dan foto Enzi sewaktu masih remaja.


"Apakah dia, wajahnya seperti anak ini?" tunjuk Rafa ke arah foto Enzi yang masih remaja.


"Entahlah sayang, aku lupa." Ucap Quenby pelan seraya memijit pelipisnya. "Yang aku tahu, berdasarkan informasi dari Ibu Naga hitam, Pria yang menodaiku memiliki saudara tiri. Hanya itu, selebihnya aku tidak tahu lagi."


"Momy pusing?" tanya Rafa.


"Sebaiknya kita masuk ke dalam rumah, haru sudah mau gelap. Ayo Mom.." Rafa berdiri, lalu menarik tangan Quenby, mengajaknya masuk ke dalam rumah.


Keesokan harinya Rafa memutuskan untuk pergi ke Taiwan lusa, untuk memastikan sekali lagi menelusuri kebenaran apa yang di katakan Avram, Rafa ingin mencari bukti di rumah Avram.


***


Hari ini Rafa pergi ke Taiwan sendirian. Setelah beberapa jam perjalanan. Ia sudah sampai di Taiwan, langsung menuju rumah yang di tempati Avram dan Elena.


Berjam jam Rafa habiskan waktu membongkar tempat tempat tersembunyi, namun Rafa tidak menemukan apa apa.


Akhirnya ia menyerah dan tidak akan mencari tahu lagi, seperti yang ibunya mau. Mungkin apa yang di katakan Avram benar, mungkin juga tidak. Rafa bergegas pergi meninggalkan rumah Avram menuju jembatan di mana ia mengakhiri hidup Avram dan Elena.


"Aku akui, kau pria baik yang telah merawatku, memberikan kasih sayang yang tak pernah di berikan ayah kandungku. Tetapi kau juga bersalah telah membohongiku.." gumam Rafa pelan.


"Elena, aku minta maaf. Jujur aku sangat mencintaimu, sampai detik ini. Tapi kau juga telah membohongiku, aku tidak bisa menerima kebohongan apapun."


Rafa berjalan mendekati besi pembatas, menatap ke bawah laut. Matanya berkaca kaca, saat ini hatinya telah hancur yang di berikan orang dewasa, bukan kenangan manis, atau kebahagiaan yang mereka tunjukkan. Tapi hanya kebohongan dan rasa sakit hati yang dalam.


"Sampai kapanpun, kau lah Dadyku. Enzi Alexi Ortama bukanlah Dadyku. Bagiku, pria itu tidak lebih dari sampah! seperti yang Momy bilang." Ucap Rafa pelan, air matanya perlahan menetes. Hatinya perih perasaannya tidak karuan.


"Dady!!! maafkan aku!!" jeritnya menatap laut.


"Hati hati Nak! kau jangan bunuh diri!" seru seseorang menarik mundur tangan Rafa.


"Pak Polisi?" sapa Rafa seraya menyeka air matanya. "Aku bukan mau bunuh diri pak."


"Syukurlah, aku pikir kau mau bunuh diri. Jangan sampai kau berpikir pendek. Beberapa bulan yang lalu, aku menyelamatkan sebuah mobil yang tenggelam. Ada dua orang di dalam mobil itu, satu pria dan satu anak perempuan mungkin seusiamu." Ungkap Pak Polisi.


"Mereka siapa pak? apakah masih hidup?" tanya Rafa.


Namun sebelum Polisi itu menjawab, dia ada panggilan darurat dari kantor pusat untuk segera kembali.


"Maaf nak, aku ada urusan penting!"


Rafa terdiam menatap punggung pak polisi yang bergegas meninggalkan lokasi.