
Minggu pagi pukul 9,00
Saat ini keluarga kecil Quenby tengah berkumpul di teras rumahnya. Menikmati sinar matahari pagi, di temani minuman segar dan cemilan.
Dari arah pintu gerbang dua mobil mewah memasuki halaman rumah Quenby. Mereka semua terkejut, melihat kedatangan seblak, Rey dan Livian, di antara mereka ada Pramudya dan Sekar.
"Ada apa ini? kenapa mereka ada di sini?" tanya Quenby menatap tajam ke arah mereka semua, yang tengah berjalan mendekati mereka.
"Apa kabar Quen?" sapa Livian.
"Kalian? kalian bisa ada di sini?" tanya Quenby bingung.
"Tenanglah, kami datang ke sini mau menyelesaikan masalah hukum yang menjerat Avram." Timpal Rey.
"Sebaiknya kalian duduk!" Ava memerintahkan mereka semua untuk duduk di kursi.
Di mulai dari Livian.
"Kedatanganku kemari hanya untuk melihat kalian, aku merindukan kalian semua. Kebetulan Rey juga hendak menemui Avram." Ungkap Livian.
Di lanjutkan dengan She Blak.
"Wah, Quen. Aku tidak menduga, ternyata kita tetangga." Kata She Blak.
"Apa hubunganmu dengan dia?" tunjuk Quenby ke arah Pramudya.
"Aku besan Pramudya. Putraku menikah dengan putrinya Pramudya, sekar dan Rangga adalah cucuku dari putraku yang lain, mereka aku titipkan di sini karena mereka berdua memilih tinggal dan sekolah di Indonesia." Jelas She Blak.
"Lalu? Elena?" tanya Avram.
"Elena cucu Pramudya, hasil pernikahan putra bungsuku dengan putrinya Pramudya." Ungkap She Blak.
Quenby menganggukkan kepala, ia tidak menyangka dengan semua pengakuan She Blak.
"Dan kau Rey? apakah kau datang ke sini hendak menangkap suamiku?" tanya Quenby.
"Tenang Quen, kedatanganku kemari justru ingin meluruskan masalah itu. Avram di bebaskan dari segala tuduhan, begitu juga dengan Rafa putramu. Kalian tidak bersalah." Jelas Rey.
"Maksudmu?" tanya Avram tidak mengerti.
"Ini bukti dari pengadilan, kau di bebaskan dari segala tuduhan."
Avram mengambil dokumen itu, lalu membuka dan membacanya.
"Jadi? pelakunya Jimi? mantan pengacara keluarga Yong Ma?" tanya Avram masih tidak percaya.
"Itu tidak mungkin!" sela Ava.
"Elena adalah saksi kejahatan Jimi, dan Jimi sempat menyiksa Elena. Beruntung kami cepat mengetahuinya." Ungkap Rey. "Semua bukti ada di dalam dokumen itu. Dan aku minta maaf atas kesalah pahaman ini."
"Bagaimana keadaan Elena paman?" tanya Rafa.
"Elena baik baik saja, Rafa. Kau tidak perlu khawatir, Elena tidak bisa ikut karena dia mendapatkan beasiswa dan kuliah di Jepang." Timpal She Blak.
"Syukurlah kalau Elena baik baik saja." Gumam Rafa pelan namun jelas terdengar oleh semua orang.
"Kalian bisa hidup tenang di sini, kalau pun kalian akan kembali ke Taipei. Tidak ada masalah lagi." Kata Rey.
"Tidak, kami akan tetap tinggal di sini." Avram mengembalikan dokumen itu kepada Rey.
"Terima kasih, karena kau sudah berusaha membantu kami." Timpal Quenby.
"Tidak masalah, akhirnya misteri ini terpecahkan. Jimi iri dan merasa sudah berjasa banyak terhadap Yong Ma. Dia ingin menguasai hartanya, tapi tidak punya kesempatan." Rey dan Livian membenarkan.
"Kalau begitu, aku dan Livian akan kembali ke Taipei nanti sore. Masalah kalian sudah selesai."
Rey berdiri, di ikuti Livian dan yang lain. Sesaat mereka saling berbincang dan meminta maaf satu sama lain. Quenby dan Avram bisa bernapas dengan lega, akhirnya dalang utama rencana pembunuhan itu terungkap.
Kemudian mereka semua pamit pulang. Avram saling berpelukan dengan Quenby. Sekarang hidup Avram tidak di bayang bayangi lagi kasus yang menimpanya. Mereka kembali duduk dan berbincang bincang.
Rafa hanya diam mendengarkan perbincangan mereka yang menganggap Jimi penjahat yang kejam, demi ambisinya rela melakukan apa saja. Sementara Yong Ma dan Ava, sudah menganggap Jimi sebagai pamannya sendiri.
"Kenapa kau bengong, sayang?" tanya Quenby menatap ke arah Rafa.
"Tidak ada Momy!" sahut Rafa lalu tersenyum lebar. Ikut berbincang dengan mereka semua.