
Sesampainya di lokasi target pertama yaitu markad Albert, dimana bisnis ilegalnya masih di jalankan meski Albert sudah tiada.
Rafa dan Quenby keluar dari dalam mobil. Lalu Rafa menghubungi anak buahnya yang berada di target kedua sampai target ke lima. Siap menunggu komando Rafa untuk menyerang.
"Lakukan sekarang, ratakan dengan tanah. Jangan kalian sisakan satu pun mahluk itu, jangan biarkan mereka kabur apalagi tertangkap polisi yang hanya akan melahirkan kejahatan baru." Perintah Rafa kepada anak buahnya yang akan memimpin penyerangan secara bersamaan meski berbeda tempat.
Setelah bicara seperti itu, Rafa menutup sambungan telponnya lalu di masukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
Rafa menoleh ke arah Quenby yang sudah siap siaga dengan senjata api laras panjang yang sudah di sediakan Rafa.
"Kau siap, Mom?" tanya Rafa.
Quenby menganggukkan kepala, dengan posisi siap menembak. "Lakukan sekarang!"
Rafa mengangguk, lalu memindahkan tas ranselnya di depan. Ia buka tasnya sambil berjalan memasuki halaman markas, Quenby berada di samping Rafa, untuk melindungi putranya dari serangan tak terduga.
Rafa mengambil satu bahan pelrdak lalu di lemparkan ke gudang senjata.
"DUARRR!!
Lalu ia ambil lagi satu bahan peledak, ia lemparkan ke arah pos pos penjagaan secara bersamaan.
"DUARRRR!!
Ledakan terjadi di mana mana, mereka berdua terus merangseng mendekati markas sambil melemparkan bahan peledak ke segala arah.
"DUAR DUAR!!
"DOR DOR DOR!!"
Ledakan dahsyat menghancurkan gedung utama, kobaran api di mana mana, melahap apa saja yang ada di sekitar. Quenby melesatkan peluru, ke arah musuh yang coba menyerang putranya.
"Dor dor dor!!"
Satu bahan peledak tersisa yang memiliki faya ledak tinggi, Rafa membuang tasnya ke dalam kobaran api, menoleh ke arah Quenby sesaat lalu ia lemparkan ke arah gedung yang masih berdiri kokoh.
DUARRRR!
Sepanjang perjalanan, ia mendapatkan informasi bahwa anak buahnya selesai mengerjakan pekerjaan sesuai perintah Rafa dengan sempurna. Kemudian Rafa meminta semua anak buahnya untuk kembali ke markas.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di target yang terakhir. Quenby dan Rafa keluar dari pintu mobil . Mereka berdiri kebingungan menatap sebuah rumah berukuran besar di tempat terpencil. Tidak seperti target pertama sampai target ke enam, yang terlihat Rafa hanyalah rumah saja tidak ada yang lain.
"Rumah ini.." ucap Quenby pelan.
Rafa menoleh ke arah Quenby, terlihat raut wajah tak terbaca.
"Momy? kau mengenal tempat ini?"
"Rumah ini..rumah ini.." Quenby kembali mengulang ucapannya, lalu ia jatuhkan senjata api ke bawah. Meremas rambutnya sendiri sambil terus berucap kata yang sama.
"Momy? ada apa?" tanya Rafa, berjalan mendekat ke arah Quenby dan menurunkan kedua tangan ibunya
"Rumah ini..mengingatkanku.."
Rafa menatap raut wajah ketakutan ibunya, lalu ia berusaha menenangkan Quenby.
"Rumah ini, malam itu, dia telah memperkosaku!" pekik Quenby.
"Apa..?" Rafa menoleh ke rumah itu sekilas.
"Tidak! tidaaaakkk!!" jerit Quenby meremas rambutnya sendiri.
"Momy tenang..tenanglah.." Kata Rafa lalu memeluk Ibunya supaya tenang.
Namun Quenby semakin tidak tenang, terus menjerit di dalam pelukan Rafa seperti orang yang ketakutan.
"Tenang Momy..kau harus kuat. Kita selesaikam semuanya malam ini, aku mohon momy." Ucap Rafa terus berusaha menenangkan.
Pelan tapi pasti, Quenby terdiam dan dia seperti orang yang hilang ingatan, diam dengan tatapan kosong. Saat Rafa tengah menenangkan Quenby, sekilas mata melihat seseorang yang ia kenal tengah berjalan memasuki rumah tersebut.
"Elena?"