PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Senja


Setelah Anna sadar berkat pertolongan Livian. Anna memutuskan untuk pulang dan memeriksakan ke Dokter. Tentu saja Livian ataupun Quenby tidak akan membiarkan Anna pulang sendiri, karena Livian yang mengikut sertakan Anna untuk mengawasi Rafa juga.


Sementara Rafa masih ingin bermain bersama di pantai dan menolak untuk pulang.


"Bu Anna bisa di antarkan Dad pulang, setelah itu Dad bisa kembali lagi ke sini. Mudah bukan?" usul Rafa.


"Tapi Rafa, Anna ikut bersama kita atas permintaanku dan ibumu. Bagaimana mungkin aku lepas tanggung jawab." Balas Livian.


"Apa bedanya Bu Anna di antarkan Ayah atau Dad? bukankah itu namanya kita sama sama bertanggung jawab? kenapa masalah sepele ini harus di ributkan? mengapa orang dewasa selalu ribet?" timpal Rafa kesal.


"Biar aku yang mengantarkan Anna! usul Quenby. "Kalian tetap di sini menjaga Rafa, setelah itu aku kembali lagi ke sini."


"Ide bagus Mom! sahut Rafa.


"Maaf, aku sudah merepotkan kalian. Aku bisa pulang sendiri." Kata Anna dengan raut wajah ketakutan.


"Lagipula, bagaimana mungkin kau bisa tenggelam. Putraku Rafa saja baik baik saja, pantai ini tidak berbahaya. Kau lihat!" tunjuk Avram. "Banyak anak anak di bawah seusia Rafa yang bermain di pantai."


Anna menoleh ke arah Rafa dan menatap tajam. "Entahlah, aku juga tidak mengerti. Tapi aku merasa ada seseorang yang menarik kedua kakiku dari bawah."


Livian, Quenby menoleh ke arah Rafa. Mengingat kejadian yang sudah lewat. Terlintas dalam benak mereka, bagaimana kalau yang melakukan itu Rafa?


"Kalian menuduhku?" tanya Rafa.


"Apa maksud semua ini?" tanya Avram yang belum mengerti situasinya.


Saat situasi tengah tegang, tiba tiba Anna ambruk ke bawah pasir. Livian segera menangkap tubuh Anna dan coba menyadarkannya, namun Anna tidak kunjung sadar.


"Ayo kita bawa ke rumah sakit!" usul Avram ia berlari mendahului Livian yang menggendong tubuh Anna, di susul Quenby.


"Rafa, kau tunggu dulu di sini sayang."


Rafa mrnarik napas dalam dalam. Lalu ia duduk di pasir dengan kedua kaki di tekuk.


"Bukan aku yang melakukannya..bukan aku.." ucapnya lirih.


"Kenapa kau sedih?"


Rafa terkejut mendengar seseorang menyapa, ia menoleh ke belakang.


"Elena!" seru Rafa.


Elena tersenyum lalu duduk di samping Rafa, tangannya memainkan pasir.


"Kau tidak perlu menjelaskan apapun, kau tidak perlu memaksa mereka untuk mengerti, untuk memahamimu." Kata Elena melirik sesaat lalu tengadahkan wajah menatap langit.


"Apa maksudmu?" tanya Rafa.


"Terkadang, kenyataan menuntut kita untuk lebih dewasa dari usia kita. Tidak semua hal butuh penjelasan, tidak semua hal harus kau pahami." Ucap Elena lagi.


"Kau tidak bisa memaksa semua orang untuk menyukaimu, memperhatikanmu, mengertimu, diam adalah jalan yang terbaik."


Rafa berdiri lalu melangkahkan kakinya, berhenti sejenak lalu menoleh ke arah Elena yang masih duduk di pasir.


"Terkadang kita perlu berlari dari kenyataan!" seru Rafa.


"Kau benar!" sahut Elena, lalu berdiri dan melangkahkan kakinya mendekati Rafa. Menggenggam erat tangannya.


"Ayo kita lari." kata Rafa.


"Hahahaha!" mereka tertawa bersama, berlari menuju bibir pantai dan bermain air laut sepuasnya.


Satu jam mereka bermain air. Rafa dan Elena mrmutuskan untuk menyudahinya. Lalu mereka naik ke daratan. Membiarkan pakaiannya yang basah hingga lalu menyantap makanan yang sudah di sediakan Quenby dan Avram.


"Kau tahu?" tanya Elena sambil menggigit buah apel.


"Apa?" sahut Rafa menoleh ke arah Elena lau duduk di sampingnya. Menatap langit yang mulai terlihat semburat oranye di ufuk barat.


"Aku-?" Ucapan Elena terhenti saat melihat Quenby datang menghampiri mereka berdua dan duduk di antara keduanya.


"Boleh aku gabung?" tanya Quenby.


"Tentu saja Mom!" sahut Rafa.


"Tante, maaf aku-?"


"Tidak apa apa sayang, terima kasih kau sudah menemani Rafa." Potong Quenby.


"Mom..di mana Dad? ayah? lalu bagaimana Bu Anna?" tanya Rafa.


"Bu Anna?" Elena mengerutkan dahinya menoleh ke arah Rafa dan Quenby.


"Iya El, Bu Anna ikut bersama kami. Entah apa keperluannya mengikutiku." Potong Rafa.


"Ini aneh tante.." ucap Elena pelan.


"Aneh bagaimana sayang? apa kau kenal baik dengan Bu Anna?" tanya Quenby.


"Tidak Tante, tidak apa apa. Tapi Tante tidak perlu khawatir, aku pasti jagain Rafa juga menemani dia kemanapun." Ungkap Elena tanpa ragu ragu.


"Oya? kau menyukainya?" tanya Quenby tersenyum menggoda.


"Tante.." kata Elena sambil mendekap wajahnya sendiri.


Quenby tertawa melihat raut wajah Elena yang malu malu. Tapi Rafa hanya diam memperhatikan Elena dan Quenby. Tanpa mengerti apa yang mereka katakan.