PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Di rumah sakit


Jauh lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain daripada memaafkan kesalahan keluarga sendiri. Seharusnya, keluarga menjadi tempat kita untuk berlindung. Tapi seringnya keluarga menjadi tempat menemukan rasa sakit hati yang mendalam. Rasa sakit hati yang paling dalam adalah disakiti oleh orang yang sangat kita sayangi – keluarga sendiri.


Berada diantara masalah keluarga yang tidak kunjung selesai adalah bagian tersulit dari hidup Rafa atau anak lainnya di luar sana yang memiliki masalah pelik dalam keluarga.


“Andaikan bisa memilih, aku ingin ada diantara keluarga sederhana dengan keharmonisan dan kasih sayang. Daripada keluarga berada yang mementingkan urusannya masing-masing.”


“Mungkin aku bisa tinggal di bangunan rumah yang rubuh, bermain dengan mainan yang sudah usang. Tapi aku tidak bisa menyayangi siapapun dengan hati yang rusak.” Gumam Rafa dalam hati, terus terisak duduk di ruang tunggu, menanti dengan perasaan cemas tentang kedua orang tuanya yang tengah menjalani operasi pengangkatan peluru.


"Seringkali aku memaksakan diri tersenyum di depan teman-temanku hanya untuk menutupi seberapa berat masalah keluargaku.” Ucapnya lagi dalam hati. "Kehidupan keluarga bahagia yang kuimpikan selama ini seketika sirna ketika masalah tak terduga muncul. Seperti apa rasanya memiliki keluarga yang bahagia?”


Kehidupan adalah kehidupan. Kita tidak akan tahu apa yang terjadi kedepannya. Jika hidup itu ibarat buku, mungkin akan kesulitan saat menulis bab broken home, sebab hilangnya tokoh utama, orang tua, tapi harus tetap melanjutkan jalan ceritanya.”


“Ketika keluarga lain bisa Bahagia, kenapa keluargaku tidak? Apa yang salah?” tanya Rafa dalam hati.


Tidakkah orang tua sadar bahwa hal yang paling diinginkan anak bukanlah harta, melainkan cinta dan kasih sayang? Rumah seringkali bukanlah rumah, karena tidak ada kasih sayang yang ditunjukkan disana.


"Rafa..."


Rafa mengangkat wajahnya, menatap Elena yang sudah berdiri di hadapannya.


"Elena.." Rafa berdiri lalu memeluk erat tubuh Elena.


"Aku tahu..aku tahu bagaimana perasaanmu..jangan berkata apa apa..menangislah, menangislah." Bisik Elena membalas pelukan Rafa.


Roda kehidupan selalu berputar. Ada kalanya orang berada di atas, kadang juga ada di bawah. Peristiwa hidup silih berganti, ada rasa bahagia, kecewa, senang, sedih, marah. Semua itu pernah dirasakan setiap orang. Dalam menjalani kehidupan, terkadang mengalami kesedihan yang mendalam.


"Tangisan hanya mengacaukan segalanya, tapi senyuman membuat mereka yakin aku tegar." Balas Rafa terisak di pelukan Elena. "Aku tahu di rumah ini sebagai siapa, tapi tolong beri sedikit waktu saja agar aku bisa bernafas dengan tenang."


Setiap anak ingin keluarga yang sempurna, tapi tidak semua anak memilikinya. Rafa, kau harus tahu itu. Pahit memang, tapi percayalah akan ada masanya kau bisa melihat pelangi setelah hujan." Jawab Elena.


"Tapi-?"


"Rafa." Potong Elena, lalu melepaskan pelukannya. Mengusap air mata di pipi Rafa dengan lembut. "Tadi aku telpon kamu, aku ingin memberitahu tentang jebakan itu. Tapi kau tidak menjawabku."


"Elena, aku minta maaf. Aku pikir, kau tidak perduli lagi padaku." Kata Rafa meraih tangan Elena dan menggenggam erat tangannya. "Katakan padaku, kenapa kau menjauhiku?" tanya Rafa.


"Rafa, aku-?"


"Katakan Elena.." paksa Rafa menatap kedua bola mata gadis di hadapannya.


"Baiklah aku jujur, dia bukan tunanganku. Tapi kakak kandungku. Aku hanya berpura pura saja, supaya kau menjauh dariku." Ungkap Elena menundukkan kepalanya.


"Tapi kenapa Elena? kenapa?" tanya Rafa seraya mengguncang bahu Elena.


"Rafa!"


Rafa dan Elena menoleh ke arah suara. Nampak Livian dan Rey sudah berdiri di samping mereka berdua.


"Ada apa kau kemari, Ayah?" tanya Rafa ketus.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Livian.


"Tidak perlu sok baik di depanku." Jawab Rafa, lalu menarik tangan Elena supaya menjauh. Kebetulan Dokter keluar dari dalam ruangan.


"Bagaimana Dok?" tanya Rafa.


"Tidak perlu khawatir, mereka baik baik saja." Kata Dokter, tersenyum ke arah Rafa, lalu beralih ke arah Livian dan Rey.


***


Tiga hari setelah pengangkatan peluru, kondisi Quenby membaik. Ia dan Rafa berada di dalam ruangan Avram yang di jaga ketat oleh pihak berwajib.


Quenby duduk di samping Avram, menangis dan meminta maaf karena ide gilanya telah membuat suami dan anaknya harus ikut menghadapi kesulitan, bukannya mengurangi hukuman Avram. Justru semakin menyulitkannya.


"Sayang, jangan kau sesali dan jangan kau menangis. Aku bersyukur dengan keadaan ini, mendapatkan cintamu dan makna dari sebuah keluarga." Ucap Avram sambil menyeka air mata di pipi istrinya.


"Kau benar, Dad. Awalnya aku mengira hidupku sangat memuakkan. Tetapi aku memiliki cara pandang yang berbeda." Timpal Rafa tersenyum penuh arti.


"Kalian memaafkanku?" tanya Quenby.


"Tentu sayang!" sahut Avram menarik bahu Quenby dan memeluknya erat.


"Jangan menyerah Momy, ada banyak cara. Hanya saja kita belum tahu." Timpal Rafa.


"Anak pintar!" sela Avram merangkul bahu Rafa lalu memeluknya dengan erat.


"Polisi akan memasukkan kau ke penjara lagi." Kata Quenby semakin mengeratkan pelukannya.


"Biarkan aku menjalani hukumannya, aku yakin kalau sikapku baik. Tidak akan lama aku menjalani hukuman itu. Dan kau Rafa, sekolah lagi jangan lupa buat aku bangga. Kau juga Quen, kalau kau ingin menyelidiki kasus ini lagi, jangan percaya siapapun, apa kau paham maksudku?"


Avram kembali mengingatkan kegagalan selama ini, seperti dugaan mereka selama ini. Seolah olah pelaku utamanya mengetahui setiap pergerakan.


"Aku paham sayang." Jawab Quenby.


"Kita harus saling menguatkan, bekerjasama menjadi satu tim yang baik." Jelas Avram lagi. "Aku sangat menyayangi kalian, tolong untuk kali ini jangan lakukan apapun. Biar aku jalani hukuman ini."


"Baiklah.." jawab Quenby.


"Aku sayang Dady.." kata Rafa.


"Aku sayang kalian semua.." timpal Avram.


"Avram, sudah waktunya kau kembali. Aku harap, bersikaplah dengan baik. Percaya padaku, aku pasti membantu semampuku." Kata Rey.


"Baiklah, aku setuju." Avram berdiri, di ikuti Quenby dan Rafa. Kemudian mereka melangkah bersama menuju halaman rumah sakit.


Sesampainya di halaman, beberapa anggota Polisi sudah menunggu. Namun saat Avram hendak masuk ke dalam mobil. Segerombolan pria tak di kenal tiba tiba saja menembaki mobil polisi.


Quenby merunduk bersama Rafa bersembunyi di balik mobil yang terparkir. Peluru berseliweran, suara kaca pecah dan teriakan para pengunjung dari luar dan dalam rumah sakit terdengar riuh. Baku tembak antara Polisi dan orang yang tak di kenal tak dapat di hindari lagi.


"Dor dor dor!!"


"Prankkk!!


"Dor dor dor!!


Tak lama kemudian suara mobil melaju dengan kecepatan tinggi, baku tembak sudah berhenti. Quenby dan Rafa berdiri perlahan, memperhatikan mobil Polisi rusak parah, begitu juga mobil milik pengunjung rumah sakit. Beberapa anggota Polisi yang terluka terkapar di bawah. Namun Quenby dan Rafa tidak menemukan Avram. Mereka berdua memeriksa yang terluka, tapi Avram tetap di temukan.


"Mereka telah melarikan tahanan!" lapor seorang anggota Polisi kepada Rey.


"Momy.." kata Rafa pelan.


"Iya sayang, ada orang yang telah membawa kabur Dady mu." Jawab Quenby pelan. "Tapi siapa mereka?"