PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Enzi Alexi Ortama


Setelah Quenby tenang, pelan pelan Rafa meraih tangan Quenby dan menggenggamnya erat. Kemudian mereka berjalan bersama mendekati rumah itu.


Langkah mereka terhenti di depan pintu. Tangan Rafa terulur, mengetuk pintu cukup keras.


"Tok tok tok!!"


Terdengar suara langkah kaki dari dalam, lalu pintu terbuka lebar.


"Rafa???"


"Elena??!"


Elena kembali menutup pintu, namun Rafa menahannya menggunakan kaki dan mendorongnya hingga pintu terbuka lebar. Rafa semakin di buat terkejut, melihat Avram berada di rumah itu bersama Elena.


"Dady?" ucap Rafa matanya melebar menatap pria yang selama ini merawatnya dari bayi.


"Rafa? Quen? bagaimana kau bisa menemukanku di sini?" ucap Avram dengan nada gugup.


"Katakan padaku, kenapa kalian berada dalam satu rumah? jelaskan padaku, Dad!" seru Rafa berlari mendekati Avram lalu mencengkram kerah bajunya.


"Rafa, tenanglah.." ucap Avram menatap sedih.


"Kau bilang tenang? jangan buang buang waktuku, katakan yang sebenarnya atau aku akan membunuhmu!!" pekik Rafa marah lalu mendorong tubuh Avram ke belakang, mengeluarkan senjata api di balik pinggangnya lalu ia arahkan ke wajah Avram dengan sorot mata tajam, namun Rafa tidak bisa menyembunyikan kesedihannya, bisa terlihat jelas oleh Avram.


"Biar aku yang jelaskan!" sela Elena.


Rafa alihkan senjatanya kepada Elena, menatap benci gadis yang pernah ia puja karena selalu bersikap baik padanya.


"Diam kau! aku tidak bicara denganmu, kau tenang saja Elena, ada waktunya giliranmu." Rafa kembali mengalihkan pandangannya, senjata api ia arahkan kembali ke wajah Avram.


Sementara Quenby menjatuhkan tubuhnya di sudut ruangan, dengan raut wajah ketakutan.


"Cepat katakan!!"


"Rafa, aku-?"


"Tidak perlu bertele tele, kau cukup menjawab semua pertanyaanku. Jika kau berbohong padaku, Dad. Maka aku akan membunuhmu!" ancam Rafa.


"Baiklah Rafa..kau tenang.."


"Apa hubunganmu dengan Elena?" tanya Rafa.


"Elena putri angkatku sama seperti kau, Rafa.." Jawab Avram menundukkan kepalanya sesaat.


"Kau jangan bohong!!" pekik Rafa, berjalan semakin dekat. Ujung senjata api menempel di kening Avram.


"Aku tidak bohong, Elena putri angkatku. Dan aku bukan ayahmu, Rafa." Jelas Avram.


"Kebohongan apalagi ini!!" kemarahan Rafa semakin memuncak, ia memukul wajah Avram menggunkan ujung senjata api.


"Rafa cukup! tapi itulah kenyataannya!" potong Elena.


"Diam kau!!"


"Dor!!"


Rafa melesatkan peluru ke bahu Elena hingga terjungkal ke lantai. "Aku sudah bilang, tutup mulutmu Elena!!"


"Rafa..kau.." Ucap Elena, memegang bahunya sendiri, pakaiannya basah oleh darah.


"Elena. " Avram berusaha mendekati Elena, namun Rafa kembali melesatkan peluru ke bahu Avram.


"Dor!!"


Diam di tempatmu, atau kalian mati!!"


"Dari bayi, aku merawatmu dengan kasih sayang, tidak pernah aku menyakitimu meski kau bukan putraku." Avram berusaha bangun lalu duduk dan bersandar ke lemari.


"Jelaskan semua padaku, kenapa kau membohongiku selama ini!!"


"Dengarkan aku baik baik Rafa.." Avram merubah posisi duduknya, dan berusaha menghentikan pendarahan di bahunya.


"Dulu, saat ayahmu hendak menodai ibumu. Akulah orang pertama yang melarang dan mengingatkan ayahmu untuk tidak menodai ibumu. Karena aku adalah sahabat ayahmu dulu." Ucap Avram, menarik napas dalam dalam.


"Teruskan!" perintah Rafa.


"Sejak ketua naga hitam membunuh kakekmu, perusahaan ayahmu mengalami kebangkrutan. Ayahmu berusaha untuk bangkit lagi dan akhirnya berhasil. Tak lama, ketua naga hitam mengantarkan bayi dalam keranjang, tepat di depan pintu rumah ini. Dan bayi dalam keranjang itu adalah kamu, Rafa."


Rafa terdiam dengan tatapan tajam penuh kemarahan ke arah Avram.


"Tapi ayahmu tidak mau mengakui kau sebagai putranya, bahkan ayahmu berniat membunuhmu karena menganggap kau membawa kesialan saja. Tapi aku mencegahnya, saat itu aku tidak tega melihat bayi yang tak berdosa di bunuh di depan mataku."


Mata Rafa berkaca kaca, ia tidak percaya takdir begitu kejam mempermainkan hidupnya, namun ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang di katakan Avram.


"Ayahmu mengurungkan niatnya untuk membunuhmu, tapi dia merubah pikiran untuk menjadikanmu alat balas dendam ayahmu kepada ketua naga hitam. Selain itu, ayahmu juga memintaku untuk membesarkanmu dan menghancurkan ketua naga hitam tidak dengan senjata api, melainkan membunuhnya secara mental."


"Teruskan!" perintah Rafa, tangannya bergetar menahan amarah.


"Aku merawatmu, demi uang. Karena ayahmu selalu memberikan uang padaku untuk pengobatan Elena yang mengalami kanker darah langka sejak lahir. Namun seiringnya waktu, aku menyayangimu, mencintaimu seperti anak kandungku sendiri. Hingga kau berusia sepuluh tahun, ayahmu memintaku untuk menjalankan beberapa misi serangkaian pembunuhan terhadap albert dan dua wanita yang menjadi selingkuhan ayahmu."


Dada Rafa naik turun, mencoba untuk tenang.


"Benarkah Elena putra Reegan dan Yupi? benarkah Elena cucu Zahra, wanita yang telah menghancurkan hidup oma?" tanya Rafa.


"Benar Rafa, Reegan dan yupi membuang Elena sejak bayi, tapi aku yang merawatnya. Awalnya Elena berniat membalas dendam karena hasutan Zahra yang mengatakan kalau yang menghancurkan hidup keluarganya adalah ibumu. Beruntung aku cepat cepat meluruskan kesalahpahaman itu, Rafa."


"Lanjutkan!" seru Rafa


Avram kembali menceritakan tentang niat jahatnya. "Tapi ternyata, ketua naga hitam sudah tiada dan di gantikan ibumu. Lalu aku melaporkannya pada ayahmu. Aku pikir dia akan berubah pikiran, tapi ternyata aku salah. Ayahmu tetap ingin membunuhmu dan menyingkirkan ibumu sebagai pelampiasan dendam."


"Tega nya kau lakukan itu, membohongiku selama bertahun tahun." Sela Rafa.


"Aku di minta untuk mengaku sebagai ayahmu, dan mulai mendekati ibumu, di sisi lain aku mulai merencanakan serangkaian pembunuhan. Aku tidak tega membunuh kau dan ibumu. Lalu aku berpikir, dengan melimpahkan serangkaian pembunuhan itu padamu. Bisa membuat kau masuk penjara, dan bisa membuat ibumu menjadi gila. Awalnya semuanya berjalan dengan mulus, tapi aku tidak menduga kau memiliki kecerdasan di atas rata rata dan mengacaukan semua usahaku."


"Keterlaluan!" pekik Rafa.


"Semakin lama, aku semakin kebingungan dengan rencanaku sendiri, aku sudah tidak tahan dan ingin menghentikan semua sandiwara itu, tapi lagi lagi kau menyelamatkanku dari penjara. Aku coba mengikuti alur yang ada, aku tetap bertahan dengan semua kebohongan sampai aku putus asa. Tapi putriku, Elena ingin membantuku keluar dari masalah ini, dia rela berbuat jahat padamu, menyerahkan kehormatannya hanya demi melindungiku supaya kalian berpikir, Elena lah yang melakukan kejahatan itu."


"Kau egois!" seru Rafa geram.


"Setiap pergerakan, semua rencanamu aku tahu semua dan tetap berusaha menggagalkannya. Semua informasi yang kau dapatkan semuanya palsu, aku merekayasa itu semua. Tapi.."


"Tapi apa!!" bentak Rafa.


"Seiring waktu, rasa sayangku padamu juga ibumu semakin besar. Tapi aku tidak sanggup untuk berkata jujur mengakui kesalahanku. Aku takut kehilangan kalian dan ternyata aku sudah kehilangan kalian berdua. Aku menyerah dan kembali ke Taiwan, aku berharap kalian melupakan dan membenciku dengan menciptakan drama perselingkuhan antara diriku dan sekretarisku."


Rafa menurunkan senjata apinya, memperhatikan bahu Avram yang tak berhenti mengeluarkan darah. Wajahnya terlihat sangat pucat


Seblak, Rey, Livian, adalah teman teman ayahmu yang berniat membantu ayahmu untuk menghancurkan hidup ibumu. Karena aku tidak akan membiarkan mereka melakukan itu pada Ibumu, aku ciptakan drama pembunuhan mereka. Aku tahu kau yang membuat rem mobil mereka blong, tapi sejujurnya aku lah yang lebih dulu meletakkan bom waktu di dalam mobil itu."


Rafa kembali mengangkat senjata apinya, lalu di arahkan ke wajah Avram.


"Lalu siapa ayahku, dan di mana dia!!" bentak Rafa lagi.


"Ayahmu ada di kota ini, dia menikahi wanita paling kaya di kota ini dan memiliki seorang putra yang mungkin usianya tidak beda jauh denganmu Rafa." Ungkap Avram, suaranya semakin pelan, matanya terpejam.


"Enzi Alexi Ortama."


Avram pun jatuh pingsan karena kehabisan darah, namun tidak bagi Elena. Ia masih bertahan duduk di samping Quenby yang hanya diam dengan tatapan kosong dan tak mengingat apapun.


Rafa menjatuhkan tubuhnya di lantai, mendekati Avram lalu mengangkat kepalanya kepangkuannya. Kemudian Rafa mengangkat tubuh Avram dan menggendongnya.


"Elena, apa kau masuh kuat berjalan?" tanya Rafa.


Elena mengangguk cepat. "Kau tidak perlu khawatir, matipun aku tidak takut."


Rafa tersenyum samar, "bawa ibuku, kita kerumah sakit!"


Elena berusaha bangkut, lalu merangkul bahu Quenby. Mengikuti langkah Rafa, keluar dari dalam rumah untuk segera ke rumah sakit sebelum Avram mati karena kehabisan darah.