
Bagaimana rasanya terbangun dari tidur panjang dan tersadar bahwa kau bukan siapa-siapa di dunia ini? tak diakui, tak dikenal, tak punya tempat di lingkaran sosial masyarakat, dan tak dihormati orang-orang di sekitar. Mereka menganggapmu buruk, dan tak berharga lagi meski harta berlimpah?
"Dulu aku berpikir bahwa hidupku akan bahagia, seperti wanita lainnya. Memiliki keluarga kecil, menjadi ibu yang baik untuk putraku. Tapi ternyata aku salah, semua yang kuanggap terbaik adalah sebuah tragedi. Tapi sekarang aku sadar, ternyata inilah hidupku dengan semua permasalahan pelik, dan aku tidak perlu merubah diriku menjadi terbaik hanya untuk mendapatkan yang terbaik." Gumam Quenby pelan, menatap langit yang gelap di balkon kamarnya.
“Dulu aku merasa telah kehilangan kasih sayang ibuku hanya karena aku akan memiliki adik, dan sekarang aku sadar. Aku sudah tidak bisa lagi merasa kehilangan karena aku sudah tidak memiliki apa-apa. Tidak ada yang bisa melukai aku lagi.” Quenby tersenyum getir, menundukkan kepalanya sesaat dan membiarkan air matanya jatuh membasahi pipinya.
“Satu-satunya cara yang masuk akal untuk hidup di dunia ini adalah tanpa aturan. Menghadapi kecurangan yang sedang mereka lakukan pada keluarga kecilku, dan ada keinginan untuk menyerah, menyerah pada kenyataan yang akan menjadi kekuatan.” Quenby kembali tersenyum, menyeka air matanya.
“ Tidak ada lagi yang harus aku takutkan, ketika segalanya berjalan sesuai rencana ataupun tidak. Bahkan jika rencananya mengerikan sekalipun." Quenby menarik napas dalam dalam.
"Aku tidak akan bisa mengandalkan orang lain, aku harus melakukannya sendiri bukan? Tidak masalah, aku datang bersiap, itulah yang harus kulakukan sekarang." Ucapnya pelan.
“Aku harap kematianku lebih masuk akal dari pada hidupku yang tak masuk akal, jatuh dan kembali jatuh di tempat yang sama. Takdir yang terus mempermainkanku." Quenby tertawa lebar. "Jika kalian membenciku tanpa alasan, maka aku akan beri kalian sebuah alasan."
Quenby balik badan, melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Mendekati lemari, memilih pakaian yang selama ini tidak pernah ia gunakan lagi.
"Tampil cantik dan modis, tidak merubah apapun. Kenapa aku harus menjadi orang lain?" gumamnya lagi.
Quenby mengambil salah satu celana jeans robek, dan kaos longgar yang dulu sering ia gunakan. Jaket hitam yang selalu melekat di tubuhnya saat bertemu dengan anak buahnya di markas.
"Aku kembali, tunggulah pembalasanku."
***
Sementara di kamar lain, Rafa tengah duduk di cermin. Menatap pantulan wajahnya di cermin, tersenyum. Menjulurkan lidahnya, lalu tertawa kecil, membentuk raut wajah cemberut, lalu berubah raut wajah marah, lalu menangis.
Hidup Rafa kacau balau. Kejadian kejadian yang membuatnya semakin terpuruk, tanpa di sadari siapapun memicu kelainan otak yang menyebabkan dia tertawa pada waktu yang tidak tepat. Di tambah riwayat kanker otaknya yang baru baru ini sembuh, kembali mengalami cidera meski belum terlalu fatal.
Rafa kembali terdiam tanpa ekspresi menatap dirinya sendiri di cermin, mengamati bayangan tubuhnya di bawah sinar redup lampu kamarnya. Di malam malam yang tak asing lagi baginya menikmati kebencian yang ada di penuhi rasa sakit, kehampaan yang mengisi sanubarinya.
Setelah tangisan pecah di saat hujan turun bersama keheningan dan kehampaan yang terus berputar di otak Rafa. Kesakitan, kekecewaan, kemarahan yang meledak kapan saja di tengah kemewahan yang tak lagi membuatnya terhibur.
Suara langkah kaki mendekat, dekapan hangat dari belakang Rafa rasakan. Matanya terpejam, kedua tangannya menggenggam lengan Quenby yang melingkar di tubuhnya.
"Semua akan baik baik saja, aku berjanji akan mengembalikan Dady mu. Jangan bersikap seperti ini terus sayang, maafkan segalanya, maafkan." Bisik Quenby di telinga Rafa.
"Semudah itukah Momy?" tanya Rafa tengadahkan wajahnya menatap Quenby.
"Aku tahu itu tidak mudah, kau tidak perlu melakukan apa apa. Lanjutkan sekolahmu, buat Dady mu bangga. Biar aku yang menyeleseikannya semua, akan kuseret mereka yang telah mencurangi kita." Ungkap Quenby.
"I Love You Momy."
Rafa menggelengkan kepala. "Tidak Mom.."
"Sekarang kau beristirahat, besok kau juga harus ke kampus. Aku ada urusan sebentar, tunggu aku di sini."
Quenby mencium puncak kepala Rafa berkali kali dengan dalam. Lalu beranjak pergi dan memutuskan untuk pergi ke markas. Menggerakkan anak buahnya lagi seperti dulu waktu ia masih berjaya memimpin aliansi Naga Hitam.
Di markas, Quenby kembali membangkitkan semangat anak buahnya, dan kegiatan kegiatan yang selama ini vakum walaupun sebenarnya, selama ini Rafa lah yang meneruskan aliansi itu secara diam diam.
Mendengar penjelasan dari salah satu anak buahnya. Quenby termenung, ia sama sekali tidak tahu kalau aliansinya masih tetap berjalan seperti biasa di bawah pimpinan Rafa.
"Putraku memiliki kepribadian ganda, setiap gerakan dan senyumannya sulit di bedakan antara senyum ketulusan dan kepalsuan. Apakah benar putraku mengalami kelainan otak yang seperti Livian katakan? tapi mengapa aku harus mencurigai putraku sendiri? aku yakin, putraku bisa aku banggakan." Gumam Quenby optimis.
Di tengah lamunannya, quenby kedatangan Rey, sahabat Avram. Maksud dan tujuan Rey menemui Quenby di markas itu untuk mengajaknya bekerjasama mengusut tuntas kasus itu.
Quenby menyetujuinya, namun bukan berarti Quenby mempercayakan sepenuhnya kepada Rey, meski dia seorang Polisi.
Psikopati tak sama dengan gila(skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Pengidapnya sering kali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan.
“Orang dengan senyum yang paling cerah dan tawa paling keras memiliki masa lalu yang paling menyakitkan.” Jelas Rey mengungkap gejala psikopat yang di pertanyakan Quenby.
"Tapi putraku tidak mengalami gangguan seperti itu, aku yakin." Jawab Quenby tegas.
"Aku tidak mengatakan putramu psikopat." Kata Rey. "Seorang psikopat memiliki IQ yang tinggi, sampah di sekitar sekalipun bisa di jadikan senjata. Tetapi psikopat juga memiliki kelemahan, perasaan ingin di cintai."
"Lalu?" tanya Quenby.
"Aku yakin, dalang di balik kejadian ini adalah orang yang dekat denganmu, sama sama memiliki gangguan psikopat yang sudah berada di level akut. Dan dia memanfaatkan situasi, terutama putramu yang menjadi target utama." Jelas Rey.
"Rafa? putraku?" tanya Quenby.
"Benar!" sahut Rey.
"Dia tidak perlu susah payah menghancurkanmu dengan tangannya sendiri, tetapi lewat putramu dengan sendirinya semua yang kau miliki akan hancur dan hilang satu persatu." Ungkap Rey lagi.
"Tapi sayang, rencananya gagal berkat kecerdasan putramu. Meski begitu, bukan berarti dia akan berhenti. Dia akan menggunakan cara lain dan yang bisa mengalahkan Mr J adalah putramu sendiri."
"Psikopat vs Psikopat?" Ucap Quenby pelan.