PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Usul Avram.


"Sayang, bagaimana hari pertama kerjamu?" tanya Quenby, lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring di sebelah Avram.


"Temanku Yudha, baik sekali. Dia menempatkanku di posisi yang lumayan bagus. Tapi pekerjaannya membuatku sibuk." Jelas Avram.


"Tidak apa apa, yang penting kau nyaman. Aku sudah mempersiapkan segala hal untuk membuka usaha." Timpal Quenby.


"Bagaimana Rafa? apakah dia sudah tidur?" tanya Avram.


"Dia di kamarnya, mungkin sudah tidur." Jawab Quenby.


"Aku harap di sini kita menemukan ketenangan. Aku mau, kau di rumah saja merawat Rafa. Biar aku yang bekerja, atau aku yang bangun usaha?" usul Avram.


Quenby menarik napas dalam dalam. "Boleh, kalau itu baik buat kita semua terutama Rafa."


Avram bangun lalu duduk, di ikuti Quenby. "Ada apa?" tanya Quenby.


"Besok aku bisa mengundurkan diri, cukup aku dan Ayah yang buka usaha. Kau di rumah memperhatikan dan merawat Rafa dengan baik. Jangan sampai ada masalah lagi, kau tidak lupa bukan? Mr J, masih misteri buat kita semua." Ungkap Avram.


"Kau benar sayang!" sahut Quenby.


"Aku tidak mau terjadi apa apa dengan putra kita, aku bisa mati kalau ada apa apa dengannya."


"Bagaimana kalau kita tidur di kamar Rafa?" usul Quenby.


"Ide bagus, ayo!"


Mereka berdua turun dari atas tempat tidur, lalu melangkah bersama menuju kamar Rafa. Sesampainya di depan pintu kamar, Quenby mengetuk perlahan lalu membuka pintu lebar lebar. Dan benar saja, Rafa masih belum tidur.


"Mom..Dad.." sapa Rafa lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Boleh, kami tidur bersamamu?" tanya Avram.


"Tentu saja Mom..Dad." Rafa menepuk nepuk bantal.


"Terima kasih!" sahut Avram lalu naik ke atas tempat tidur, dan berbaring di samping kanan Rafa. Sementara Quenby berbaring di samping kiri Rafa. Keduanya memeluk tubuh Rafa dengan erat, mencium pipi Rafa bersamaan.


"Mmuach!!"


"Kami berjanji, tidak akan bersikap egois lagi. Asalkan Rafa juga tidak nakal lagi." Kata Avram.


"Aku berjanji Mom..Dad.." jawab Rafa.


"Sekarang kita tidur, biar besok tidak kesiangan." Timpal Quenby.


"Iya Mom.." sahut Rafa pelan, memejamkan mata, merasakan kehangatan pelukan kedua orangtuanya yang membuatnya nyaman.


***


Di kampus.


Rafa yang baru saja keluar dari angkutan umum. Berdiri terpaku menatap seorang pria yang kemarin menyapanya, pria itu adalah Pramudya yang baru saja menemui kedua cucunya yaitu Sekar dan Rangga.


"Aku hendak ke pemakaman Ibumu, nanti kalian jangan pulang terlambat!" kata Pramudya.


"Iya kakek!" sahut mereka berdua bersamaan.


"Nanti siang, Ayahmu dari Taipei akan datang. Jadi kalian jangan sampai terlambat pulang" perintah Pramudya. Setelah bicara seperti itu, Pramudya masuk kedalam mobilnya.


"Hei anak bodoh! apa kau lihat lihat!" bentak Rangga menatap tajam ke arah Rafa.


"Taipei? pria itu mantan suami, Oma." Ucap Rafa dalam hati.


"Hai Rafa!" sapa Sekar tiba tiba saja bergelayut manja di lengan Rafa.


"Kau jangan buat malu, apa kau gila? deketin cowok kere seperti dia?" Rangga menarik tangan Sekar supaya menjauh dari Rafa.


"Bisa tidak? lo jangan usil urusan pribadi gue?" ucap Sekar menatap kesal ke arah Rangga.


"Gue kakak lo, gue tau yang terbaik buat adik gue sendiri. Awas, menyingkir!" Rangga mendorong bahu Rafa.


Namun Rafa tak bergeming dari tempatnya berdiri, hanya menarik napas dalam dalam dan berlalu begitu saja dari hadapan mereka berdua.


"Sombong!" umpat Rangga kesal.