
Di kediaman Miyako. Nampak Livian dan Anna tengah bertengkar. Mereka mempermasalahkan soal kehamilan, dan Anna inginkan Livian segera menikahinya sebelum perutnya terlihat besar.
"Oke, kita menikah secepatnya. Tapi asal kau tahu Anna. Aku sama sekali tidak mencintaimu, hanya ada satu wanita yang ada di dalam hatiku dan sampai kapanpun tidak akan pernah tergantikan. Jangan pula kau lupakan, apapun yang terjadi diantara kita, semua itu jebakan yang di buat seseorang. Sampai detik ini, aku masih mencari tahu siapa yang sudah meletakkan obat ke dalam minuman kita." Jelas Livian panjang lebar.
"Aku tidak perduli, kau harus menikahiku secepatnya. Aku tidak sanggup harus menahan malu!" balas Anna tak kalah sengit.
"Cukup! sela Miyako yang mulai risih melihat mereka tiap hari harus bertengkar. "Nak, kau jangan khawatir, putraku pasti bertanggung jawab. Jadi aku mohon, berhenti untuk saling menyalahkan dan semua pertengkaran!"
"Maafkan aku, Ibu.." kata Livian. "Aku titip Anna."
"Kau mau kemana?" tanya Miyako.
"Aku mau ke kelab, menyelidiki siapa yang telah menaruh obat di minuman kami." Jawab Livian sambil berlalu dari hadapan Miyako.
Menit itu juga Livian segera ke kelab untuk menemui salah satu pelayan yang memberikan minuman. Sesampainya di kelab, Livian berhasil menemui pria tersebut. Namun informasi yang di dapatkan belum cukup bukti.
Pria tersebut hanya di bayar untuk menaruh obat ke dalam minuman oleh seorang anak laki laki yang masih remaja tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena menggunakan masker. Namun ciri ciri yang di berikan pria tersebut mengarah pada sosok Rafa.
Kecurigaan Livian semakin kuat, kalau yang menjebaknya adalah Rafa. Tetapi ia memutuskan untuk diam dan menyelidiki lebih lanjut dan tidak boleh bertindak gegabah.
Setelah mendapatkan informasi itu, Livian memutuskan untuk pulang. Namun baru saja sampai di halaman kelab, Livian mendapatkan panggilan telpon dari Miyako. Mengabarkan kalau ia berada di rumah sakit, membawa Anna yang mengalami keguguran akibat terjatuh di teras rumah. Livian bergegas menuju rumah sakit, untuk memastikan keadaan Anna.
Tak butuh waktu lama, Livian telah sampai di rumah sakit. Di sela sela langkahnya ia terus memikirkan semua kejadian dan coba merangkainya. Kecurigaan semua mengarah kepada Rafa.
"Ini mustahil kalau anak seusia Rafa bisa melakukan semua ini, tapi semua bukti mengarah padanya." Gumam Livian.
Langkah Livian terhenti sesaat melihat Miyako duduk di kursi dengan raut wajah cemas.
"Ibu!" seru Livian berlari ke arahnya lalu duduk di kursi.
"Nak..Anna mengalami keguguran." Kata Miyako.
"Bagaimana bisa Bu?" tanya Livian.
Miyako menarik napas panjang, lalu menceritakan apa yang terjadi. Sepeninggal Livian, Anna memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Namun di teras rumah, Anna terpeleset dan jatuh ke lantai hingga pendarahan.
"Ibu tidak tahu siapa yang menaruh minya pelumas di lantai. Seingatku, lantai sudah bersih dan rasanya tidak mungkin ada minyak pelumas bisa berceceran di lantai." Kata Miyako di akhir cerita.
"Kau harus melaporkannya pada Polisi Nak." Usul Miyako.
"Tidak mungkin Bu!" sahut Livian.
"Kenapa tidak mungkin?" tanya Miyako bingung menatap wajah bingung Livian.
"Sudahlah, Ibu tenang saja. Biar semua aku yang urus." Livian beranjak berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Miyako.
"Menemui Avram untuk membicarakan masalah ini." Jawab Livian lalu berlalu dari hadapan Ibunya.
***
Sesampainya di rumah Avram. Mereka langsung berbincang di teras rumah. Meski Avram belum tahu apa maksud kedatangan Livian. Avram menduga kalau kedatangan Livian hendak memintanya untuk membujuk Quenby untuk tidak menceraikannya. Namun dugaan Avram salah, apa yang di bicarakan Livian di luar dugaannya.
"Kau jangan marah dulu, dengarkan dulu semua yang akan aku katakan. Ini masalah putramu, juga untuk kebaikan putramu juga." Jelas Livian.
"Tidak perlu basa basi, cepat jelaskan!" sahut Avram sedikit kesal, tidak terima putranya di tuduh dalang dari semua ini.
"Kau masih ingat saat Rafa menyerangku? kau juga tentu masih ingat saat Rafa keluar dari pusat rehabilitasi? psikiater itu tiba tiba mengalami kecelakaan terkena siraman air keras. Kau juga ingat? pertama kali Rafa masuk sekolah? salah satu temannya tewas dari lantai dua sekolah. Dan kau juga tentu tidak lupa, menurut Acar sopir pribadi Rafa, sebelum Joy tewas, Rafa berada di tempat yang sama. Dan aku ada yang menjebak lewat minuman hanya karena Anna ingin membantu Rafa. Dan sekarang kau tahu? Anna terjatuh di lantai akibat minyak pelumas di lantai dan mengalami keguguran." Ungkap Livian panjang lebar.
"A, appa?" ucap Avram terkejut.
Livian menganggukkan kepalanya. "Kalau bukan Rafa siapa lagi? semua bukti mengarah padanya."
"Rafa masih anak anak!" seru Avram marah.
"Aku tahu, Avram. Tapi kau pakai logikamu, aku tidak sembarangan menuduh. Bahkan aku masih menyelidikinya sampai sekarang jangan sampai aku salah menuduh. Avram, aku mohon bekerjasamalah denganku, pecahkan kasus ini." Pinta Livian.
"Baiklah, aku bantu kau. Dan aku pastikan putraku tidak bersalah!" kata Avram dengan nada marah.
"Terima kasih.