PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Awal pertemuan


Sesampainya di rumah, Quenby dan Rafa juga Avram di sambut oleh Elena yang bersikap sangat manis.


"Tante, Om, aku sudah sediakan makan siang. Apa kalian mau makan siang dulu atau mau istirahat?" tanya Elena menundukkan kepalanya sesaat.


"Nanti saja makannya Elena, aku mau bicara denganmu." Kata Quenby.


"Ada apa Tante?" tanya Elena.


"Aku mau kalian menikah secepatnya." Quenby menoleh ke arah Rafa yang hanya diam saja.


"Aku tidak mau!" tolak Rafa.


"Rafa!" bentak Quenby melotot.


"Cukup Quen! biarkan putramu beristirahat!" bela Avram semakin kesal dibuatnya.


"Tidak perlu tante." Kata Elena.


"Kenapa Elena?" tanya Quenby.


"Aku sudah punya kekasih, dan dia mau menikahiku." Jawab Elena. "Dia pria baik, bertanggung jawab, dia menerimaku apa adanya meski sudah tidak perawan lagi."


Mendengar pernyataan Elena yang seperti itu, Rafa sudah tidak perduli lagi. Menganggap semua yang Elena katakan adalah kebohongan.


"Siasat licik apalagi Elena?" gumam Rafa dalam hati.


"Kau lihat!" tunjuk Quenby ke arah Elena, namun tatapannya tajam ke arah Rafa.


"Elena masih beruntung punya kekasih yang baik, tapi aku lebih tidak beruntung memiliki putra yang tidak bertanggung jawab sepertimu!"


"Deg!"


Bagai digigit ribuan semut, hati Rafa terasa sakit. Mendengar kata kata ibunya sendiri, baru saja ia percaya, baru saja bahagia, baru saja ia berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya. Lagi dan lagi ucapan yang menyakitkan telah menghancurkan semua kepercayaan yang Rafa miliki. Anak polos bagaikan kertas putih kini telah ternodai oleh egoisme semata.


"Quen, apa kau tidak bisa menjaga ucapanmu terhadap putramu sendiri? apa kau tidak bisa berhenti menyalahkan putramu? di mana Quen yang dulu kukagumi?" Ucap Avram benar benar kecewa.


"Terus saja bela anakmu yang jelas jelas bersalah, mau jadi apa dia!" Balas Quenby marah. "Aku sudah berusaha jadi ibu yang baik, tetap saja salah!"


Rafa menarik napas dalam dalam, lalu beranjak pergi menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah. Pertengkaran terus tiada hentinya, saling menyalahkan saling menuduh satu sama lain membuat Rafa semakin terluka hatinya.


Elena yang berada di bawah, tengadahkan wajahnya menatap ke arah Rafa yang masih berdiri di lantai dua memperhatikan orang tuanya bertengkar.


"Hahaha, lihatlah Rafa. Pertunjukan yang sebenarnya akan segera di mulai, ini belum seberapa. Kalian akan merasakan apa yang sudah ibu dan ayahku rasakan." Ucap Elena dalam hati.


***


Bukan senjata api yang menempel di kepala yang menakutkan. Penjahat tidak selalu yang memegang senjata api, berprilaku buruk dan berwajah seram. Penjahat yang harus di waspadai adalah dia yang selalu terlihat manis, baik, tapi bagaikan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semuanya.


Hari hari Rafa sudah tidak menyenangkan lagi, rumah tempat ia beristirahat sudah bagaikan neraka. Selalu saja ada pemicu pertengkaran orang tuanya. Alasan mereka bertengkar adalah dirinya.


Pelan tapi pasti, Rafa mulai membentengi dirinya. Menyakiti sebelum di sakiti, tidak akan pernah menerima kebaikan orang lain dan tidak percaya adanya ketulusan. Apapun harus ada timbal balik, memberi dan menerima.


Ia duduk di halte, menyalakan sebatang rokok, lalu menghisapnya dalam dalam. Hari mulai gelap, namun Rafa belum beranjak dari tempat duduknya. Tatapannya tertuju pada seorang wanita berambut panjang, tengah menggoda om om hidung belang untuk menjadi mangsanya. Tanpa ia sadari, seorang gadis duduk di sebelahnya mendekap gitar kecil, ternyata gadis itu salah satu pengamen di kota Jakarta.


Tatapan gadis itu sama sama menatap ke arah wanita yang terus menggoda seorang pria kaya yang tengah mencari kesenangan.


"Aku kira hanya aku saja yang gila di kota ini, ternyata di luar sana banyak yang lebih gila." Gumam gadis itu.


Rafa menoleh ke arah gadis yang duduk di sebelahnya, lalu kembali pandangannya ia alihkan ke arah wanita itu lagi.


"Bagi rokoknya dong, asam nih!" gadis itu menepuk bahu Rafa.


Kembali Rafa menoleh, lalu mengeluarkan sekotak rokok dari dalam tasnya beserta pematik, di letakkam di samping gadis tersebut.


"Terima kasih!"


Gadis itu mengambil satu batang rokok, lalu menyalakannya. Ia hisap rokok dalam dalam lalu di hembuskan ke udara.


"Nikmat sekali!" serunya matanya terpejam menikmati setiap isapan rokok.


Rafa tetap terdiam, enggan membalas kata kata gadis itu. Namun tiba tiba seorang pria kekar datang menghampiri gadis itu dan meminta jatah sejumlah uang.


"Anak sialan!" serunya sambil mencengkram kerah baju gadis itu. "Bukannya bekerja cari uang malah asik pacaran!!"


"Bang sabar bang, lagi sepi." Jawab gadis itu.


"Plakkk!!"


Pria kekar itu malah menampar, hingga gadis tersebut oleng ke samping dan terduduk di jalan aspal. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, dan Rafa hanya diam menyaksikan pertunjukan itu, sedikitpun ia enggan membantu.


"Ingat Al, kau harus setorkan uang tepat jam 12 malam. Kalau sampai kau ingkar, aku pastikan kau mati!" ancam pria tersebut menatap tanpa belas kasih, kaki kanannya menendang kaki gadis yang di panggil Al, dan berlalu begitu saja.


Rafa terdiam memperhatika Al meringis kesakitan. Lalu gadis itu berdiri, mengambil gitar yang tergeletak di atas bangku halte.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Al.


"Tidak ada, aku hanya memikirkan sebuah lelucon!" sahut Rafa akhirnya angkat bicara.


Al tertawa kecil, menepuk bahu Rafa cukup keras. "Aku hanya tidak ingin merasa lebih buruk lagi, meski kenyataan sudah sangat buruk melebihi bangkai."


Rafa terdiam, memperhatikan Al mekangkahkan kakinya meninggalkan Rafa. Tak lama ia menoleh ke arah Rafa.


"Hey, kau! namaku Aluna!" seru Aluna.


Namun Rafa hanya diam menatap punggung gadis itu hingga hilang dari pandangan. Rafa menarik napas panjang, tersemat senyum di sudut bibirnya. Lalu beranjak pergi meninggalkan halte dan kembali pulang ke rumah.