
"Ayah, aku butuh data data kakek, keluarga kita, dan semua orang yang pernah dekat dengan kakek atau ayah." Pinta Quenby sambil menikmati sarapan paginya.
"Tentu sayang, seingatku masih ada di rumah di simpan. Selepas sarapan, aku ambilkan." Jawab Ava sambil menyecap kopi panasnya.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Karina.
"Tidak perlu Bu, cukup perhatikan keperluan Rafa kalau Ibu tidak keberatan. Hari ini aku pulang malam." Jawab Quenby
"Kenapa harus pulang malam?" tanya Karina lagi.
"Aku dan Rey hendak melakukan penyelidikan kasus ini, di mulai dari Vanila." Kata Quenby seraya mengambil tisu, lalu mengulurkan tangannya menyeka bibir Rafa yang terdapat sisa roti di sudut bibirnya.
"Momy, aku bisa sendiri." Sahut Rafa menyentuh tangan Quenby. "Aku sudah besar Momy."
Quenby tertawa kecil menatap raut wajah malu malu putranya. "Biarpun kau sudah besar, tetap kau putra kecilku."
"Momy.." Rafa memeluk Quenby sekilas.
"Sudah siang, kau harus segera ke kampus. Biar Paman Acar yang mengantarmu." Kata Quenby lalu berdiri di ikuti Rafa.
"Aku mau berangkat sendiri Momy, boleh?" Tolak Rafa untuk di antarkan Acar.
"Baiklah, tapi janji padaku. Jangan nakal, jangan pulang terlambat."
"Iya Mom..!" sahut Rafa senang.
"Ayo sayang!"
Rafa mrnganggukkan kepalanya, lalu berpamitan pada kakek dan neneknya. Kemudian mereka berjalan bersama keluar dari rumah.
Namun baru saja sampai di halaman. Rey yang baru saja datang langsung meminta Quenby ikut bersamanya.
"Ada hal penting yang harus kau tahu mengenai Vanila. Ada fakta baru yang mungkin akan membawa kita ke petunjuk selanjutnya." Kata Rey.
"Baiklah!" sahut Quenby menoleh ke arah Rafa. "Sayang, kau berangkat duluan. Hati hati di jalan!"
Rafa menganggukkan kepalanya, menggunakan helm lalu naik ke atas motor. Quenby melambaikan tangan saat motor milik Rafa melaju meninggalkan halaman, bersamaan dengan sebuah mobil memasuki gerbang.
Quenby dan Rey terdiam memperhatikan Livian keluar dari pintu mobil dan menghampiri mereka berdua.
"Livian, ada apa kau datang ke sini?" tanya Quenby malas.
"Quen, aku mau minta maaf atas kebodohanku. Apa kau punya waktu?" tanya Livian.
"Aku sudah memaafkanmu, sudahlah lupakan. Aku tidak ada waktu untuk berbincang bincang. Suamiku butuh bantuanku secepatnya, dan dia lebih penting dari apapun. Karena Avram adalah nyawa buat putraku." kata Quenby tegas.
"Aku tunggu sampai kau ada waktu, tapi bolehkah aku membantumu?" tanya Livian.
"Tidak perlu!" sahut Quenby. "Ayo kita berangkat." Ajak Quenby kepada Rey.
Livian menghela napas panjang, memperhatikan Quenby masuk ke dalam mobil bersama Rey.
"Siapa Rey? kenapa dia bisa seakrab itu? dia datang di saat yang tepat seolah olah semua ini sudah di rencanakan." Gumam Livian pelan memperhatikan mobil milik Quenby meninggalkan halaman rumah.
***
Di kampus.
Semua siswa di kampus itu tidak ada yang berani mendekati Rafa, apalagi berteman. Menyapa pun mereka enggan karena takut.
Kesempatan emas itu tidak di sia siakan Aranza dan Valeri untuk mengolok olok Rafa, mereka berdua tidak ada kapoknya meski Rafa berkali kali membuat Aranza malu di depan teman teman sekampusnya.
"Elena!" panggil Rafa berlari menghampiri Elena yang tengah berjalan menuju pintu gerbang kampus.
Elena menoleh ke arah Rafa dan tersenyum. "Rafa, ada apa?" tanya Elena.
"Tumben, kau tidak menungguku?" tanya Rafa.
"Dia pulang bersamaku." Kata seorang pria menyela.
Rafa mengalihkan pandangannya kepada sosok pria yang lebih dewasa darinya.
"Kau siapa?" tanya Rafa mengerutkan dahi, menatap pria tersebut.
Rafa terdiam, melirik sesaat ke arah Elena, lalu kembali mengalihkan pandangannya kembali. "Oh, kau tunangan Elena?" ucapnya tidak mengerti.
"Sudahlah, dia tidak akan mengerti apa itu tunangan, apa itu cinta. Rafa masih anak anak." Timpal Elena sedikit ketus.
Rafa menoleh ke arah Elena, ia merasa ada yang aneh dengan sikap Elena. Tapi sampai saat ini ia belum mengerti.
"Rafa, aku pulang duluan!" seru Elena sambil bergelayut manja di lengan Alrick.
"Silahkan!" sahut Rafa tersenyum.
"Ayo!"
Elena menarik tangan Alrick, kemudian mereka berjalan bersama. Rafa memperhatikan tanpa berkedip, entah mengapa kali ini ada yang beda dengan hati Rafa. Tetapi ia masih belum mengerti kenapa.
"Apa kau tidak cemburu?"
Rafa menoleh ke samping menatap ke arah Valeri yang berdiri di sampingnya.
"Cemburu?" tanya Rafa balik.
"Ya, cemburu? apa kau tidak merasakan cemburu melihat Elena bersama pria lain?" tunjuk Valeri ke dada Rafa.
"Aku tidak tahu apa itu cemburu, sama sekali tidak mengerti maksudmu. Lalu? kenapa kau memberitahuku?" tanya Rafa lagi.
"Tidak ada!" sahut Valeri. "Rafa.."
"Ya?"
"Maafkan atas sikapku selama ini, maukah kau memaafkanku?" tanya Valeri.
"Lupakan!" sahut Rafa, lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran, di ikuti Valeri.
"Rafa!"
"Apalagi?" Rafa menoleh.
"Terima kasih, kau mau memaafkanku."
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu mengambil helm di atas motor. "Kenapa kau masih di sini?" tanya Rafa bingung.
"Tidak apa apa, maaf. Aku pergi dulu!" Valeri tersenyum sekilas, lalu berlari meninggalkan Rafa di area parkiran.
Baru saja Rafa hendak menggunakan helmnya, seorang pria menggunakan topi hitam lebar, mantel hitam pakaiannya serba hitam muncul di hadapannya. Pria itu berdiri dengan sorot mata tajam.
"Selamat siang Tuan Muda." Pria itu melepas topinya, membungkukkan badan.
"Siapa kau?" tanya Rafa menatap kedua bola matanya terlihat putih yang sebelah kanan, mirip mata boneka. Wajahnya yang kanan terlihat sangat rusak akibat siraman air keras. Siapapun yang memandang wajah pria tersebut pasti akan lari ketakutan.
"Jimi.." tangan kanannya terulur sambil menggunakan topinya lagi.
"Jimi?" Rafa hanya menatap tangan pria tersebut.
"Tuan muda pasti tidak mengenalku, tapi aku mengenal kakekmu." Kata Jimi.
"Oya?" sahut Rafa.
"Tentu saja Tuan Muda. Dulu, aku pengacara sekaligus orang kepercayaan Tuan Yong Ma." Ungkap Jimi.
Rafa menganggukkan kepalanya, menatap serius ke arah Jimi.
"Baiklah, aku percaya padamu. Bagaimana kalau kau bertemu dengan kakekku?" usul Rafa.
"Terima kasih Tuan Muda, sampaikan saja salamku kepada Tuan Alfarezi. Katakan, Jimi sudah kembali." Katanya.
"Baiklah, sekarang kau minggir. Aku mau pulang!" sahut Rafa, lalu menggunakan helm, naik ke atas motor.
"Hati hati Tuan muda!" seru Jimi tersenyum.
Rafa melirik sekilas, lalu menyalakan mesin. "Terima kasih!" sahut Rafa lalu melajukan motornya.
"Anak yang cerdas, lawanmu seimbang Nak." Gumam Jimi.