
Sesampainya di rumah, Rafa di kejutkan dengan pesta ulang tahun yang di buat Quenby untuk Rafa. Ia tidak menyangka ternyata Quenby tidak melupakan hari ulang tahunnya.
Mata Rafa berbinar menatap ke arah Elena yang terlihat sangat cantik dengan gaun warna biru langit. Ada Audrey dengan gaun hitamnya melambaikan tangan ke arah Rafa. Ada juga temannya yang lain termasuk si gendut yang bernama Chak Kweh, sahabat Rafa juga.
Rafa mengalihkan pandangannya pada Livian dan Anna yang berdiri sejajar di antara teman temannya. Rafa menarik napas panjang, mendesah kecewa dan raut wajahnya berubah murung.
"Selamat ulang tahun sayang!" kata Quenby berdiri di hadapan Rafa merentangkan kedua tangannya.
"Momy!!" seru Rafa menubruk tubuh Quenby dan memeluknya erat. Air mata yang sejak tadi ia tahan, akhirnya tak dapat Rafa bendung lagi.
Quenby mengerutkan dahi mendekap erat tubuh Rafa. Mengapa Rafa menangis? seharusnya ia bahagia dengan pesta yang sudah Quenby siapkan. Ada apa dengan Rafa? apa yang salah? pikir Quenby.
Bukan ada yang salah. Tidak sama sekali, Rafa menangis karena Ibunya. Quenby lah yang membuat Rafa merasa hatinya semakin hancur. Bukan pesta ulang tahun yang megah, Rafa inginkan. Tapi sedikit kebahagiaan untuk Ibunya, dan kehidupan yang normal. Namun lagi dan lagi kenyataan telah menyeretnya semakin jauh kedalam jurang kekecewaan.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Quenby dengan nada bergetar, mencium rambut Rafa berkali kali.
"Tidak Momy..kau tidak salah.." jawab Rafa.
"Lalu? apa yang membuatmu menangis?" tanya Quenby, seraya melepas pelukannya. Menangkup wajah Rafa dengan mata berkaca kaca.
Rafa membalas tatapan kedua bola mata Quenby. Ada sesuatu yang telah melukainya sangat dalam, dan Rafa bisa merasakan itu. Quenby selalu berkata 'aku baik baik saja' kepada anaknya. Karena memang setiap Ibu akan berkata seperti itu kepada putra putrinya.
"Momy.." ucap Rafa lirih lalu memeluk erat tubuh Quenby.
"Rafa, selamat ulang tahun!" ucap Anna.
Rafa dan Quenby menoleh ke arah Anna yang memegang kue ulang tahun dengan lilin angka 12 menyala di atas kue. Rafa melepaskan pelukannya, lalu berjalan selangkah mendekati Anna. Semua orang yang ada di ruangan tersenyum dan bertepuk tangan. Mereka berpikir kalau Rafa akan meniup lilinnya. Namun sebaliknya apa yang di lakukan Rafa, membuat semua temannya ketakutan kecuali Elena dan Audrey.
"Aku tidak sudi!" seru Rafa, sambil menepis kue ulang tahun di tangan Anna hingga jatuh ke lantai berserakan.
"Rafa!" pekik Quenby. "Ada apa denganmu? dia gurumu. Kau harus menghormatinya.
Quenby menarik tangan Rafa ke belakang, namun ia menepisnya. Lalu berjalan ke sana kemari menghancurkan semua dekorasi ulang tahun hingga hancur berantakan. Teman teman Rafa berlarian keluar rumah termasuk Audret, namun tidak dengan Elena.
"Rafa hentikan!" pekik Quenby berjalan menghampiri Rafa.
"Plakk!!" Quenby melayangkan tamparan ke wajah Rafa. Tidak terlalu kencang, tapi cukup membuat hati Rafa sakit.
"Quen cukup! kau yang keterlaluan. Kau sama sekali tidak peka dengan putramu sendiri!" timpal Karina.
"Ibu? apa salahku?" tanya Quenby.
"Apa maksud ibu? kenapa aku harus menceraikan suamiku??" tanya Quenby bingung.
"Kau harus tahu kebenaran ini, lebih baik kau tahu dari sekarang!" kata Karina marah.
"A, appa?" tanya Quenby bingung.
"Ini!" Ava maju dan menunjukkan obat milik Quenby yang selama ini di konsumsinya.
"Apa maksud Ayah? bukankah ini?" Quenby mengambil botol obat di tangan Ava.
"Keputusan ada di tanganmu, tapi sebelum kau ambil keputusan ada yang harus kau ketahui." Ava menarik napas dalam dalam, lalu menceritakan apa yang tadi Rafa katakan sebelumnya.
"Benarkah itu Rafa?" tanya Quenby.
"Jangan tanya aku, Momy. Tapi tanyakan kepadanya!" tunjuk Rafa ke arah Livian.
Quenby menoleh ke arah Livian, menatap tajam. "Jelaskan padaku!!"
"Quen, tenanglah!" sahut Livian. "Baik, aku akui. Tapi, aku harap kau jangan salah menilaiku. Aku sangat mencintaimu, sangat mencintaimu."
Livian menarik napas dalam dalam. Lalu menceritakan kejadian mengapa antara dirinya dan Anna ada hubungan.
Awalnya Livian sering bertemu karena di telpon oleh Anna yang ingin membicarakan tentang sikap Rafa yang terlihat aneh. Livian sama sekali tidak tahu kalau Anna menyukainya hingga di suatu hari, saat mereka ada di sebuah kelab malam. Livian mabuk berat bersama Anna, entah siapa yang sudah menjebak mereka hingga terjadilah kesalahan itu. Anna sekarang hamil, dan Livian harus mempertanggung jawabkannya.
"Aku tidak bohong, ada seseorang yang menaruh obat di minumanku." Kata Livian di akhir cerita.
Namun hati Quenby sudah di selimuti amarah dan rasa sakit yang luar biasa karena telah di khianati. Quenby tidak mau lagi mendengar pembelaan Livian.
"Besok aku urus sendiri surat perceraian, sekarang kalian pergi dari rumahku! cepat pergi!!" tunjuk Quenby ke arah pintu.
"Quen.." kata Livian.
"Pergi!!"
Anna sengaja menarik tangan Livian lalu menyeret paksa keluar dari rumah. Quenby berlari ke kamarnya dan membanting pintu cukup keras. Karina dan Ava terdiam dan membiarkan Karina untuk tenang sebelum mereka mengajak bicara Quenby.
Rafa terisak, hatinya hancur berkali kali menyaksikan peristiwa yang tidak mengenakkan hati. Dari dalam ia hancur, tapi dari raut wajah Rafa terlihat tenang, terukir senyim sinis di sudut bibirnya. Raut wajah yang tak terbaca, sikap tenang Rafa seperti air yang tenang namun dari dalam mampu menenggelamkan apa saja.