
Pagi pagi sekali Rafa terbangun, ia mendapati Elena masih tertidur pulas di sampingnya. Perlahan ia bangun lalu turun dari atas tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi.
Saat Rafa tengah membersihkan diri. Tiba tiba pintu kamar mandi terbuka, Elena masuk ke dalam kamar mandi dan memeluk Rafa dari belakang, tubuhnya ikut kebasahan oleh air shower.
"Elena?" Rafa balik badan, menghadap kearah Elena yang terus memeluknya. "Jangan lakukan lagi, aku sudah sangat bersalah Elena."
"Ssttt!" Elena meletakkan satu jarinya di bibir Elena. "Kau tidak salah, aku yang menginginkannya."
"Aku akan bicara jujur sama momy and Dady. Aku akan bertanggung jawab untuk menikahi kau, Elena." Ucap Rafa merasa tidak enak.
"Hei, tenanglah. Aku percaya padamu, Rafa." Jawab Elena tersenyum.
Rafa terdiam membiarkan Elena menyentuh tubuh Rafa. Akhirnya Rafa pun kembali tergoda, dan mereka melakukannya lagi di kamar mandi.
Satu jam berlalu, akhirnya mereka telah selesai dengan dirinya masing masing. Lalu memutuskan untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan Rafa fokus menyetir, dan Elena diam tak bicara sepatah katapun. Hingga tak terasa mereka telah sampai di rumah.
"Sayang, kau dari mana? kenapa tidak pulang kerumah, kalian baik baik saja?" tanya Quenby menatap cemas keduanya.
"Mom..Dad..aku...?" Rafa menundukkan kepalanya.
"Tante, Om, maafkan aku. Semua salahku." Elena memotong ucapan Rafa. "Aku mengajak Rafa jalan jalan melihat keindahan kota Jakarya di malam hari. Tapi kami malah tersesat, keluar dari kota Jakarta. Akhirnya kami muter muter tante."
Rafa menoleh ke arah Elena, ia tidak menduga kalau gadis itu akan menutupi kejadian semalam. Bahkan Rafa tidak melihat raut wajah bingung atau takut seperti yang Rafa rasakan saat ini.
"Ya ampun, kenapa kalian tidak memberitahuku!" timpal Avram menepuk keningnya sendiri.
"Maafkan kami.." ucap Elena.
"Elena, apa kau tidak menyesal dengan apa yang kita lakukan?" bisik Rafa.
Elena menggelengkan kepala. "Karena aku sangat mencintaimu, dan aku tahu kau akan bertanggung jawab." Jawab Elena tersentum lalu melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya.
Rafa duduk di kursi, ia memikirkan maksud Elena.
"Kenapa Elena mau melakukan ini semua?" tanya Rafa dalam hati. "Ah,bodohnya aku dalam soal seperti ini."
***
Sejak kejadian di hotel itu. Elena dan Rafa semakin dekat, kemana mana mereka berdua, di kampuspun mereka selalu berdua. Rafa semakin sayang dan tumbuh rasa cinta yang besar untuk Elena.
Begitu juga dengan Elena, setiap malam tiba selalu mencuri kesempatan untuk berdua dengan Rafa dan melakukan hal itu lagi dan lagi.
Hingga akhirnya Rafa memutuskan untuk bicara jujur kepada orang tuanya. Ia berniat menikahi Elena meski masih kuliah.
Semalaman Rafa berpikir keras, duduk di depan cermin dengan tatapan tajam, memperhatikan pantulan wajahnya di cermin.
"Aku tahut Elena hamil, tapi sampai saat ini Elena masih baik baik saja." Gumam Rafa.
"Sebaiknya aku menikahi Elena secepatnya sebelum hal yang tidak di inginkan terjadi."
Rafa terus memikirkan hal itu, tapi ada yang membuat dia bingung dengan sikap Elena. Saat ia benar benar mencintai, Rafa tidak menemukan cinta yang dulu Elena miliki untuknya. Yang Rafa rasakan saat ini hanyalah kepuasan saja. Namun apapun itu, Rafa tetap akan bertanggung jawab dan menepis semua keraguannya.