PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Segalanya telah hilang.


Satu minggu minggu sudah, Rafa terus membayang bayangi Nathan. Pagi ini, Rafa terlihat begitu serius tapi, duduk dengan manis di kursi meja makan berhadapan dengan Elena. Avram sibuk dengan ponselnya, Quenby yang asik menikmati sarapannya. Sementara Elena dan Rafa saling menatap tajam penuh kebencian dan dendam.


"Aku dengar Nathan mati gantung diri?" tanya Quenby, menoleh ke arah Elena.


"Iya Tante!" sahut Elena.


"Apa selama ini, Nathan punya masalah berat sampai harus bunuh diri?" tanya Quenby lagi seraya melirik ke arah Avram yang masih sibuk dengan ponselnya.


"Kalian selalu berisik! lama lama aku bosan!" sela Avram lalu berdiri dan beranjak pergi begitu saja.


"Kau mau kemana sepagi ini?!" tanya Quenby menatap punggung Avram. Namun Avram tidak memperdulikan Quenby.


Quenby menarik napas dalam dalam, lalu ia kembali melanjutkan perbincangan yang sempat terputus.


"Di berita, tidak hanya Nathan yang gantung diri. Tapi ada dua orang yang mati di kamar lain saling menembak satu sama lain, tapi wajahnya rusak dan tidak di kenali. Memangnya selain Nathan, siapa lagi yang tinggal di rumah itu?" lagi lagi Quenby bertanya.


Namun jawaban Elena tetaplah sama, kalau dia tidak tahu apa apa. "Sebenarnya kau putri siapa Elena?"


Kali ini, pertanyaan Quenby, mengejutkan Elena. "Aku..aku anak angkat-?" Ucapan Elena terpotong oleh Rafa yang lebih dulu bicara.


"Elena adalah cucu Tante Zahra. Dan Elena putri dari Reegan dan Yupi, hasil hubungan terlarang. Kemudian tante Zahra menyembunyikan kebenaran itu, Elena di titipkan kepada Paman She blak. Karena Yupi masih sekolah, jadi mereka menunda pernikahan sampai lulus sekolah. Tapi sayang, mereka lebih dulu mati karena sudah menghancurkan tante Keiko!"


"Uhukkk!!" Quenby terbatuk, menatap ke arah Elena.


"Apakah itu benar Elena?!" tanya Quenby menatap tajam.


"Ini buktinya!" sela Rafa lalu mengeluarkan sebuah dokumen yang berisi tentang identitas Elena yang selama ini di sembunyikan.


"Jadi, selama ini kau menipuku!"


Elena hanya diam, sama sekali tidak ada raut wajah penyesalan ataupun rasa takut.


"Kalau itu benar, kenapa Tante?" Elena menoleh ke arah Quenby lalu berdiri. "Kau yang telah menyebabkan kedua orang tuaku mati, nenekku hidupnya sengsara di rumah bordir!"


"Elena! kau tahu apa tentang mereka! keluargamu tidak lebih segerombolan penjahat dan penipu!!" bentak Quenby.


"Tutup mulutmu Tante!!" pekik Elena marah.


"Kau? berani sekali membentakku, anak tidak tahu terima kasih. Sekarang juga pergi dari rumahku!"


"Tidak perlu kau mengusirku, aku bisa pergi sendiri tanpa kau suruh!" Elena balik badan, melangkahkan kakinya menuju kamar dan mengemasi semua pakaiannya. Tak lama kemudian, ia keluar dari kamarnya dan meninggalkan rumah Quenby.


"Rafa..maafkan aku." Kata Quenby. "Selama ini tidak mempercayaimu."


Rafa tersenyum samar, lalu berdiri. "Terlambat Mom, asal kau tahu. Keluarga kita sudah hancur, tidak ada yang bisa di perbaiki lagi."


"Apa maksudmu? apa kau tidak mau memaafkanku?" tanya Quenby mendekati Rafa.


"Kata maafku tidak bisa merubah sesuatu yang sudah rusak dari dalam. Permintaan maafmu, mom? sudah terlambat. Kau tidak hanya kehilanganku, tapi telah kehilangan suamimu sendiri." Ungkap Rafa, lalu balik badan dan beranjak pergi.


"Apa maksudmu, Rafa?" gumam Quenby.