PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Terbongkar


Sesampainya di rumah sakit, Rafa menepikan motornya, lalu Elena dan Rafa turun dari atas motor. Keduanya berdiri menatap ke arah rumah sakit yang terlihat mulai sepi pengunjung.


"Rafa, kau datang ke sini mau menemui Bu Anna? tanya Elena. "Buat apa? biarkan saja wanita itu sakit. Buat apa juga kau peduli padanya."


"Kau diam dan jangan banyak bicara, ikuti saja perintahku. Oke?" ujar Rafa.


"Baiklah, aku ikuti apapun maumu." Jawab Elena.


Kemudian mereka berjalan bersama memasuki rumah sakit. Kemudian mereka menyusuri lorong rumah sakit, menuju lantai dua lewat tangga darurat menuju kamar 07 sesuai informasi yang ia dapatkan dari Avram.


Sesampainya di lantai dua, mereka bergegas menuju kamar 07. Tepat di depan pintu 07, mereka berdua berhenti. Rafa mengintip dari balik kaca jendela, nampak Livian tengah berada di dalam bersama dua pria yang tak di kenal. Anna sendiri nampak duduk di atas tempat tidur dalam keadaan menangis.


"Apa yang sebenarnya terjadi? aku harus mencari tahu. Tapi bagaimana caranya?" ucap Rafa dalam hati.


"Rafa ada apa?" tanya Elena.


"Sst diamlah!" rafa meletakkan satu jarunya di bibir Elena membuat gadis itu tersenyum bahagia. Rafa hanya menggelengkan kepala melihat sikap Elena yang seperti itu. Kemudian ia kembali alihkan pandangannya ke dalam ruangan.


Nampak Anna turun dari atas tempat tidur lalu duduk di atas kursi roda. Terlihat Livian mendorong kursi roda, di ikuti dua pria tersebut. Rafa bergegas menarik tangan Elena dan bersembunyi di balik tembok.


"Mau kemana mereka?" tanya Rafa dalam hati.


Kemudian Rafa dan Elena mengikuti mereka dari jarak yang lumayan jauh supaya tidak ketahuan. Tak lama kemudian mereka telah sampai di area parkiran. Rafa meminta Elena untuk menunggunya di halaman rumah sakit di mana motornya terparkir. Tanpa ada bantahan, Elena bergegas pergi meninggalkan Rafa sendirian mendengarkan percakapan antara Livian, Anna dan kedua pria tersebut.


"Kau harus menikahi Anna! dia putriku satu satunya!" ancam salah satu pria yang berkepala plontos.


"Tuan Yama, aku tidak mencintai Anna. Kau tahu, aku sudah memiliki istri yang sangat aku cintai. Yang terjadi pada kami, bukan kesengajaan. Waktu itu kami sama sama dalam keadaan mabuk." Ungkap Livian.


"Ingat Livian. Kau tahu siapa aku bukan? dengan sangat mudah aku usir mereka dari kota ini dan kupastikan keluargamu tidak di terima di kota manapun. Jika kau tidak menikahi putriku, nyawa keluargamu taruhannya." Ancam Yama, yang tak lain ayah dari Anna.


"Anna, katakan sesuatu. Aku mencintai Quenby, dan aku sangat berdosa telah mengkhianatinya. Aku tidak mencintaimu Anna, kau yang membuatku mabuk." Pinta Livian.


"Berani sekali kau menolak putriku! kau tahu dia sedang mengandung anakmu!!" Yama mencengkram kerah baju Livian, sementara Anna hanya menangis tanpa bicara sepatah katapun.


"Sekarang juga, bawa Anna ke rumahmu. Urus dia atau kau terima akibatnya!!" ancam Yama.


Rafa yang sedari tadi diam dan bersembunyi, akhirnya tak dapat menahan emosi lagi. Ia keluar dari persembunyian dan berjalan mrnghampiri mereka sambil bertepuk tangan.


"Plok plok plok!!"


Livian dan yang lain menoleh ke arah suara, ia terkejut melihat kedatangan Rafa yang tiba tiba.


"Ya, aku sudah mendengar semuanya. Sudah kuduga dari sejak awal. Kau memang tidak beres, Livian!" seru Rafa dengan nada kasar.


"Dan kau botak!" tunjuk Rafa ke arah Yama. "Kau pikir aku takut?" Rafa menepuk dada kirinya berkali kali.


"Buk buk buk!"


"Rafa! putra ketua naga hitam. Dan putra Dad Avram. Tidak akan mundur apalagi nyaliku menciut dengan ancamanmu, botak!!" ledek Rafa.


"Anak kecil! kau pikir siapa hah??" balas Yama dengan raut wajah mencemooh.


"Dia!" Rafa menunjuk ke arah Livian. "Bisa kau ancam, kau manfaatkan bahkan kau anggap kacung! tapi tidak denganku, sampai mati akan kuperjuangkan akan kubela hak ibuku! dan kau wanita brengsek!" tunjuk Rafa ke arah Anna.


"Kau memang cantik, anggun, lembut, tapi kau ular!! dan aku paham satu hal. Sebagus apapun kau bungkus kecantikanmu dengan pakaian dan aksesoris, busuk tetaplah busuk!"


Anna hanya bisa diam dan semakin terisak mendapat makian dari Rafa. Membuat Yama geram dan memerintahkan anak buahnya yang sedari tadi diam untuk menutup mulut Rafa.


"Kemarilah, aku tunjukkan arah kematianmu!" tantang Rafa.


"Yama hentikan! dia hanya anak kecil!" cegah Livian.


"Diam kau Livian. Aku tidak tahu lagi cara menghormatimu. Tapi jangan salahkan aku kalau aku sudah tidak memiliki rasa hormat lagi padamu!" seru Rafa menunjuk ke arah Livian.


"Kau terlalu banyak bicara anak kecil!" kata pria itu meremehkan Rafa. Ia kepalkan tunju ke wajah Rafa namun apa yang sebaliknya terjadi. Rafa menangkis kepalan tinju pria itu, kaki kananya menendang perut pria tersebut lalu memutar tangannya dan membanting pria itu ke lantai.


"BUKKK!!"


"Ini anak buahmu, botak?" ledek Rafa.


"Kau?" ucap Yama geram


"Ingat botak, berani melukai ibu dan keluargaku, kupastikan kau mati secepatnya. Dan kau Anna, tinggallah bersamaku, aku menerimamu di rumahku dengan tangan terbuka." Ungkap Rafa dengan nada sinis dan senyum penuh arti.


"Kau! tunjuk Rafa ke arah Livian. "Silahkan kau bawa Anna ke rumah. Percuma kau sembunyikan Anna di tempat lain, karena aku! aku akan menjadi setan pencabut nyawa bagi kalian!!" ancam Rafa.


Perlahan Rafa berjalan mundur, lalu balik badan dan berlari meninggalkan mereka. Yama dan anak buahnya masuk ke dalam mobil meninggalkan area parkiran.


Tinggallah Livian yang kebingungan, ia tidak tahu harus bagaimana. Di tambah lagi Rafa sudah mengetahuinya, pikiran Livian semakin kalut, ia berteriak histeris membuat Anna semakin kencang menangis.