
Malam pukul 19,30.
Quenby sudah tertidur pulas setelah mengkonsumsi obat obatan. Sementara Rafa tidak dapat memejamkan matanya, ia masih memikirkan tentang Anna.
Perlahan Rafa bangun lalu turun dari atas tempat tidur. Menggunakan sepatunya lalu meraih jaket yang tergeletak di atas meja. Ia berjalan keluar sambil mengenakan jaketnya menuju halaman rumah.
"Tuan muda, kau mau kemana?" tanya Acar yang sedang berkumpul bersama anak buah Quenby yang berjaga di halaman.
"Paman, aku pergi sebentar. Aku minta kalian rahasiakan kepergianku malam ini. Kalian paham?" pesan Rafa kepada Acar dan yang lain.
"Tuan perlu di antar?" tanya Acar lagi.
"Tidak perlu paman, terima kasih!"
Rafa naik ke atas motor, menggunakan helm lalu menyalakan mesin. Kemudian ia melajukan motornya meninggalkan rumah menuju rumah sakit di mana Anna di rawat.
Namun siapa sangka, rumah Quenby telah di awasi beberapa pasang mata yang mengintai. Melihat Rafa keluar menggunakan sepeda motor, dari arah belakang tiga motor mengejarnya dengan kecepatan tinggi.
Dari kaca spion, Rafa bisa melihat dengan jelas ada beberapa motor yang mengikutinya dari belakang. Awalnya Rafa tidak menaruh curiga. Namun semakin lama, pengendara motor itu semakin berusaha memepetnya dari sisi kiri dan kanan. Rafa semakin melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, begitu juga pengendara motor yang membuntutinya.
"Aku harus membawa mereka ke tempat sepi, supaya aku bisa leluasa menghabisi mereka." Ucap Rafa dalam hati.
Rafa memutar arah ke kiri, ke jalan yang sangat jarang sekali di lalui pengendara. Nampak jelas ada sepuluh pengendara motor yang mengikutinya.
Di ujung jalan Rafa membalikkan motornya, lalu diam memperhatikan musuh yang smakin mndekat. Tatapan matanya tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya.
"Greeenggggg!!!
Motor milik Rafa melaju dengan kecepatan tinggi menyambut kedatangan musuh.
"Brakkkkk!!"
Motor saling beradu antara musuh dan motor miliknya. Kembali Rafa memutar arah motor, melirik sekilas ke arah dua motor yang terpental jauh akibat tabrakan tadi.
"Brakkkk!!!
"Bukkk!!!
Kembali Rafa menabrak tiga motor sekaligus, bersamaan kaki kanannya menerjang tubuh musuhnya yang berada di atas motor. Tersisa lima musuh lagi.
"Grengggg! Greeenggg!!!
Kelima musuhnya mulai mengepung Rafa, mereka berputar putar mengelilinga. Tatapan waspada memperhatikan gerakan musuh.
Di saat bersamaan dari arah lain muncul satu motor dengan kecepatan tinggi menabrakkan motornya ke arah musuh, bersamaan dengan motor milik Rafa bertabrakan dengan musuh.
"Brakkkk!!
"Rafa!" seru suara perempuan yang tak lain adalah Elena.
"Elena?" ucap Raffa lalu bangun dan berusaha untuk berdiri.
"Rafa, kau tidak apa apa?" tanya Elena berjalan tertatih mendekati Rafa.
"Kau ada di sini? bagaimana kau tahu?" tanya Rafa.
"Kau tidak perlu tahu bagaimana caranya, yang terpenting kau sudah selamat." Kata Elena sambil memegang lututnya yang terasa sakit.
"Sebaiknya kita pergi dari sini!" ajak Rafa.
Namun dari arah belakang seorang pria yang masih hidup, berdiri dan melayangkan helm ke arah Elena. Dengan sigap Rafa menarik tubuh Elena dan memeluknya erat.
"Bukkk!"
Satu kepalan tangan Rafa menghantam wajah pria itu hingga ambruk dan tak sadarkan diri. Rafa bernapas lega berhasil melumpuhkan musuh, sementara Elena senyum senyum sendiri di dalam pelukan Rafa.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Rafa mengerutkan dahi menatap wajah Elena yang terlihat malu malu.
"Tidak apa apa, aku senang kau memelukku." Kata Elena tidak mau melepaskan pelukan Rafa.
Rafa semakin bingung dengan sikap agresif Elena. Ia menatap kedua bola mata Elena penuh dengan tanda tanya. Berbeda dengan tatapan Elena yang di penuhi rasa cinta.
"Hei, kau baik baik saja?" tanya Rafa. Namun Elena mengabaikan dan semakin mendekatkan wajahnya. Rafa menarik wajahnya menghindari kontak dengan Elena.
"Kenapa kau menolakku?" tanya Elena kesal lalu melepaskan pelukan Rafa dengan raut wajah cemberut.
"Menolak? memangnya kau mau apa?" tanya Rafa.
"Lupakan!" seru Elena balik badan.
"Ayo kita pergi dari sini." Ajak Rafa lalu memberikan helm pada Elena. "Pakai, kita kerumah sakit. Itu juga kalau kau mau ikut."
"Aku ikut!" sahut Elena kesal, kemudian memakai helmnya. Rafa naik ke atas motor, di ikuti Elena.
"Pegangan yang erat!" perintah Rafa.
Tanpa di mintapun sudah pasti akan memeluk Rafa dengan erat, kemudian mereka meninggalkan lokasi menuju rumah sakit di mana Anna berada.