
Sesampainya di rumah, Rafa bergegas menemui Ava yang baru saja pulang dari rumahnya mrngambil data data keluarganya.
"Kakek sedang apa? tanya Rafa, sambil duduk di kursi meja makan, memperhatikan kakeknya yang tengah membuka file.
"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Ava melirik sekilas ke arah Rafa.
"Sudah Opa!" sahut Rafa. "Opa, boleh aku bertanya?"
"Tentu sayang." Jawab Ava menyimpan file itu kembali lalu melepas kaca matanya.
"Siapa Jimi?" tanya Rafa. "Maksudku, apakah Opa pernah memiliki pengacara bernama Jimi?"
"Oh Jimi?" Ava tersenyum, menatap wajah Rafa. "Dulu Paman Jimi adalah orang kepercayaan Papaku, dia juga yang di percaya mengurus semua perusahaan selama aku berada di Indonesia."
Ava mulai menceritakan sosok Jimi kepada Rafa. Selain Pengacara, Jimi banyak membantu Yong Ma dalam segala hal. Jimi juga yang banyak jasanya teehadap Yong Ma dan keluarga kecil Ava dulu.
"Tapi, Paman Jimi mengundurkan diri. Dia pindah ke Negara lain bersama anak dan istrinya. Kabar terakhir yang kuterima, dia memiliki seorang putri lagi. Kalau sekarang, mungkin putrinya seusia Keiko. Tapi sayang, seingatku Jimi mengalami kecelakaan. Setelah itu, aku tidak mendapat kabar apa apa lagi." Jelas Ava di akhir ceritanya.
Rafa menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. "Terima kasih Opa!" sahut Rafa.
"Dari mana kau tahu? dengan nama Jimi?" tanya Ava heran.
"Tidak ada Opa, tadi aku bertemu dengan pria bernama Jimi yang mengaku pengacara Opa dulu." Jawab Rafa lalu beranjak dari kursi.
"Jimi? menemuimu? aneh, kalau memang dia masih hidup, kenapa tidak datang menemuiku?" tanya Ava bingung.
"Entahlah Opa!" sahut Rafa lalu beranjak pergi dari hadapan kakeknya menuju kamar pribadi.
Sesampainya di kamar, Rafa naik ke atas tempat tidur. Berbaring dan mencoba untuk tidur siang. Matanya terpejam, namun wajah Elena tiba tiba muncul di benaknya. Rafa kembali membuka matanya, teringat kata kata Elena di kampus yang mengatakan kalau dirinya hanyalah anak kecil.
"Aku bukan anak kecil lagi, Elena. Aku sudah besar sekarang." Gumam Rafa pelan, menatap langit langit kamar. Matanya kembali terpejam, namun bayangan wajah Elena enggan pergi dari pikirannya.
Rafa bangun dan turun dari atas tempat tidur, berjalan menuju cermin. Menatap wajah dan tubuhnya sendiri di cermin.
"Aku sudah besar, bukan anak kecil lagi seperti yang kau bilang Elena."
Entah mengapa, untuk pertama kalinya Rafa merasa terganggu dengan sosok Elena. Kemudian ia menghampiri lemari pakaian. Memilih kaos hitam dan celana jeans, lalu ia mengganti pakaiannya.
"Kau lihat, aku sudah besar." Ucapnya pelan menatap pantulan bayangannya di cermin.
Kemudian Rafa mengikat rambutnya yang gondrong sembarangan. Mengambil jaket lalu menggunakannya. Rafa memutuskan untuk menemui Elena di rumahnya dan mengajaknya makan siang.
Setelah selesai, Rafa bergegas keluar rumah. Mengendarai motornya menuju rumah Elena. Namun, sesampainya di rumah Elena. Rafa tidak menemukan gadis itu. Menurut salah satu asisten rumah tangganya kalau Elena tengah pergi makan siang bersama tunangannya di restoran ternama di kota tersebut.
Sesampainya di halaman restoran tersebut, Rafa menepikan motornya. Lalu melepas helam, turun dari atas motor dan bergegas memasuki restoran itu.
Di dalam restoran, Rafa memperhatikan setiap pengunjung dan tiap sudut ruangan. Namun tidak ada Elena di ruangan tersebut. Rafa krmbali melangkahkan kakinya mencari keberadaan Elena di ruangan lain. Dan benar saja, Elena dan Alrick berada di ruangan berbeda dengan pengunjung lain, dan di ruangan itu hanya ada Elena dan Alrick saja.
Napasnya naik turun memperhatikan kemesraan mereka di balik kaca jendela. rafa bergegas membuka pintu ruangan dan menghampiri mereka berdua.
"Elena!" sapa Rafa.
Elena menoleh, ia terkejut dengan kedatangan Rafa lalu berdiri di ikuti Alrick.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Elena.
"Harusnya aku yang bertanya, kau sedang apa di sini? kenapa kau jalan bersama pria ini!" tunjuk Rafa ke arah Alrick.
"Hei, apa masalahmu? Elena tunanganku, wajar kalau dia bersamaku. Dan kau siapa? berani sekali mengacaukan makan siang kami." Timpal Alrick marah.
"Rafa, sebaiknya kau pulang." Pinta Elena.
"Pulang? kau itu kenapa Elena? kau melupakan janjimu, kau bilang akan selalu ada buatku." Ungkap Rafa menatap marah ke arah Elena.
"Rafa, itu dulu. Bukankah kau tidak mencintaiku? lalu apa masalahmu? aku bebas menentukan diriku sendiri. Kau tidak punya hak melarangku!" sahut Elena kesal.
Rafa hanya diam dengan tatapan tajam, detik berikutnya kaki kanannya menendang meja di hadapannya hingga terbalik. Semua makanan yang di atas meja berserakan di lantai.
"Brakkk! Prankkk!!"
"Rafa!" bentak Elena.
"Aku tidak suka kau makan siang dengan dia! aku tidak suka kau dekat dekat dengan dia!!" tunjuk Rafa ke arah Alrick. Lalu menarik tangan Elena dan menyeret paksa keluar dari restoran di ikuti Alrick dari belakang.
"Lepaskan Elena!" seru Alrick menarik bahu Rafa ke belakang lalu satu pukulan mendarat di wajah Rafa hingga pegangan tangannya terlepas.
"Bukkk!!"
Rafa membalas pukulan Alrick cukup keras, hingga darah segar mengalir di sudut bibir pria tersebut. Saat Rafa hendak meninju wajah Alrick lagi, Elena berdiri di hadapan Rafa dengan kedua tangan di rentangkan.
"Cukup Rafa! kau tidak punya hak apapun atas diriku!!" pekik Elena. "Jangan ganggu hidupku lagi, urus saja dirimu sendiri anak kecil!!"
Elena balik badan, menarik tangan Alrick dan berlalu begitu saja dari hadapan Rafa.
"Aku bukan anak kecil Elena, akan aku tunjukkan siapa aku.." gumam Rafa menatap punggung mereka berdua.