PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Bukti.


Sehari setelah lamaran Avram nyatakan. Quenby sudah memutuskan untuk menerima lamaran Avram dan segera menikah secepatnya setelah ia berdiskusi dengan kedua orang tuanya. Namun ada hal yang Quenby lupakan, yaitu Rafa. Meski Rafa sendiri sudah mengetahui alasan mereka untuk menikah, namun Quenby atau Avram tidak melibatkan Rafa dalam megambil keputusan besar itu.


Ya, tidak hanya Quenby dan Avram. Setiap orang tua akan mengambil keputusan besar atau kecil tanpa harus meminta persetujuan anak anaknya tanpa mereka sadari, apapun yang menjadi keputusan orang tua. Baik dan buruknya tetap akan berimbas kepada anak anaknya kedepan.


Saat ini mereka tengah membicarakan acara pernikahan yang akan di langsungkan dua hari ke depan. Quenby, Avram dan Rafa duduk di teras rumah. Mereka memutuskan untuk membuat acara pesta pernikahan sederhana yang akan di hadiri oleh anggota keluarganya saja.


Saat mereka tengah asik berbincang, dari arah gerbang masuk sebuah mobil mewah. Dan mereka sudah tahu siapa yang datang berkunjung. Nampak Livian keluar dari pintu mobil, di tangannya membawa beberapa dokumen.


"Aku ingin bicara dengan kalian berdua." Kata Livian tegas.


"Ada apa?" tanya Quenby berdiri di ikuti Avram, keduanya melangkah mendekati Livian.


"Aku dengar, kau akan menikah dengan Avram. Benarkah itu Quen?" tanya Livian dengan nada marah.


"Ya, kau benar!" sahut Quenby.


"Baik, kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi, sebelum kau menikah, aku ingin kau mengetahui sebuah kebenaran!" ucap Livian menaikkan satu level nada bicaranya.


"Kebenaran apa?" tanya Avram.


"Ini!" Livian menunjukkan ponselnya, lalu memutar sebuah rekaman video di mana terlihat Rafa ada di sekitar kelab malam. "Aku dapatkan dari cctv kelab, dimana malam itu aku dan Anna di jebak oleh putramu."


"Ini tidak mungkin!" seru Quenby tidak percaya.


"Apanya yang tidak mungkin? jelas dalam rekaman ini, Rafa lah yang sudah menjebakku dan membuat Anna keguguran. Dan asal kau tahu, bukti lain aku dapatkan." livian menyodorkan dokumen kepada Avram.


Avram mengambil dokumen di tangan Livian, kemudian ia membuka dan membacanya bersama Quenby. Di dalam dokumen tersebut menyatakan serangkaian peristiwa dan bukti bukti yang mengarah kepada Rafa. Di mulai dari psikiater yang terkena siraman air keras, bukti visum kematian Joy. Bahkan rekaman di depan toilet di mana saudara Joy meninggal di dalam toilet.


Avram dan Quenby matanya melotot, mulutnya menganga. Keduanya menoleh ke arah Rafa yang masih duduk tenang di kursi, seolah tidak terjadi apa apa.


"Benarkah kau yang melakukan ini semua, Rafa?! kau yang menjebak Ayahmu supaya berpisah denganku?!" tanya Quenby marah.


"Tenanglah Quen! tahan emosimu. Aku masih tidak percaya dengan semua ini, aku yakin bukan putraku yang melakukannya." Timpal Avram.


"Avram! apa kau buta? tidak bisa membaca dan melihat? bukti apalagi yang harus aku berikan? semua bukti sudah jelas kalau Rafa lah pelakunya. Dan anak itu gila!!" seru Livian marah bercampur cemburu.


"Tutup mulutmu!" ancam Avram. "Aku tidak percaya dengan omong kosong ini!"


"Aku tetap tidak percaya, kau boleh lakukan apapun untuk mendapatkan keadilan. Begitu juga aku, tetap akan membela dan melindungi putraku, apapun yang terjadi. Kau paham?!" Bela Avram menatap geram ke arah Livian karena tidak terima menganggap putranya gila.


"Baik, jika kau tidak percaya. Satu bukti lagi aku punya. Apa kau masih mau membantah?" Livian mengeluarkan sebuah rekaman cctv yang berada di rumah Quenby. "Lihat!!"


Livian menunjukkan rekaman lain di ponselnya lalu ia tunjukkan kepada Quenby dan Avram. Dalam rekaman itu Rafa terbukti yang telah menukar obat obatan terlarang dalam botol.


"Apa kalian masih mau menyangkalnya!" bentak Livian lalu mematikan ponselnya.


"Rafa.." ucap Quenby mengusap wajahnya sendiri.


"Aku tetap akan meneruskan kasus ini, bukan karena aku ingin melihat anak itu hancur. Tapi Rafa memang sudah sakit, di usianya yang masih anak anak mampu melakukan serangkaian pembunuhan berencana dan sangat rapi. Rafa harus segera di obati, jika tidak? akan ada banyak korban lagi berjatuhan." Livian mengingatkan. Setelah bicara seperti itu, Livian bergegas meninggalkan rumah Quenby.


"Rafa, apa benar kau yang melakukannya??!" tanya Quenby marah, matanya melotot ke arah Rafa.


"Apa yang Ayah Livian tunjukkan itu benar Mom..Dad..aku memang berada di kelab taoi bukan aku pelakunya. Aku memang membenci psikiater itu, tapi bukan aku pelakunya. Aku memang ingin membunuh Joy, tapi bukan aku pelakunya. Begitu juga dengan kakaknya Joy, aku memang memberinya pelajaran, tapi aku tidak membunuhnya. Waktu itu aku memang pergi ke rumah Oma Miyako tapi bukan aku yang menyebabkan Bu Anna terjatuh." Ungkap Rafa panjang lebar, tak terlihat sedikitpun raut wajah takut atau merasa bersalah.


Rafa tetaplah tenang meski Quemby terus menekannya untuk mengakui perbuatannya. Namun jawaban Rafa tetaplah sama, hingga akhirnya Quenby menyerah dan diam.


"Terserah Mom and Dad, percaya aku atau tidak." Timpal Rafa.


Sementara Ava dan Karina yang mendengarkan semuanya di balik tirai jendela hanya bisa diam dan tak dapat berkata apa apa lagi.


"Cinta memang menguatkan, tapi cinta juga melemahkan akal sehat." Kata Ava tiba tiba.


Karina mengerutkan dahi menatap wajah Ava. Tidak mengerti dengan ucapan suaminya. Kemudian mereka kembali mendengarkan percakapan Avram dan Quenby.


"Ayo, kita menikah sekarang juga demi melindungi putra kita. Tidak perlu acara pesta, Livian akan segera bertindak." Ajak Avram.


"Baiklah!" sahut Quenby.


Kemudian mereka meminta Ava untuk ikut bersama mereka. Setelah berdiskusi beberapa menit, kemudian mereka bertiga bergegas meninggalkan rumah. Karina memilih di rumah dan menjaga Rafa.


"Tidak ada yang perlu kujelaskan, semua terserah kalian.." ucap Rafa dalam hati.


Tersenyum menatap ke arah Karina yang memeluknya erat. Berusaha untuk tidak menangis, menahan semua gejolak emosi di dalam dada yang begitu menyesakkan dada dan tenggorokan Rafa, bagai di palu godam.