PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Rindu


Siang pukul 13:30.


Rafa baru saja keluar dari ruang kuliah. Berjalan dengan santai, dengan tatapan lurus ke depan. Tak memperdulikan teman sekampusnya yang memperhatikan.


Langkahnya terhenti di tepi jalan raya dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. Hari ini, untuk pertama kalinya Rafa harus naik angkutan umum untuk sampai ke rumahnya. Semua kemewahan yang ia miliki, di tinggalkan dan di percayakan kepada salah satu pengacara yang di percaya Quenby untuk mengelolanya.


"Kau menunggu apa?" tanya seorang pria yang tak lain adalah teman sekampusnya yang bernama Rangga.


Rafa menoleh ke arah Rangga yang berdiri di sampingnya bersama tiga temannya yang lain.


"Angkutan umum." Jawab Rafa singkat.


Rangga tertawa mencemooh sambil menepuk dada kawannya. "Angkot, pfffftttt."


"Ada masalah?" tanya Rafa menatap tajam ke arah Rangga dan tiga temannya.


"Tidak ada, gue pikir lo orang kaya, di lihat dari wajah dan penampilan lo. Ternyata kere juga, pffftttt!!" cela Rangga.


Rafa menanggapi dingin ucapan Rangga, dengan tatapan mata tak berkedip.


"Apa lo liat liat? kucongkel matamu!" Ancam Rangga dengan mengulurkan dua jari ke mata Rafa.


"Sudah Ga, kasian tahu. Nanti dia pipis di celana. Hahahahaha!" cemooh kawannya yang bertubuh kerempeng.


Lagi lagi Rafa hanya diam, menahan emosi di dalam dadanya. Ia alihkan pandangannya ke seberang jalan.


"Tiiiiittt!!"


Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Rafa. Seorang gadis keluar dari dalam mobil, gadis itu bernama Sekar yang sewaktu perkenalan meminta nomer ponsel Rafa, di susul temannya yang bernama Fiona.


"Hai Rafa, kau mau pulang bareng kami? tanya Sekar tersenyum manja ke arah Rafa.


"Tumben lo deketin cowok kere!" sindir Rangga kepada Sekar.


"Diam lo!" sahut Sekar bibirnya manyun, menatap tidak suka ke arah Rangga.


"Biarpun kere dia ganteng, keren.." sela Fiona sambil menangkup wajahnya sendiri menatap kagum ke arah Rafa.


"Halah bulsit, sana bawa cowok kere lo, sumpek gue lihatnya!" hina Rangga.


Rafa menarik napas panjang, menatap tajam ke arah Rangga. Lalu balik badan melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.


"Rafa! lo mau kemana?!" seru Sekar.


"Hahahaha! sudah kere, belagu pula!" teriak Rangga kesal karena tidak mendapat tanggapan dari Rafa.


Rafa terus melangkahkan kakinya menyusuri tepi jalan raya. Satu mobil melintas dengan di sampingnya. Tepat di jalan yang berkubang penuh dengan air karena semalam hujan deras. Air kubangan menyiprat kepakaian Rafa hingga wajahnya ikut basah.


"Hahahaha, mampus lo!" kepala Rangga menyembul dari kaca jendela mobil meneriaki Rafa.


"Tenang Rafa, kau harus tenang." Ucapnya menenangkan diri sendiri.


***


Sesampainya di depan gerbang rumahnya, lalu membuka pintu gerbang, seseorang menyapanya. Pria itu adalah Pramudya dan Sumarni yang tak sengaja lewat di depan rumah Quenby.


"Nak, sepertinya kau baru di sini? aku baru melihatmu?" tanya Pramudya.


"Iya Paman, ada apa?" tanya Rafa balik.


"Rafa! kau bicara dengan siapa Nak!" seru Karina dari teras rumah berjalan menghampiri mereka.


"Ka, karina?" ucap Pramudya pelan. Namun jelas terdengar oleh Rafa.


"Mas Pram?" sapa Karina menatap tajam ke arah Pramudya dan Sumarni.


"Kau disini?" tanya Pramudya.


"Iya mas, oya kenalkan ini cucuku Rafa." Kata Karina.


"Cucu? jadi kau sudah punya anak?" tanya Pramudya.


"Tentu saja!" sahut Rafa menyela. "Oma, ayo kita masuk!" ajak Rafa menarik tangan Karina lalu melangkah bersama memasuki rumah.


"Dia siapa Oma?" tanya Rafa.


"Dulu dia suamiku, sebelum aku menikah dengan kakekmu.." Jawab Karina tersenyum sambil mencubit gemas hidung Rafa.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya. "Oma, aku ke kamar dulu."


"Iya sayang!" sahut Karina.


Sesampainya di kamar, melempar tas nya sembarangan ke lantai. Melepaskan sepatu lalu naik ke atas tempat tidur, membuka tasnya mengambil ponsel. Memeriksa apakah Elena menjawab pesan singkatnya, ternyata gadis itu tidak membalasnya. Lalu Rafa menelpon Elena, namun sama saja, nomer ponsel Elena sedang tidak aktif.


"Elena, apa yang terjadi denganmu? aku merindukanmu." Gumam Rafa pelan, membuka galeri foto, melihat lihat foto kebersamaan dan video mereka berdua. Rafa tersenyum memandang foto foto Elena.


"Kau benar Elena, setelah cinta tak lagi di sisiku, kini aku tahu rasanya merindukanmu."


Suara ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunan Rafa.


"Masuk!"


Pintu terbuka lebar, terlihat Quenby tersenyum, berjalan menghampiri Rafa.


"Sayang, makan siangmu sudah siap." Kata Quenby. "Oya, mulai besok aku akan membuka usaha dari nol dan sepertinya aku betah tinggal di sini. Bagaimana menurutmu, sayang?"


"Terserah Mom..aku ikut bahagia." Jawab Rafa datar.


"Oke, jangan lupa sarapan siang terus kau istirahat. Aku masih banyak pekerjaan yang harus di siapkan." Kata Quenby dan berlalu di hadapan Rafa.


"Momy tidak bertanya apakah aku baik baim saja hari ini?" ucap Rafa pelan.