PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Resmi bercerai


"Oma! Opa!!" panggil Rafa sepulang sekolah.


"Kami di sini Rafa!" sahut Ava yang berada di ruang makan.


Rafa bergegas menemui mereka, lalu duduk di kursi.


"Rafa? ada apa sayang? kau bahagia sekali?" tanya Karina.


"Aku ikut turnamen antar sekolah bermain basket, Oma!" timpal Rafa tersenyum menatap Karina.


"Oya? kapan turnamennya di mulai? kami boleh ikut tidak?" tanya Ava sambil mengangkat cangkir kopi di atas meja lalu menyecapnya perlahan.


"Tentu Opa, turnamen itu terbuka untuk umum. Kalian bisa menontonnya secara langsung." Jelas Rafa.


"Kalau begitu, nanti kami ikut. Sekarang kau bersihkan badanmu, kita makan siang sama sama." Kata Karina lalu duduk di kursi.


"Momy? di mana?" tanya Rafa.


"Ibumu belum pulang sayang, sebentar lagi pulang." Timpal Karina, namun detik berikutnya terdengar suara mobil memasuki halaman. "Nah, sepertinya Ibumu pulang."


Rafa berdiri, lalu berjalan menghampiri kaca jendela. Memperhatikan ke halaman rumah, dan benar saja, Quenby baru saja pulang. Namun tidak hanya Quenby, nampak Livian dan Avram datang bersamaan. Rafa menarik napas dalam dalam, lalu ia bergegas keluar rumah menemui mereka.


"Momy!" seru Rafa menghampiri Quenby dan berdiri di sampingnya menatap tajam ke arah Avram dan Livian.


"Sayang, kau sudah pulang nak?" tanya Quenby.


Rafa hanya menganggukkan kepala, dengan tatapan tajam terus ke arah dua pria yang ada di hadapannya.


"Kebetulan sekali, aku tidak perlu repot repot datang ke rumahmu. Surat perceraian sudah selesai di buat, aku sudah menandatanganinya. Tinggal kau yang belum, Livian." Kata Quenby.


Kemudian ia mengeluarkan surat perceraian dari dalam tas beserta balpoinnya. Lalu ia berikan pada Livian.


"Tanda tangan!" pinta Quenby.


Tanpa banyak bicara, Livian mengambil surat cerai di tangan Quenby beserta balpoinnya lalu ia menandatangani surat cerai itu, setelah selesai di tanda tangani. Surat itu di berikan lagi pada Quenby.


"Terima kasih!" sahut Quenby lalu memasukkan kembali surat itu ke dalam tas, ia berjalan mundur dan berdiri sejajar dengan Rafa menatap tajam ke arah dua pria yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.


"Apa kau senang Rafa?" tanya Livian.


"Aku? kenapa kau tanya aku?" jawab Rafa, menoleh ke arah Quenby.


"Apa maksudmu bicara seperti itu?" tanya Quenby.


"Kau harus tahu, Quen!" seru Livian dengan tatapan tajam ke arah Rafa. "Anna mengalami keguguran semalam, akibat seseorang menaruh minyak pelumas di lantai. Dan aku baru tahu, ternyata aku dan Anna di jebak seseorang dan aku sudah mengantongi buktinya!" ungkap Livian.


"Kau menuduh putraku?" tanya Quenby menoleh ke arah Rafa yang terlihat santai dan bergelayut manja di bahu Quenby.


"Lalu?" tanya Quenby menatap tajam Livian.


"Aku tidak tahu, Quen!" sahut Livian. "Aku harap Rafa senang dengan perceraian kita, dan aku tidak akan menghalangimu untuk kembali pada Avram!"


Quenby tertawa kecil menanggapi pernyataan Livian. "Kalian perlu tahu, aku sudah memutuskan untuk menjadi orangtua tunggal Rafa. Kami cukup bahagia walau cuma berdua, jadi jangan pikir kalau aku akan kembali pada kalian berdua dan menyesali keputusanku. Tidak sama sekali tidak!!"


Livian dan Avram saling pandang sesaat, lalu menatap ke arah Rafa yang selalu menjulurkan lidahnya dan mengibaskan tangan di lehernya sendiri seolah olah sebagai isyarat.


"Rafa..kau kenapa sayang?" tanya Avram.


"Aku baik baik saja, Dad!" sahut Rafa memajukan bibirnya menatap Avram lalu berlari dan memeluk tubuh Avram erat.


"Ada apa? kenapa kau seperti itu..?" bisik Avram.


Namun Rafa tidak menjawab, ia melepas pelukannya lalu beralih memeluk erat tubuh Livian.


"Bagaimana Ayah? sakit bukan?" bisik Rafa. "Bersainglah dengan sehat bersama Dad, untuk mendapatkan Momy lagi, tapi itu tidak akan mudah."


Rafa melepaskan pelukannya, lalu berlari ke arah Quenby.


"Kita sudah tidak ada urusan lagi, pergilah kalian berdua!" perintah Quenby lalu menarik tangan Rafa, melangkahkan kakinya meninggalkan kedua pria itu.


"Quen!!" seru mereka serempak, lalu saling pandang.


"Ada apa lagi?" tanya Quenby menoleh ke arah mereka berdua yang terlihat kikuk.


"Tidak apa apa!!" sahut mereka serempak.


Quenby hanya mengangkat kedua bahunya lalu kembali melangkahkan kaki bersama. Sementara Rafa menoleh ke belakang, menatap kedua pria itu lalu menjulurkan lidahnya berkali kali.


"Kau lihat? tunjuk Livian ke arah Rafa. "Dia selalu seperti itu.."


"Ayolah Livian, kau terlalu berlebihan. Dia masih anak anak, mungkin kau cemburu berat terhadap putraku!" balas Avram lalu balik badan dan kembali masuk ke dalam mobil di ikuti Livian.


"Kenapa kau tidak percaya padaku?" tanya Livian kesal.


Avram tertawa kecil. "Aku tahu bagaimana putraku, tidak mungkin dia melakukan serangkaian peristiwa yang mengakibatkan kematian. Rafa masih kecil, dan aku yakin ada seseorang yang berusaha untuk cuci tangan dalam kasus ini."


"Maksudmu?" tanya Livian belum mengerti.


"Kita cari dalang yang sesungguhnya!" usul Avram.


"Baik, aku ikuti maumu asalkan kita bekerjasama." Timpal Livian.


"Oke!"