
Malam semakin larut, angin malam semakin terasa dingin menusuk tulang yang masuk lewat pintu balkon kamar yang terbuka. Gorden yang tertiup angin, cahaya kamar yang di terangi lampu meja.
Rafa duduk di kursi, membuka lembar demi lembar album foto sewaktu ia masih kecil. Setiap momen pertumbuhannya, Avram abadikan.
Tetes demi tetes air mata membasahi pipinya. "Momy bilang, aku tidak boleh menangis. Tapi aku tidak bisa Dad.." ucapnya tertahan di tenggorokan.
Air matanya semakin deras saat ia mengenang sebuah kisah. Di mana Avram bukan hanya sebagai ayah sekaligus ibu tetapi bagi Rafa, Avram sosok malaikat baginya, kemudian ia menutup album foto tersebut. Beranjak dari kursi yang sedari tadi ia duduki.
Mengambil sebuah foto berdua di atas meja, saat ia masih kanak kanak. Lalu melangkahkan kakinya naik ke atas tempat tidur, berbaring sambil mendekap erat foto tersebut.
"Maaf Momy, bukan aku tak menyayangimu. Tapi, aku tidak memiliki kenangan indah bersamamu. Meski begitu, kau yang telah melahirkanku dan membiarkanku hidup." Gumam Rafa pelan.
Matanya perlahan terpejam, air mata yang masih terus merembes. Perlahan tapi pasti, Rafa pun tertidur dengan pulas.
***
Hari ini, Rafa tidak pergi ke kampus. Ia memutuskan untuk mengikuti proses persidangan Avram. Meski Quenby melarang karena di khawatirkan kesehatan putranya. Quenby khawatir, jika Rafa sedih dan emosi berlebihan akan mengganggu kesehatannya.
Namun Rafa tetap memaksa, akhirnya Quenby mengizinkan dengan syarat Rafa tidak boleh sedih atau emosi yang berlebih, apapun keputusan pengadilan. Rafa harus tenang dan menerima itu semua.
"Apa kau sudah siap?" tanya Quenby.
Rafa menganggukkan kepalanya. "Ya momy."
"Kalau begitu, kita berangkat!" kata Quenby, meraih tangan Rafa dan menggenggamnya erat.
Mereka melangkah bersama, keluar dari rumah. Di ikuti Ava dan Karina. Di halaman, nampak Livian sudah menunggu mereka. Rafa menepis tangan Quenby.
"Aku naik motor Mom.." Kata Rafa pelan.
"Tidak boleh, kau harus ikut bersamaku." Tolak Quenby karena khawatir terjadi apa apa.
"Rafa bersamaku saja Tante!"
"Elena?" sapa Rafa menoleh ke arah gadis itu yang baru saja datang dari pintu gerbang.
"Rafa.." balas Elena.
"Baiklah, tapi hati hati bawa mobilnya ya." Pesan Quenby.
Rafa menganggukjan kepalanya, memperhatikan Quenby dan Livian masuk ke dalam mobil, di ikuti Karina dan Ava.
"Rafa.." Elena meraih tangan Rafa dan menggenggamnya erat.
"Ya, El?" sahut Rafa.
"Kau harus kuat." Elena tersenyum tipis menyemangati Rafa.
Elena mengangguk, lalu mereka berdua berjalan bersama keluar dari halaman rumah, masuk ke dalam mobil, detik berikutnya mobilpun melaju meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan Rafa hanya terdiam, menatap kosong ke depan. Sementara Elena menjalankan mobilnya dengan tenang, membiarkan Rafa dengan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman gedung pengadilan. Elena dan Rafa keluar dari pintu mobil, menatap ke depan. Nampak Polisi berjajar berjaga di halaman, terdapat beberapa paparazi yang hendak meliput berita buruk dari keluarga milyuner yang selalu jadi konsumsi publik.
"Ayo!"
Elena meraih tangan kanan Rafa, menganggukkan kepalanya menatap wajah Rafa. Lalu mereka berjalan bersama memasuki gedung.
Di dalam ruangan persidangan, Rafa dan Elena duduk di kursi belakang Quenby dan Livian. Rafa menundukkan kepalanya sesaat, meremas kedua tangannya yang mulai berkeringat dingin. Menatap sendu ke arah punggung Avram yang duduk di depan. Lalu mengalihkan pandangan matanya kepada sosok Polisi yang berwajah tampan, berdiri di depan tengah menatap tajam ke arah Rafa tanpa berkedip. Detik berikutnya Polisi itu mengangguk dan tersenyum ke arah Rafa.
Rafa kembali mengalihkan pandangannya ke arah Jaksa dan pengacara yang membantu Avram. Sidang pun di mulai, tuduhan demi tuduhan, bukti demi bukti di berikan. Keringat dingin terus mengalir di wajahnya, saat ini Rafa tidak sedang fokus pada jalannya pengadilan, rasa cemas, emosi, marah sudah mulai menguasi otak dan pikirannya, namun Rafa mencoba untuk tenang dan menguasai diri.
Hingga terdengar keputusan Hakim yang memutuskan kalau Avram bersalah dan menjadi tersangka utama dalam kasus pembunuhan berencana itu. Dan Avram di jatuhi hukuman mati.
"Tok Tok Tok!"
Hakim mengetuk palu, tanda sidang berakhir. Saat itu juga, semua yang ada di ruangan itu serasa berputar, tawa canda Avram. Terus berputar di otak Rafa. Hingga akhirnya Rafa tidak mampu menguasai emosinya lagi.
"Dady!!" jeritnya sambil berdiri lalu berlari menghampiri Avram, menarik tangannya lalu menyeretnya untuk membawanya melarikan diri.
Namun usaha Rafa sia sia, beberapa anggota Polisi menghalangi Rafa. Menarik tangan Rafa yang berusaha mencegah Polisi membawa Avram pergi. Kerusuhan di dalam persidangan itu pun terjadi, emosi Rafa semakin menjadi jadi, ia memukul salah satu anggota Polisi. Hingga Polisi lainnya terpaksa memukul Rafa menggunakan tongkat kecil dan memaksa tubuh Rafa merunduk di lantai, dengan kedua tangan di cengkram salah satu anggota Polisi.
"Dady..!!! pekik Rafa tengadahkan wajahnya melihat Avram di bawa pergi anggota Polisi.
Sementara Quenby meminta Polisi untuk melepaskan Rafa. "Dia masih anak anak, lepaskan putraku!!" seru Quenby seraya terisak, memohon kepada pihak berwajib.
Kemudian Polisi itu melepaskannya dan Rafa berdiri, berlari keluar ruangan mengejar mobil yang membawa Avram pergi.
"Dady!!" Rafa terus berlari mengejar mobil itu tanpa henti.
"Dady!!" Rafa jatuh bangun dan berlari lagi, hingga mobil itu tidak dapat ia kejar lagi. Rafa jatuh tersungkur ke jalan aspal.
Kedua tangannya memukul mukul jalan aspal dan berteriak histeris.
"Dady!!"
"Dady.." hingga suaranya hilang.
Quenby, Elena dan Livian yang mengejar Rafa, hanya bisa duduk di tepi jalan. Menangkup wajahnya sendiri sambil menangis, tidak ada kata yang bisa mewakili perasaan Rafa ataupun Quenby saat ini.
"Hatiku remuk oleh tipu daya dan kecurangan. Tapi kepalaku masih tegap berdiri. Biarlah waktu yang akan mengungkap siapa yang salah dan siapa yang benar, saat kematian itu tiba." Gumam Avram dalam hati.