
Sejak kematian Sheblak, Rey dan Livian. Ekonomi Pramudya semakin terpuruk, ia tidak mendapatkan pasokan uang lagi dari Sheblak untuk membiayai Sekar dan Rangga. Satu satunya mobil mewah yang ia miliki harus di jual untuk membayar karyawan perusahaannya yang mengalami kebangkrutan.
Sekar dan Rangga, tidak bisa bersikap sombong lagi setelah ayahnya meninggal dan jatuh miskin. Pramudya sendiri depresi dan menderita sakit paru paru akut. Demi menyambung hidup dan kedua anak Sheblak. Pramudya memutuskan untuk bekerja di perusahaan yang sedang di rintis Avram.
Namun sehari sebelum Pramudya bekerja, ia mengalami sesak napas dan meninggal di rumah sakit. Sekar dan Rangga semakin terpuruk, mereka tidak tahu lagi harus dengan cara apa untuk tetap bertahan sementara mereka sudah tidak memiliki apa apa lagi. Akhirnya Sekar dan Rangga di tawarkan bekerja sepulang dari kampus di perusahaan milik Avram, namun mereka menolak dan memilih untuk pulang ke rumah pamannya di Belanda.
Hari hari Quenby dan keluarga kecilnya menemukan ketenangan dan kedamaian. Tidak ada lagi masalah pelik yang mengganggu kehidupan mereka.
"Aku tidak perduli, siapapun mereka, dan apa hubungannya dengan semua ini. Yang pasti mereka semua telah berbohong dan bersekongkol untuk menghancurkan keluargaku. Kematian itu adalah satu satunya cara untuk mengakhiri sandiwara mereka." Gumam Rafa, ia tersenyum senang mendengar semua kehancuran dari pihak mereka yang di anggap telah berbuat curang terhadap Ibu dan Ayahnya.
Sementara Elena yang berada di Jepang, semakin hari semakin dekat meski jarak antara Jepang dan Indonesia sangat jauh. Namun mereka berdua selalu komunikasi siang dan malam melalui ponsel. Rafa merasa telah menemukan kebahagiaannya begitu juga dengan Quenby. Elena membantah kalau dirinya anak dari putri Pramudya. Elena tetap mengakui kalau She Blak adalah ayah satu satunya yang ia miliki. Mendengar ayahnya mengalami kecelakaan, Elena tidak merasa sedih karena Sheblak sering kali menyiksanya tanpa alasan yang jelas.
Berdasarkan pengakuan Elena juga, kalau sekar dan Rangga memang putri Sheblak tapi hasil perselingkuhan dengan wanita lain. Apa yang di katakan She Blak sebelumnya adalah kebohongan menurut Elena.
Suatu hari, Quenby mengusulkan Elena untuk kuliah di kampus yang sama dengan Rafa. Quenby berjanji untuk membiayai sekolah Elena sampai lulus, asalkan mau tinggal di Indonesia bersama Rafa.
Quenby memperhatikan dan merasa kalau putranya telah jatuh cinta dengan Elena.
Di saat bersamaan usul Quenby di setujui oleh Avram dan Elena pun menyetujuinya.
Rafa sangat senang dengan usul Quenby. Ia merasa semuanya sangatlah sempurna hidupnya. Setelah usul Quenby di setujui, Elena memutuskan untuk menyusul Rafa ke Indonesia minggu depan setelah ia selesai mengurus surat surat.
***
Satu minggu sudah, akhirnya kedatangan Elena siang ini akan segera di jemput Rafa dan prang tuanya.
"Bagaimana sayang? apa kau senang?" tanya Quenby menatap sayang ke arah Rafa.
"Tentu saja Mom!" sahut Rafa. "Terima kasih!
Rafa memeluk erat tubuh Quenby, lalu bergantu memeluk Avram.
"Baiklah Mom!"
Rafa bergegas ke kamar pribadinya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kurang dari tiga puluh menit, Rafa telah selesai dan bersiap siap untuk pergi ke Bandara bersama orang tuanya.
"Kita berangkat!" seru Quenby, merangkul bahu Rafa, lalu mereka berjalan bersama keluar rumah di ikuti Avram dari belakang.
Jakarta yang seringkali macet total, akhirnya mereka terlambat setengah jam sampai di Bandara Soekarno Hatta. Nampak Elena sudah menunggu di halaman Bandara dengan cemas.
"Elena!!" seru Rafa keluar dari pintu mobil lalu berlari ke arah gadis itu.
"Rafaaa!!" pekik Elena merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Rafa dengan erat. "Aku merindukanmu!"
"Aku juga Elena.." sahut Rafa senang.
"Tante, Om!" sapa Elena lalu melepaskan pelukannya.
"Bagaimana Elena? apa kau senang?" tanya Avram.
"Terima kasih Om!" sahut Elena.
"Sebaiknya kita pulang, tentu kau juga lelah." Usul Quenby.
"Tapi aku lapar Mom!" sahut Rafa.
"Oke, kita makan siang bersama. Lalu pulang!" Timpal Avram.
Rafa dan Elena menganggukkan kepala, lalu mereka berjalan bersama menuju mobil yang terparkir.