PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Oh Ayah.


Rafa dan Elena duduk di kursi balkon kamar. Di tangannya memegang sebuah kotak kecil berwarna merah. Rafa menundukkan kepala menatap kotak kecil di tangannya.


"Elena.." ucap Rafa tanpa menoleh ke arah Elena.


"Iya!" sahut Elena memiringkan wajahnya menatap Rafa yang hanya menundukkan kepalanya


"Hadiah ini mungkin tidak seberapa, tapi aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk berterima kasih padamu. Kau selalu membuat aku tenang, nyaman, kau selalu mengerti aku dari pada kedua orang tuaku. Tapi, aku tidak tahu, apakah yang aku ucapkan ini salah atau benar, yang aku tahu saat ini kau sahabat terbaikku!" Ungkap Rafa mengangkat wajahnya menatap Elena dan tersenyum tipis, lalu ia berikan kotak kecil itu.


"Rafa.." Elena mengambil kotak kecil di tangan Rafa, lalu ia letakkan di pangkuannya. Di raihnya kedua tangan Rafa dan di genggam dengan erat.


"Aku tidak menginginkan apa apa darimu." Kedua mata mereka saling beradu pandang. "Melihatmu bahagia, tenang, tersenyum, itu sudah cukup buatku. Kalaupun ada yang aku mau darimu, bukanlah barang. Tapi cintamu, seperti aku mencintaimu."


Rafa tertawa kecil tanpa melepaskan pandangannya di kedua bola mata Elena.


"Cinta lagi?"


"Kenapa kau tertawa?" ucap Elena bibirnya maju ke depan.


"Aku tidak tahu apa itu cinta yang kau maksud, yang aku tahu..aku nyaman di dekatmu." Kata Rafa masih tertawa kecil.


"Itu cinta Rafa..katakan kalau kau mencintaiku." Paksa Elena.


"Aku, aku tidak tahu." Jawab Rafa.


"Sentuh aku!" Elena mengangkat tangan kanan Rafa, lalu mengarahkannya ke bibir Elena.


Rafa menyentuh bibir Elena dengan lembut, lalu ke pipi, kemudian ke mata Elena cukup lama.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Elena.


"Bibirmu lembut seperti ice cream buatan Dad, dan pipimu kenyal seperti mie ramen. Hahahahaha!!" Rafa tertawa terbahak bahak memperhatikan raut wajah Elena yang cemberut.


Elena terdiam, memperhatikan Rafa yang terus tertawa terbahak bahak hingga keluar air mata.


"Hanya dengan mengajarimu untuk mencintaiku, saat terakhir nanti kau bisa merasakan apa itu cinta yang sebenarnya.." ucap Elena dalam hati.


***


Minggu pukul 9 pagi.


Quenby pergi menemui She Black untuk meminta bantuan membebaskan Avram dan mengganti jaminannya. Sementara diam diam, Rafa menemui Avram di penjara, membawakannya makanan kesukaan Avram.


Avram duduk di kursi, tersenyum menatap wajah Rafa yang terlihat murung. "Apa kabar sayang.." sapa Avram.


"Dad, aku bawakan makanan kesukaanmu." Kata Rafa.


"Terima kasih sayang!" jawab Avram lalu membuka kotak makanan yang ada di atas meja. "Chang Beef Noodle Shop?"


Avram tersenyum, lalu mengambil sendok dan menyantap makanan itu dengan lahap. Rafa hanya diam memperhatikan ayahnya makan, matanya mulai panas dan basah. Air mata mengalir dengan deras, antara kesedihan dan kemarahan bercampur aduk menjadi satu.


Siapa yang harus di salahkan? takdirkah yang tengah mempeemainkan? atau kehidupan yang enggan berpihak padanya?


Mulut Avram yang penuh dengan makanan, mie yang masih terurai di mulutnya. Avram mengangkat wajahnya menatap Rafa yang tengah menangis. Hati Ayah mana yang tak teriris perih? Avram pun tak dapat membendung air matanya lagi.


"Maafkan aku, Rafa.." ucap Avram dengan suara tersendat. Makanan yang ada di mulutnya terjatuh ke pangkuannya. "Maafkan aku.."


"Kau tidak salah, Dad..meski kau melakukan kesalahan seumur hidupmu, aku tidak bisa menyalahkanmu. Aku tahu, semua itu kau lakukan demi aku.." timpal Rafa menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku...semua salahku.." ucap Avram lalu berdiri, sisa makanan yang masih menempel di bibirnya tidak ia bersihkan. Avram berlalu begitu saja dari hadapan Rafa dengan membawa hati yang hancur dan rasa penyesalan yang dalam.


"Dad..berapa banyak kata maaf telah kau ucapkan, tak sebanding dengan cinta telah kau berikan, kasih yang telah kau suguhkan hanya untukku.. anakmu.. Dad kau ajarkan aku tentang kebaikan. Kau tunjukkan aku tentang arti cinta. Kau jelaskan aku tentang makna kehidupan. Dan kau mendidikku dengan sungguh kasih sayang..seberapa besar kesalahanmu, aku siap menanggungnya." Gumam Rafa pelan seraya menyeka air matanya.


Ayah, adalah orang kedua yang selalu sayang dan rela berkorban apapun untuk putra putrinya setelah Ibu. Ayah adalah manusia kuat yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk putra putrinya.


Ayah rela bekerja banting tulang sepanjang hari demi keluarga kecilnya. Rela kerja keras menyekolahkan anaknya sebagai pemimpin keluarga yang siap berkorban jiwa dan raga. Bekerja dalam diam, menyimpan setiap luka sendirian.


Ayah, adalah orang yang selalu mengingatkan jika putra putrinya salah, orang yang selalu membela di depan saat ada orang yang menyakiti kita.


"Dad, kata sayang tidak cukup untukmu. Aku rela memikul bebanmu, kesalahanmu, saatnya aku membalas apa yang sudah kau berikan meski itu tidak cukup."