
Sesampainya di halaman rumah. Rafa dan Quenby menepikan mobilnya lalu keluar dari dalam mobil. Mereka berdua berjalan bersama menuju teras, nampak Avram tengah duduk di kursi lalu berdiri saat melihat kedatangan mereka berdua.
Quenby membuka pintu rumah lalu mempersilahkan Avram masuk ke dalam rumahnya berbarengan dengan Rafa.
"Di mana Livian? tanya Quenby sambil meletakkan tasnya di atas sofa.
"Livian masih di rumah sakit, menjaga Anna." Jawab Avram. "Aku sudah suruh dia pulang biar aku yang menjaga Anna. Tapi Livian menolak karena memang harus bertanggungjawab."
"Separah itu Bu Anna, Dad?" sela Rafa angkat bicara.
"Aku tidak tau sayang, ini sangat aneh. Anna seperti depresi, tapi depresi karena apa?" jawab Avram mencoba berpikir keras.
"Kasihan sekali Bu Anna, biar aku temani Livian. Mungkin dia butuh sesuatu." Quenby mengambil tas nya kembali lalu melangkahkan kakinya.
Namun Rafa menarik tas Quenby dan melemparnya ke lantai.
"Cukup Momy!!" seru Rafa lantang.
"Rafa, kau membentakku?" tanya Quenby menatap bingung ke arah Rafa.
"Cukup Momy, aku sudah lelah dengan sandiwara ini!" pekik Rafa marah.
"Sayang tenanglah.." Avram merangkul bahu Rafa namun anak itu menepisnya.
"Mau sampai kapan terus begini, mau sampai kapan momy terus di bohongi. Aku lelah hidup seperti ini, dan perlu Momy tahu, akar permasalahan ini adalah Livian dan Anna!" tuduh Rafa.
"RAFA!! bentak Quenby. "Siapa yang mengajarimu untuk berpikiran buruk!"
"Baiklah Momy! Rafa berjalan mendekati meja, lalu mengambil pisau di dalam wadah.
"Apa yang hendak kau lakukan?" tanya Quenby dan Avram.
"Kalau kalian tidak mampu menyelesaikan masalah kalian berdua, biar aku yang menyelesaikannya!" seru Rafa lagi sambil mengacungkan pisau.
"Sadarlah Rafa!" kata Quenby.
"Masalahnya Livian dan Anna, biar aku lenyapkan mereka berdua. Dan aku tidak perduli kalau aku harus membusuk di penjara yang terpenting Momy bahagia, tidak di sakiti lagi!"
Rafa balik badan hendak melangkahkan kakinya, namun Quenby mencegahnya. Ia memeluk tubuh Rafa dari belakang dengan erat.
"Lepaskan aku, Momy. Lepaskan aku!!" teriak Rafa histeris.
Sementara Avram yang berdiri di sampingnya, berusaha merebut pisau di tangan Rafa.
"Srettt! Avram berhasil mengambil pisau di tangan Rafa dengan paksa meski telapak tangannya harus terluka.
Darah segar menetes di lantai, meluluhkan hati Rafa yang di kuasai amarah.
"Dad!!" jerit Rafa menarik tangan Avram sambil menangis. "Kenapa kau lakukan itu.."
"Kalau kau saja mau berkorban, kenapa aku tidak? sampai kapanpun, aku akan melindungimu dengan nyawaku." Jawab Avram.
"Dad!" Rafa memeluk Avram dengan erat, lalu Quenby duduk di sofa sambil menangis
"Maafkan aku, Dad..maafkan aku.." ucap Rafa.
"Minta maaf pada Ibumu, walau bagaimanapun. Kau terlahir dari rahimnya. Sudah sepantasnya kau berbakti kepadanya." Ungkap Avram.
"Dad, aku tahu kewajibanku sebagai anak. Tapi bakti yang mana lagi yang harus ku berikan? ini bukan masalah bakti atau tidak. Tapi mau sampai kapan Momy lemah seperti ini!" Jelas Rafa.
Mendengar pernyataan Rafa, semakin membuat hati Quenby teriris pilu. Apa yang di katakan Rafa benar adanya, Quenby akui kelemahannya. Namun saat ini ia hanya bisa menangis, Quenby telah kehilangan dirinya sendiri.
"Ayolah Momy, jangan biarkan orang lain menyakitimu. Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? semua perintah Momy pasti aku turuti, tapi aku mohon Momy, sadarlah..sadar mom." Rafa berjalan mendekati Quenby lalu bersimpuh di kakinya.
"Jangan menangis, hapus air matamu. Aku paling tidak bisa melihatmu menangis Mom.." Tangannya terulur mengusap air mata di pipi Quenby
"Maafkan aku..maafkan.."
Quenby menarik bahu Rafa lalu memeluknya dengan erat. "Semua salahku.."
"Dad.." ucap Rafa menoleh ke belakang, namun Avram sudah tidak ada di tempatnya.
"Dad!!" seru Rafa berdiri lalu berlari ke arah pintu. Namun Avram sudah pergi jauh dari rumah Quenby.
Rafa duduk di ambang pintu, kepalanya bersandar sambil terisak.
"Aku tidak menginginkan apa apa, tidak sama sekali ya Tuhan..jika kau ambil nyawaku sekalipun aku rela. Asal Mom and Dad bahagia." Ucap Rafa lirih.