
Setelah mengurus surat kepindahan sekolah dan surat surat lainnya yang di butuhkan untuk mendukung Rafa di terima di Universitas tersebut, negosiasi dan perdebetan kecil antara Avram, Quenby dan Dosen yang ada di Universitas tersebut. Akhhirnya mereka mengizinkan dan memberikan Rafa kesempatan dengan memberikan serangkaian tes, kalau dia berhasil lulus maka Universitas itu akan menerima Rafa sebagai satu satunya mahasiswa termuda.
Rafa yang berada di dalam ruangan tertutup sedang mengerjakan semua tes yang di berikan. Sementara Quenby, Avram, dan beberapa dosen, memperhatikan Rafa di luar ruangan lewat kaca jendela.
Awalnya pihak Universitas memberikan Rafa waktu 2 jam untuk menyelesaikannya. Dan tidak ada satupun yang percaya kemampuan Rafa, mereka terkesan menganggap keinginan Rafa hanyalah lelucon anak kecil, dan sudah membuang waktu mereka. Oleh karena itu pihak Universitas memberikan materi untuk mahasiswa semester 3 sementara Rafa baru akan masuk semester 1.
Detik berlaku, menit berganti. Dosen yang memperhatikan Rafa saling berbisik dan tersenyum meremehkan. Namun dalam hitungan 30 menit, Rafa terlihat beranjak dari kursinya dan merentangkan kedua tangannya, lalu ia mengumpulkan kertas yang di atas meja dan di berikan kepada salah satu Dosen yang berada di dalam ruangan mengawasi Rafa.
Dosen itu mengambil kertas dari tangan Rafa lalu membacanya lembar demi lembar dengan mata melotot dan berdecak kagum. Karena penasaran, Dosen yang berada di luar ruangan segera masuk ke dalam ruangan.
Mereka semua di buat berdecak kagum atas jawaban sempurna yang Rafa buat. Merekapun akhirnya menyatakan Rafa lulus dan di terima di Universitas tersebut.
Rafa langsung keluar dari dalam ruangan di sambut kedua orang tuanya, mereka berdua memeluk erat Rafa. Siapa yang tak bangga memiliki putra secerdas Rafa, di usianya yang masih muda bisa masuk ke Universitas elit dan populer itu.
"Kau memang hebat, Rafa!" ucap Avram tersenyum bangga.
"Aku hanya ingin menyelesaikan masalah Mom..Dad..tapi dengan caraku..." ucap Rafa dalam hati.
***
Hari pertama Rafa sekolah di Universitas itu, ia tidak merasa canggung atau malu. Rafa terlihat sangat santai, berjalan melewati halaman sekolah. Beberapa mahasiswa putra atau putri memperhatikannya, tidak ada yang mengira jika usianya masih terbilang anak anak karena postur tubuh Rafa yang tinggi dan atletis. Sebagian anak perempuan melirik kagum melihat wajah dan cara Rafa berjalan dengan santai.
Langkahnya terhenti sesaat di depan koridor kampus, lalu ia kembali melangkah dengan santai. Bagi sebagian anak anak, Rafa adalah wajah baru. Tapi tidak bagi seorang anak laki laki dan adik perempuannya yang berdiri di ujung koridor menyambut kedatangan Rafa, bersama geng nya.
"Selamat datang Rafa!" sapanya dengan kedua tangan di rentangkan. Tersenyum lebar menoleh ke arah adik perempuannya yang berdiri di sampingnya dengan senyuman sinis menatap wajah Rafa.
"Aranza..Valeri.." balas Rafa pelan.
"Akhirnya kau datang juga, kami sudah menduganya. Ternyata kau cukup punya nyali juga." Kata Aranza sambil menggosok gosokkan tangannya, tersenyum mencemooh ke arah Rafa.
"Tentu saja, ke ujung dunia sekalipun kalian pasti kucari!" sahut Rafa dengan tenang.
'Di sini!"
Rafa menoleh ke samping, matanya melebar dan tersenyum. Tidak menduga jika Elena benar benar menepati janjinya untuk selalu menjaga Rafa.
"Elena.." sapa Rafa senang.
Elena merangkul bahu Rafa dan tersenyum lebar menatap Aranza dan Valeri.
"Di mana Rafa berada, maka Elena si bodoh ada di sampingnya!" balas Elena menatap benci ke arah Valeri.
"Bagus! mari kita buktikan. Aku yang mati duluan, atau kau membusuk di penjara!" tantang Aranza menatap tajam ke arah Rafa.
Rafa hanya diam menanggapi tantangan Aranza.
"Jangan membual Aranza! buktikan saja!" balas Elena.
"Hahahaha!" Aranza tertawa terbahak bahak, lalu menoleh ke arah belakang memberikan kode kepada geng nya untuk meninggalkan tempat.
Dengan langkah angkuh, Aranza dan Valeri melangkahkan kakinya menyenggol bahu Rafa dan Elena, lalu mereka semua pergi menjauh.
"Rafa, apa kau yakin dengan keputusanmu?" bisik Elena.
"Dengan cara ini, aku bisa membuktikan kalau aku tidak bersalah. Dan aku bisa menarik keluar dalang dari semua ini." Jelas Rafa.
"Apa kau sudah tahu?" tanya Elena.
Rafa menggelengkan kepalanya. "Sebentar lagi aku pasti tahu." Tangan Rafa merangkul bahu Elena lalu mengajaknya ke ruang kuliah.