PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Fakta mengejutkan.


Keesokan paginya seperti biasa, Quenby mengantarkan Rafa ke kampus. Sesampainya di gerbang kampus, Quenby menepikan mobilnya. Sejak dari kemarin, tidak ada perbincangan di antara mereka berdua. Quenby sibuk dengan pekerjaan dan mengurus jaminan untuk Avram.


"Rafa.."


Rafa yang hendak membuka pintu mobil, mengurungkan niatnya. Menoleh ke arah sang ibu lalu bertanya.


"Ada apa Mom?"


Quenby tersenyum, meraih tangan kanan Rafa dan menggenggamnya erat.


"Jangan pulang terlambat, kita makan malam bersama. Hari ini, Dady kamu bebas."


Rafa menganggukkan kepalanya, "aku usahain pulang cepat Mom, hari ini tugas tambahan dari kampus. Sepertinya aku pulang telat, tidak apa apa kan Mom?"


"Iya sayang.." sahut Quenby.


Kemudian Rafa membuka pintu mobil, melambaikan tangannya ke arah ibunya sambil menutup pintu mobil kembali.


"Hati hati Mom!" seru Rafa memperhatikan mobil milik Quenby memutar arah meninggalkan kampus.


Sepeninggal Quenby, sebuah motor berhenti tepat di depan Rafa berdiri. Lalu Rafa tersenyum memperhatikan Elena membuka helm nya.


"Ayo cepat!" perintah Elena.


Rafa berjalan mendekati Elena, mengambil helm di tangan gadis itu lalu memakainya.


"Aku yang bawa motornya!" pinta Rafa.


"Baiklah!" sahut Elena kemudian turun dari atas motor. "Jangan ngebut ya!"


Rafa hanya tertawa kecil menanggapi permintaan Elena, kemudian ia naik ke atas motor di ikuti Elena duduk di belakang. Tanpa di minta, Elena memeluk pinggang Rafa dengan erat.


"Pegangan yang kuat!"


"Tentu saja sayang!" sahut Elena tertawa lebar. kemudian Rafa menyalakan mesin, dan melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.


Hari ini, mereka berdua sepakat untuk tidak masuk ke kampus. Mereka berdua berencana mencari bukti bukti keterlibatan Avram dan salah satu dalang di balik serangkaian peristiwa yang di tuduhkan kepada Rafa.


Rencana mereka di mulai, di mana Avram dulu memiliki perusahaan yang sekarang sudah di wariskan kepada Rafa. Mereka ingin mencari bukti kebenaran ucapan Avram kalau dia terlibat hutang piutang dengan Yama.


Sesampainya di perusahaan miliknya, Rafa bergegas masuk ke dalam gedung bersama Elena. Rafa di sambut dengan hormat oleh anak buahnya, lalu mereka berdua mulai melakukan penyelidikan di mulai dengan membuka file data data rahasia perusahaan yang selama ini selalu mendapat kucuran dana dari Yama.


Setelah memindahkan semua file, dan memeriksanya. Rafa juga meminta dokumen dokumen lainnya tentang perusahaan itu. Setelah semua mereka dapatkan, kemudian Rafa mengajak Elena meninggalkan perusahaan tersebut menuju markas Naga Hitam yang masih terus berjalan aktifitasnya di bawah pimpinan Rafa. Selama ini, Rafa menggerakkan kembali aliansi naga hitam itu setelah sekian lama di tinggalkan Quenby.


***


"Nanti malam kalian harus bergerak cepat dan jangan meninggalkan jejak, apa kalian paha.?" perintah Rafa memperhatikan ketiga anak buahnya yang bertubuh kekar dan bisa di andalkan.


"Baik Tuan muda!" sahut salah satu pria itu membungkuk hormat.


"Ingat, aku beri kalian waktu dua jam." Rafa melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 17:30.


"Baik Tuan Muda!" jawab mereka serempak, lalu mereka bertiga melangkahkan kakinya keluar dari ruangan.


"Rafa.."


Rafa menoleh ke arah Elena yang sedari tadi diam, wajahnya terlihat sedikit pucat.


"Elena, apa kau baik baik saja?" tanya Rafa berjalan mendekati gadis itu dan meletakkan tangannya di kening Elena. "Kau demam?"


"Tidak, aku hanya lelah." Jawab Elena menurunkan tangan Rafa. "Rafa, boleh aku pulang duluan? ada hal yang harus aku lakukan bersama Papa."


"Tentu saja Elena, aku bisa pulang sendiri." Jawab Rafa menatap wajah Elena dan sikapnya yang sedikit kurang nyaman.


"Terima kasih!" seru Elena.


"Cup!"


Satu ciuman mendarat di bibir Rafa, lalu gadis itu berlari meninggalkan Rafa tanpa menoleh lagi.


"Aneh.." gumam Rafa sambil menyeka bibirnya sendiri, lalu tertawa kecil. Kemudian ia melangkahkan kakinya memasuki ruangan lain, lalu duduk di kursi menghadap ke layar monitor. Membuka file perusahaan yang di bawanya, kemudian memeriksa secara keseluruhan dengan lebih teliti.


Awalnya Rafa tidak menemukan apa apa di dalam file itu, namun di menit berikutnya ia menemukan keganjilan. Kini Rafa baru mengerti, ternyata Avram tidaklah berhutang kepada Yama. Selama ini Yama telah memperdaya Avram. Semua aset perusahaan dan kemajuan perusahaan itu bukanlah berkat kucuran dana dari Yama. Tetapi murni, perusahaan itu maju dan berkembang karena kualitas kinerja anak buah Avram. Selama ini, ada orang dalam perusahaan itu yang sudah memalsukan data data. Dan karena kesibukan Avram mengurus Rafa sejak kecil, sehingga Avram tidak mencari tahu dan percaya saja data palsu yang di berikan.


Yang lebih mencengangkan lagi, Rafa menemukan sebuah catatan kecil lain di dalam dokumen lainnya. Di mana terdapat sebuah perjanjian yang harus Avram lakukan atas perintah Yama untuk melenyapkan beberapa orang yang tak lain wanita simpanan Yama.


"Vanila, Anna, Albert, Joy, Livian, Quenby.." Rafa menyebutkan nama nama yang menjadi target Avram atas perintah Yama.


"Kalau Vanila dan Anna adalah wanita simpanan Yama, berarti anak yang di kandung Anna bukanlah anak Ayah Livian? gumam Rafa. "Dan Albert adalah suami dari mantan kekasih yang di cintai Yama? berarti Albert, dan Joy termasuk ke dalam daftar pembunuhan berencana karena Joy murni putra Albert dan istrinya tetapi Sean bukan putra kandung Albert?"


Rafa kembali terdiam, berpikir keras memecahkan keterlibatan Avram dengan serentetan pembunuhan berencana itu.


"Kenapa Yama ingin menjebak Ayah Livian, karena Ayah bisa dengan mudah di permainkan dan Ayah pernah mencintai Berlian, dan Berlian putri salah satu pejabat kota ini adalah wanita yang di cintai Yama selain dari istrinya Albert."


Rafa kembali menarik napas dalam dalam, dadanya merasakan sesak, dan berpikir buruk tentang Avram.


"Benarkah Dady yang melakukan ini semua?" tanyanya pada diri sendiri. "Dan Yama ingin membunuh Momy karena diam diam Yama mencintai tapi berkali kali Momy menolak dan mempermalukannya di depan publik."


"Perselingkuhan, harta, tahta dan wanita. Konflik yang tak pernah berkesudahan. Menciptakan dendam dan angkara murka."