
Sesuai rencana, anak buah Quenby sudah siap di posisi masing masing. Saat tiga buah mobil anggota polisi yang mengawal Avram yang akan di pindahkan ke penjara lain. Salah satu anak buah Quenby yang mengintai, langsung mengkonfirmasikan kepada yang lain untuk bersiap.
Suara sirine terus berbunyi di sepanjang jalan. Pengendara lain menepi, memberikan jalan untuk mobil Polisi tersebut. Di tengah perjalanan, jalan raya yang lengang, tiba tiba terjadi kemacetan. Beberapa meter di depan rupanya telah terjadi kecelakaan beruntun.
Dua mobil Polisi yang mengawal terpaksa berhenti lalu mereka keluar dari dalam mobil untuk memastikan korban kecelakaan itu.
Sementara mobil yang membawa Avram. terus melaju dan suara sirine terus berbunyi. Tak lama kemudian dua mobil yang berisi anak buah Quenby berusaha memepet mobil polisi tersebut.
Polisi menyadari ada yang tidak beres, lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Seraya mengeluarkan senjata apinya untuk menghalangi anak buah Quenby.
Aksi kejar kejaran di jalan raya tidak dapat di hindari. Salah satu anak buah Quenby berhasil menembak ban mobil belakang milik Polisi. Mobilpun oleng ke kiri dan kekanan. Hilang keseimbangan dan terjadi benturan keras dengan pengendara mobil lainnya.
"Brakkkkk!!!"
Mobil milik Polisi terseret jauh dan keluar dari jalur jalan raya. Mobil itu terhenti menabrak sebuah pohon di tepi jalan raya.
Beberapa anak buah Quenby langsung keluar dari dalam mobil, menghampiri mobil Polisi yang rusak parah.
"Tuan, ayo cepat keluar!" perintah salah satu anak buah Quenby, membuka pintu mobil yang rusak, lalu mengeluarkan Avram dari dalam mobil. Sementara tiga anggota Polisi yang terluka parah, masih bernapas.
"Ayo kita pergi Tuan!" ajak salah satu anak buah Quenby menarik tangan Avram masuk ke dalam mobil. Lalu mereka meninggalkan lokasi, menuju markas.
Sesampainya di markas, mereka menyembunyikan Avram di ruang rahasia, lalu mereka menghubungi Quenby dan mengatalan kalau mereka telah berhasil.
***
Berita tentang melarikan diri seorang tawanan langsung tersiar di berbagai media online. Quenby hanya diam menatap layar televisinya. Tak lama kemudian, ia kedatangan beberapa anggota Polisi yang bertanya tentang keterlibatan Quenby dan pelarian Avram. Namun pihak berwajib tidak menemukan bukti kalau Quenby menyembunyikan Avram. Setelah terjadi perdebatan kecil antara Quenby dan pihak berwajib. Mereka akhirnya meninggalkan rumah Quenby.
Sepeninggal Pihak Polisi, Quenby kembali menghubungi anak buahnya untuk menjaga Avram supaya tidak ada Polisi yang menemukannya.
Detik berlalu, menit berganti jam. Senja berganti malam, Quenby yang sengaja menunggu malam tiba untuk membawa Rafa pergi dari rumahnya. Ia mulai membereskan surat surat penting dan barang berharga ke dalam tas ransel kecil miliknya. Setelah selesai, ia bergegas ke kamar Rafa.
"Rafa, ayo ikut aku." Ucap Quenby membangunkan Rafa yang baru saja hendak tidur.
"Kemana Mom?" tanya Rafa.
"Menemui Dady mu." Jawab Quenby.
"Baiklah Mom!" sahut Rafa senang, lalu ia turun dari atas tempat tidur.
"Bawa tasmu, ponsel dan barang yang kamu butuhkan." Perintah Quenby.
"Iya Mom!" Rafa mengemasi ponsel dan barang lainnya ke dalam tas.
Setelah selesai berkemas, mereka berdua bergegas keluar dari dalam rumah, lalu masuk ke dalam mobil. Sebelumnya, Quenby sudah berpesan kepada Acar untuk tetap menjaga rumah miliknya.
Sepanjang perjalanan, Rafa terlihat sangat senang bertemu dengan ayahnya lagi. Anak itu tidak berhenti bicara, hal hal yang akan di lakukannya saat bersama ayahnya nanti.
Quenby hanya tersenyum mendengarkan celotehan Rafa. Sesekali melirik ke arah Rafa, sama sekali ia tidak percaya kalau putranya yang melakukan itu semua. Meski semua bukti mengarah kepada putranya, namun Quenby tidak perduli lagi.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku tidak mungkin menyerahkan salah satu di antara mereka." Gumam Quenby dalam hati.
Sepanjang perjalanan Rafa terus bersenandung yang menceritakan tentang dirinya dan sang ayah. Quenby hanya diam mendengarkan setiap baitnya.
Sailing down behind the sun,
Berlayar di bawah matahari,
Waiting for my prince to come.
Menunggu pangeranku datang.
Praying for the healing rain
Berdoa untuk penyembuhan hujan
To restore my soul again.
Untuk mengembalikan jiwaku lagi.
Just a toe ride on the run.
Hanya satu kaki berjalan dalam pelarian.
How did I get here?
Bagaimana aku sampai disini?
What have I done?
Apa yang telah saya lakukan?
When will all my hopes arise?
Kapan semua harapan saya akan muncul?
How will I know him?
Bagaimana aku bisa mengenalnya?
When I look in my father´s eyes.
Saat aku melihat ke dalam mataku dan ayahku.
My father´s eyes.
Ayah dan mataku.
When I look in my father´s eyes.
Saat aku melihat ke dalam mataku dan ayahku.
My father´s eyes.
Ayah dan mataku.
Kemudian cahaya mulai bersinar
And I hear those ancient lullabies.
Dan aku mendengar lagu pengantar tidur yang kuno itu.
And as I watch this seedling grow,
Dan saat saya melihat bibit ini tumbuh,
Feel my heart start to overflow.
Rasakan hatiku mulai meluap.
Where do I find the words to say?
Di mana saya bisa menemukan kata-kata untuk diucapkan?
How do I teach him?
Bagaimana saya mengajarinya?
What do we play?
Apa yang kita mainkan
Bit by bit, I´ve realized
Sedikit demi sedikit, saya & akut; sudah sadar
That´s when I need them,
Itu dan akut; ketika saya membutuhkannya,
That´s when I need my father´s eyes.
Itu dan akut, saat aku membutuhkan mataku dan ayahku.
My father´s eyes.
Ayah dan mataku.
That´s when I need my father´s eyes.
Itu dan akut, saat aku membutuhkan mataku dan ayahku.
My father´s eyes.
Ayah dan mataku.
Then the jagged edge appears
Kemudian tepi bergerigi muncul
Through the distant clouds of tears.
Melalui air mata yang jauh.
I´m like a bridge that was washed away;
Saya dan saya seperti jembatan yang hanyut;
My foundations were made of clay.
Pondasi saya terbuat dari tanah liat.
As my soul slides down to die.
Saat jiwaku meluncur turun untuk mati.
How could I lose him?
Bagaimana aku bisa kehilangan dia?
What did I try?
Apa yang saya coba
Bit by bit, I´ve realized
Sedikit demi sedikit, saya & akut; sudah sadar
That he was here with me;
Bahwa dia ada di sini bersamaku;
I looked into my father´s eyes.
Aku menatap mataku dan ayahku.
My father´s eyes.
Ayah dan mataku.
I looked into my father´s eyes.
Aku menatap mataku dan ayahku.
My father´s eyes.
Ayah dan mataku.
Eric Clapton – My Father’s Eyes