PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Balas dendam


Avram dan yang lain menunggu di luar ruangan dengan cemas. Detik demi detik terasa sangat lambat. Satu jam berlalu, akhirnya Dokter yang menangani Rafa keluar dari dalam ruangan.


"Dokter! bagaimana dengan putraku?" tanya Avram.


"Bapak tenang ya, putra anda baik baik saja. Tidak ada luka yang berakibat fatal." Jelas Dokter, setelah bicara seperti itu, Dr kembali masuk ke dalam ruangan.


Avram dan yang lain bernapas lega, karena Rafa baik baik saja. Tapi tidak dengan hati Rafa, ia terluka dalam bukan karena luka fisiknya. Tetapi akibat ucapan Quenby dan semua tuduhannya. Kenapa ia selalu jadi sasaran kemarahan ibu kandungnya sendiri. Hati Rafa semakin terluka dalam, karena kebohongan dan cinta palsu Elena.


"Kau seperti Momiku, Elena. Menghancurkan hidupku, menyakiti hatiku. Apakah aku tak pantas mendapatkan cinta yang tulus darimu dan ibuku?" tanya Rafa dalam hati, tatapannya kosong menatap langit langit kamar rumah sakit. Rafa menarik napas dalam dalam, melirik sesaat ke arah pintu yang terbuka.


"Rafa.." sapa Avram lalu duduk di kursi.


Avram menundukkan kepalanya sesaat, ia mengerti perasaan putranya saat ini.


"Rafa-?"


"Kalau kau sudah lebih baik, kita pulang dan secepatnya menikahi Elena." Potong Quenby


"Quen, aku mohon diamlah." Sela Avram kesal.


Namun Quenby tidak mau tahu, sama sekali ia sangat membenci putranya yang telah menodai Elena.


***


Sementara itu Elena yang berada di kamarnya, mengeluarkan sebuah foto seorang wanita cantik dari dalam tasnya, lalu duduk di kursi, wajahnya tertunduk memandangi foto itu tanpa berkedip. Perlahan air matanya menetes membasahi foto yang ia pandangi.


"Tenanglah ibu di sana, aku akan membalaskan semua rasa sakit, penderitaanmu selama ini. Mereka harus merasakan apa yang ibu rasakan dulu." Ucap Elena pelan.


"Terutama Avram, aku tidak akan membunuh mereka. Tapi cukup memberikan penderitaan yang seumur hidup tidak akan pernah mereka lupakan." Gumamnya lagi.


Elena mengangkat foto wanita itu lalu menciumnya sekilas. Kemudian ia masukkan lagi foto itu ke dalam tas, mengusap air mata di pipinya, menyandarkan tubuhnya di kursi.


#Flashback on.


"Berjanjilah padaku, Elena. Kau akan membalaskan dendamku kepada mereka," pinta seorang wanita yang terbaring sekarat di rumah sakit.


"Oma, jangan bicara seperti itu." Ucap Elena terisak. Bocah kecil dengan setia menunggu Neneknya yang sekarat.


"Nak, jika aku mati. Lemparkan mayatku ke jurang." Pesan wanita itu.


"Tidak Oma, jangan tinggalkan aku!" jerit bocah berusia 7 tahun.


"Quenby yang menyebabkan Reegan, ayahmu cacat dan akhirnya bunuh diri. Quenby juga yang telah memasukkanku di rumah bordir itu, dan membuat aku jadi pemuas nafsu laki laki hidung belang." Ungkap wanita itu.


Tak lama wanita itu mulai sesak napas, matanya melotot, mulutnya menganga. Elena berusaha untuk menolong wanita itu. Namun wanita tersebut sudah tidak dapat menahan rasa sakit lagi dan menghembuskan napas yang terakhir.


"Jangan tinggalkan aku, bangunlah..bangunlah.."


#Flashback of.


Elena membuka matanya, napasnya saling memburu, kematian Neneknya yang tak lain adalah Zahra di susul Reegan, sang ayah. Membuat Elena bersumpah untuk membalaskan dendam dengan cara yang menyakitkan.


Elena tersenyum menyeringai saat mengingat, semua rencananya berhasil. Di awali membunuh Vanila, lalu albert dan dua putranya, wali kelas Rafa dan yang terakhir Livian, Rey, dan Sheblak yang selama ini merawat Elena.


"Segala cara, semua aku korbankan demi terbalaskan dendam ini, termasuk kehormatanku. Hahahahaha!