PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
The Rest Of My Mom


Lebih satu minggu Rafa mengurus semua surat dan keperluannya untuk berangkat ke Taiwan. Tidak lupa ia juga berpamitan kepada kakek dan neneknya.


Awalnya Karina melarang Rafa dan Quenby pergi ke Taiwan lagi. Namun Rafa tetap bersikeras untuk pergi karena ada satu urusan pekerjaan. Namun Rafa juga tidak bisa meninggalkan Quenby meski bersama Ava dan Karina sekalipun.


Saat ini, Quenby lah satu satunya penyemangat yang dia miliki. Hari berikutnya mereka berdua berangkat ke Taiwan dan hanya butuh beberapa jam saja mereka sampai di Bandar Udara Internasional Taoyuan.


Sesampainya di Bandara, mereka berdua naik bus menuju Kaohsiung Taipei, kembali kerumah mereka yang dulu untuk beristirahat. Namun di tengah perjalanan bus yang mereka tumpangi tiba tiba berhenti. Seluruh penumpang di minta untuk turun. Anehnya sang sopir melarang Rafa dan Quenby turun dari dalam bus. Dari arah pintu, beberapa pria masuk ke dalam bus.


Quenby yang mengalami amnesia setiap 15 menit sekali, tiba tiba gugup saat melihat beberapa pria berdiri menatap tajam ke arah mereka. Rafa mengerti situasi ibunya, ia mengeluarkan sebatang rokok lalu di berikan pada Quenby, kemudian ia menyalakan pematik.


Quenby menghisap dalam dalam rokoknya, matanya terpejam merasakan sensasi yang berbeda. Tersemat senyuman, matanya terbuka menatap wajah putranya.


Rafa menganggukkan kepalanya, mengeluarkan dua palu dari dalam tasnya. Menatap tajam ke arah pria yang berada di hadapannya.


"Tap tap tap!"


Rafa melangkah dengan sorot mata tajam, begitu juga dengan sekelompok pria itu.


"Buk buk buk!!"


Palu di kedua tangannya di ayunkan ke kepala sekelompok pria itu, satu, dua, tiga, pria terjungkal darah segar mengalir. Perkelahian di dalam bus tak dapat di elakkan.


Quenby tertawa senang sambil menghisap rokoknya memperhatikan Rafa menghabisi musuh yang berusaha menyerang mereka.


15 menit berlalu, ingatan Quenby kembali. Ia membuang rokoknya ke bawah lalu menginjaknya. Membungkukkan badan, mengambil senjata api di dalam tasnya lalu maju ke depan membantu Rafa.


Tiga pria ambruk seketika terkena peluru senjata api milik Quenby. Rafa menoleh ke arah ibunya, tangan kanan melayangkan palu tepat di leher satu pria yang tersisa hingga mati di tempat.


Tiba tiba Quenby menjadi gugup kembali lalu melemparkan senjata apinya. Menangkup wajahnya sendiri melihat genangan darah di dalam bus.


"Momy, kau tidak perlu melakukan apa apa, biar aku yang membereskannya. Aku akan melindungimu Momy." Rafa memeluk erat Quenby. "Ayo kita pergi."


Rafa melepaskan pelukannya, mengambil senjata api milik Quenby lalu mereka berdua keluar dari dalam bus. Dari jarak yang cukup jauh, Rafa mengarahkan senjata apinya ke tempat penyimpanan bensin.


"Dor!!"


"DUARRRR!!"


Ledakan dahsyat terdengar bersamaan bus tersebut meledak, api berkobar menerangi jalan raya. Rafa memeluk erat ibunya, menatap bus yang hancur.


"Sepertinya mereka sudah mengetahui kedatanganku, dan mereka sengaja menggiringku untuk kembali kesini." Gumam Rafa pelan.


"Tidak masalah sayang, aku bukanlah Rafa yang dulu. Saat kalian bertemu denganku, di saat itulah ajal kalian menjemput."


Rafa tersenyum sinis, lalu menatap wajah Ibunya yang tengah tersenyum padanya.


"Kita pulang ke markas Mom!" Quenby menganggukkan kepalanya.


Kemudian Rafa mengambil ponsel di saku celananya, menghubungi anak buah Quenby untuk menjemput mereka. Tidak lupa, Rafa menghubungi Jimi. Pengacara yang di percaya Yong Ma sampai saat ini.