
Semua kehidupan tidak di mulai dari buku atau guru. kehidupan di mulai dari seorang Ibu.
Rava duduk di kursi, menatap wajah Quenby yang tengah tertidur pulas setelah seharian bekerja. Tangannya terulur membenarkan rambutnya yang menghalangi wajahnya.
Setelah puas ia memandangi wajah sang ibu. Rafa beranjak dari kursi lalu meletakkan selembar kertas di telapak tangan Quenby.
"Tidurlah yang nyenyak, meski kau tak pernah bahagia di duniamu. Setidaknya kau masih bisa merasakan bahagia meski dalam mimpi." Gumam Rafa.
Setelah itu ia beranjak pergi dari kamar Quenby, dan seperti malam malam yang lalu, Rafa tidak pernah ada di rumahnya.
Tak lama kemudian Quenby terbangun, matanya terbuka. Ia merasakan kehadiran Rafa di sampingnya lalu ia bangun dan duduk di atas tempat tidur. Matanya menatap selembar kertas yang tergeletak di atas tempat tidur lalu mengambilnya dan membaca tulisannya.
...Mom.....
Nyenyakkah tidurmu malam ini? atau kau menemukan kebahagiaanmu dalam mimpi?
Mom..
Apakah kau tahu? aku senang melihatmu saat tertidur, kau tahu kenapa Mom?
Saat tidur kau berhenti bicara.
Saat tidur kau berhenti memarahiku.
Saat tidur kau berhenti menghinaku seolah olah aku bukan darah dagingmu.
Mom..
Seberapa banyak kalimat yang kau ucapkan begitu menyakiti hatiku.
Betapapun kau membenci dan tak pernah menganggap keberadaanku, tak pernah menghargai setiap usahaku.
Aku tetap mencintaimu, seperti udara yang selalu memberikan kehidupan untuk semua mahluk hidup.
Mom..
Apakah kau tahu, seberapa dalam kau torehkan luka di hatiku?
Setiap kata lebih dari sayatan pisau di setiap urat nadi. Sakit Mom..sakit banget..
Mom..
Aku masih bisa tahan saat dunia tak menerimaku.
Aku masih bisa sanggup menegakkan kepala saat mereka mengatakan aku anak haram.
Aku masih sanggup berjalan dan menatap masa depan saat mereka meremehkanku, merendahkanku, mengucilkanku bahkan menganggapku gila.
Mom..
Satu kalimat dari bibirmu, sungguh membuatku tak sanggup mengangkat kepalaku sendiri.
Tapi Mom..walau bagaimanapun aku tetap menyayangimu.
Karena apa Mom?
Meskipun kau tidak ada saat kuterjatuh, bahkan bahumu tak ada saat kumenangis, bahkan kau tak ada saat pertama kali ku melihat dunia.
Aku tetap menghormati dan menyayangimu dengan seganap jiwa dan ragaku, bahkan aku sanggup menukar nyawaku demi kebahagiaanmu.
Kau lah yang telah melahirkanku, membiarkanku mengerti makna hidup. Mengenalkanku pada rasa sakit.
Mom..
Aku tidak pernah menyalahkanmu..tidak pernah..aku mengerti, semua terjadi karena situasi yang tidak sesuai kenyataan.
Mungkin kau juga kesal, mungkin kau juga tidak menginginkan seperti ini..aku mengerti mom
Terima kasih atas hidup dan luka yang telah kau berikan. Terima kasih atas cinta yang telah kau berikan. Tidak ada kata lagi yang sanggup mewakili selain.
Happy birthday Momy..I Love you so much.
Minggu 11 Juli 2021
Rafa Giovany
Quenby melipat surat itu, air matanya mengalir deras membasapi pipi. Wajahnya tengadah menatap langit langit kamar. Kedua tangan meremas sprei dengan sekuat tenaga.
"Aaaakkhhh!" pekiknya
"Aku memang bukan ibu yang baik, aku bukan ibu yang baik..." ucap Quenby pelan.
Kemudian Quenby turun dari atas tempat tidur, berlari menuju pintu untuk mencari Rafa. Namun saat ia membuka pintu, ia melihat lilin menyala sepanjang jalan.
"Rafa.." ucapnya pelan seraya terisak, kakinya terus melangkah memperhatikan lilin yang berwarna warni menyala terang.
Di setiap anak tangga ia juga menemukan lilin yang sama menyala terang, hingga anak tangga terakhir. Langkahnya terhenti, menatap kue ulang tahun di atas meja dengan lilin angka 27.
"Rafa.."
"Happy birthday Momy!!" seru Rafa tiba tiba saja muncul di bawah meja. Dengan topi hiasan terbuat dari kertas.
"Rafa!"
Quenby berlari dan memeluk tubuhnya erat. "Aku tidak akan meminta maaf lagi padamu, tidak akan. Tapi aku akan tunjukkan padamu, kalau aku bersungguh sungguh meminta maaf." Kata Quenby seraya menangis di pelukan Rafa.
Rafa hanya tersenyum, senyum yang sulit di artikan. Hanya Rafa yang tahu, untuk apa senyum itu, dan kenapa dia tersenyum.