
Setelah seharian mondar mandir mengungkap kebenaran kasus serangkaian pembunuhan berencana yang di mulai dari psikiater yang bernama Vanila, Albert, Joy, Sean. Semuanya kembali ke titik yang sama.
Yama memang yang memerintahkan Avram untuk membunuh mereka semua karena dendam dan untuk menghilangkan jejak. Dan Avram yang membuat rencana serangkaian pembunuhan itu. Namun Avram sendiri belum sempat melakukannya, sudah ada orang lain yang lebih dulu melaksanakan pembunuhan itu.
Dan semua bukti bukti yang sudah Quenby dapatkan bersama Rey. Semua tuduhan itu mengarah kepada putranya sendiri. Mr J yang di sebut sebut Avram dalam catatan kecilnya hanyalah akal akalan Avram saja, yang niat awalnya untuk mengalihkan perhatian Polisi jika tertangkap.
Tetapi karena masih tidak percaya, Rey dan Quenby kembali mengulang penyelidikan dari nol. Keterhubungan Mr J dalam catatan kecil Avram dan Mr J yang ada dalam daftar nama nama orang penting di belakang Universitas tempat Rafa menimba ilmu. Tidak ada kaitannya, Mr J yang di sebut sebut dalam daftar orang penting di kampus itu adalah seorang Bangsawan terkenal dan memiliki pengaruh besar di pusat pemerintahan kota tersebut, putra dan putri Mr J itu tidak lain adalah Aranza dan Valeri.
Sesuai dugaan awal Rey, yang mengatakan kalau dalangnya orang terdekat Quenby. Mereka pun mulai menyelidiki orang orang terdekat Quenby termasuk pengacaranya Yong Ma bernama Jimi.
Keesokan harinya, Jimi di panggil dan di interogasi karena Quenby lebih dulu tahu kedatangan Jimi di banding Ava. Namun setelah di interogasi dan di selidiki mereka berdua. Jimi sama sekali tidak ada keterhubungan dengan kasus pembunuhan itu. Wajah Jimi yang rusak karena mengalami kecelakaan hingga menyebabkan wajahnya hancur dan harus kehilangan putrinya yang seumuran dengan Keiko.
Quenby menundukkan kepala memperhatikan foto foto yang berserakan di atas meja.
"Bagaimana Quen?" tanya Rey seraya menyodorkan secangkir kopi kepada Quenby.
"Haruskah kita mulai dari awal untuk yang ketiga kalinya?" tanya Quenby menoleh ke arah Rey, mengambil cangkir kopi di tangan pria itu.
"Mari kita lihat." Kata Rey, memperhatikan skema yang sudah dia buat beberapa hari yang lalu.
"Tidak mungkin puttaku yang melakukan ini." Ucap Quenby pelan.
Rey menoleh ke arah Quenby lalu mendekatinya, mereka berdua kembali memperhatikan semua foto yang ada di atas meja.
"Suamimu tengah melindungi putramu, aku tahu kalau Avram tidak bersalah." kata Rey. "Kita di buat pusing dengan mengusut tuntas Mr J yang memang tidak ada." Ungkap Rey.
"Apa yang akan kau lakukan? melaporkan semua bukti ini? dan putraku akan di hukum mati?" tanya Quenby sedih.
"Tentu saja, tapi jika putramu di tangkap. Dia tidak akan mendapatkan hukuman mati." Jelas Rey.
"Hak asuhmu akan di ambil dan putramu selain mendapatkan hukuman juga akan di rehabilitasi. Setelah hukumannya selesai, pemerintah akan mencarikan orang tua angkat yang baru untuk putramu." Kembali Rey menjelaskan.
"Keputusan ada di tanganmu. Aku tidak akan bertindak sebelum kau memilih siapa yang akan kau lindungi." Kata Rey lalu duduk di kursi.
"Maksudmu?"
"Jika kau biarkan Avram mengakui kesalahan putramu, maka pengadilan tidak akan merubah keputusan untuk menghukum mati Avram. Dan kau bebas hidup bersama dengan putramu yang psikopat itu. Tapi jika kau memilih membebaskan Avram, kau akan kehilangan hak asuh Rafa tapi sisi baiknya adalah, putramu bisa sembuh dan membuatnya jera untuk tidak melakukan pembunuhan itu lagi."
"Aku tidak tahu, sama sama pilihan yang sulit. Tetapi jika aku harus memilih, aku pilih putraku tetap bersamaku." Kata Quenby putus asa.
"Quen, putramu sudah sangat lihay dan tidak bisa di anggap sepele. Putramu sudah bisa membalikkan fakta seolah olah dia tidak bersalah dengan menunjukkan bukti bukti yang palsu. Kenyataannya, dia lah yang berbuat." Rey kembali mengingatkan Quenby.
"Rasanya tidak mungkin kalau putraku bisa sekejam itu." Quenby benar benar dalam situasi dilema.
"Berapa kali aku harus jelaskan, Psikopat itu tidak terlihat seperti penjahat pada umumnya. Dia bersikap tenang, tertawa, memanipulasi lawan tapi kelemahannya dia tidak mampu mengenali emosinya sendiri." Jelas Rey lagi.
"Entahlah!" sahut Quenby menyerah.
"Sekarang begini saja, aku beri kau waktu dalam tiga hari untuk memutuskan siapa yang akan kau pertahankan. Setelah aku mendapatkan keputusan darimu, baru aku akan melaporkan bukti bukti ini."
"Baiklah, aku akan pikirkan ulang." Kata Quenby lalu beranjak dari kursinya.
"Sekarang kau temui Avram dan kalian diskusi terlebih dahulu sebelum semuanya terlambat. Karena target berikutnya adalah kematian orang orang terdekatmu. Tuan Alfarezi dan Nyonya Karina." Rey kembali mengingatkan.
"Baik!" sahut Quenby.