
Quenby pulang ke rumah tepat hari sudah tengah malam. Asisten rumah tangga membukakan pintu rumah, lalu Quenby bergegas menuju kamar Rafa.
Perlahan ia membuka pintu kamar, melihat putranya sudah tertidur pulas. Quenby melangkah pelan mendekati tempat tidur. Berdiri tegap memperhatikan wajah putranya dengan tatapan penuh penyesalan.
"Aku tidak percaya, kau melakukan semua ini hanya karena kecewa memiliki orang tua sepertiku..apa kesalahanku tidak bisa kau maafkan sayang? apakah tidak ada cara lain untuk memperbaiki hubungan kita selain menghancurkanku, ibumu sendiri?" gumam Quenby dalam hati.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah. Aku tidak akan menyerahkanmu ataupun Avram. Kalian berdua harus tetap bersama, dan keputusanku sudah bulat. Aku rela hancur, demi kalian berdua." Ucap Quenby dalam hati sambil menyeka air matanya yang hampir jatuh.
Quenby membungkukkan badan, mencium kening Rafa sekilas. Lalu kembali keluar daru ruangan menuju kamar pribadinya. Sesampainya di kamar, Quenby membersihkan diri lalu duduk di kursi balkon kamar memikirkan kembali keputusan yang akan dia ambil.
Membiarkan Avram mengakui kesalahan yang tidak di perbuatnya, sama saja mengambil nyawa Rafa. Melepaskan Avram dari penjara, lalu membiarkan Rafa di penjara dan di asuh orang tua lain. Sama saja membunuhnya pelan pelan. Akhirnya Quenby memutuskan, untuk menyelamatkan keduanya dengan caranya sendiri tanpa bantuan pihak berwajib.
***
Keesokan paginya, Quenby meminta Ava dan Karina untuk pergi ke Indonesia. Usul Quenby yang tiba tiba membuat kedua orang tuanya tidak mengerti. Beruntung Quenby memiliki alasan kuat mengapa meminta Ava dan Karina pulang ke Indonesia.
"Ada apa? kenapa kami harus pulang ke Indonesia?" tanya Karina.
Kemudian Quenby menjelaskan. Ia meminta Ava dan Karina untuk membeli rumah di sana, untuk mereka semua. Quenby berencana akan pindah ke Indonesia setelah berhasil membawa pergi Avram dan Rafa.
"Kalian tidak perlu khawatir, soal surat kepindahan biar aku yang urus." Kata Quenby.
"Baiklah jika itu keputusan yang tepat. Kami akan pulang ke Indonesia." Jawab Karina senang.
"Sebaiknya kalian berkemas." Pinta Quenby.
Ava dan Karina menyetujuinya, lalu mereka berdua kembali ke kamar untuk mengemasi pakaian dan barang yang di butuhkan. Sementara Quenby menghubungi anak buahnya untuk mengurus surat surat dan jadwal keberangkata kedua orang tuanya.
"Ada apa Mom?" tanya Rafa.
Quenby menoleh ke belakang, tersenyum lalu menghampiri putranya.
"Tidak ada apa apa sayang, kau sebaiknya segera ke kampus. Nanti terlambat, hari ini biar aku yang mengantarkanmu." Kata Quenby.
"Baiklah Mom..ayo." Ajak Rafa untuk segera berangkat.
"Paman Acar, biar aku yang bawa mobilnya. Kau istirahat saja di rumah." perintah Quenby.
"Baik Nyonya!" sahut Acar lalu menyerahkan kunci mobil kepada Quenby.
"Terima kasih!"
Acar membungkukkan badan sesaat, memperhatikan mereka masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian, mobil melaju meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Semuanya asik dan larut dalam lamunannya masing masing. Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan pintu gerbang kampus. Rafa membuka pintu mobil lalu keluar dan kembali menutup pintunya. Melambaikan tangan saat mobil milik Quenby melaju meninggalkan kampus.
Sepeninggal Quenby. Mobil milik Alrick menepi tepat di hadapan Rafa. Nampak Elena keluar dari dalam mobil bersama Alrick.
"Baiklah Elena, aku tidak akan mengganggumu. Jika memang kau memilih pria itu, aku tidak masalah." Gumam Rafa dalam hati, lalu balik badan melangkahkan kakinya memasuki halaman kampus.
Elena yang memperhatikan sikap Rafa yang kembali dingin dan angkuh kepadanya tersenyum senang.
"Maafkan aku, Rafa. Aku terpaksa melakukan ini, demi kebaikanmu. Aku tidak punya waktu lagi untuk menemanimu. Tapi selagi aku masih bisa bernapas, akan selalu ada buatmu meski tak sedekat dulu." Ucap Elena pelan.
"Jadi? bagaimana? apa sudah cukup sandiwaranya?" tanya Alrick.
"Cukup, jika aku butuhkan. Aku akan memanggilmu." Jawab Elena.
"Baiklah, kalau begitu nanti siang aku tidak perlu menjemputmu, adikku yang bawel!" sahut Alrick mencubit hidung Elena.
"Terima kasih kak!" Elena tersenyum lebar, lalu balik badan setengah berlari ia memasuki halaman kampus. Dan Alrick kembali masuk ke dalam mobil, meninggalkan kampus tersebut.
Sementara di tempat lain, Quenby tidak menemui Avram di penjara. Tetapi menemui anak buahnya di markas untuk menyusun rencana.
"Besok, Avram dipindahkan ke lapas lain. Momen yang bagus untuk kalian membebaskan Avram dan membawanya ke tempat persembunyian yang sudah di tetapkan, lakukan tanpa harus meninggalkan jejak. Kalian paham?" tanya Quenby kepada seluruh anak buahnya.
"Paham Nona! sahut mereka serempak.
Kemudian Quenby membagi tugas kepada anak buahnya yang akan di tugaskan untuk membebaskan Avram. Keputusan Quenby sudah bulat, untuk tidak memilih salah satu di antara Avram dan Rafa. Ia memilih keduanya untuk tetap bersamanya meski nanti mereka harus menjadi buronan.