
Sejak kejadian di persidangan itu, Rafa lebih banyak mengurung diri di kamarnya. Apalagi kabar berita tentang Avram yang di jatuhi hukuman mati karena serangkaian pembunuhan berencana semakin santer jadi bahan perbincangan hangat di berbagai media. Bahkan, satu kampus tempat Rafa kuliahpun menjadi tahu.
Hinaan dan caci maki mereka lontarkan untuk Rafa. Tidak segan segan mereka membuly Rafa dengan mengatakan Anak Pembunuh. Mental Rafa semakin down, tidak mau makan dan pergi ke kampus lagi.
Quenby, sebagai istri juga Ibu, hatinya ikut hancur. Tidak banyak yang bisa ia lakukan, selain berusaha membujuk dan menenangkan Rafa. Walaupun hasilnya sia sia, bahkan Elena pun tidak sanggup menenangkannya.
Satu bulan berlalu, Rafa masih dalam kondisinya yang seperti itu. Sesekali ia pergi ke kampus. Meski tatapan benci dan caci maki kerap ia terima. Namun Rafa tidak bisa menerima begitu saja hinaan mereka. Di kampus Rafa seringkali berkelahi dan berbuat kesalahan dan akhirnya mendapatkan surat peringatan dari pihak kampus.
Hingga hari eksekusi mati untuk Avram segera di laksanakan. Satu jam sebelum eksekusi itu di lakukan, Avram meminta satu permintaan terakhir yaitu bertemu dengan Rafa. Kebetulan, Avram meminta salah satu Polisi yang berwajah tampan, yang pernah hadir di persidangan tersenyum pada Rafa. Dan Polisi itu adalah Rey, sahabat Avram dulu sewaktu masih remaja.
Kemudian Rey datang mengunjungi rumah Quenby untuk menjemput Rafa. Kedatangan Tey di sambut oleh Rafa dan Quenby, kemudian Rey menjelaskan kedatangannya untuk menjemput Rafa datang ke penjara atas permintaan Avram. Quenby pun mengijinkannya, meski sebenarnya Quenby ingin ikut ke sana dan melihat Avram untuk terakhir kalinya. Namun Rey melarangnya, karena Avram hanya ingin bertemu Rafa saja.
Akhirnya Quenby pun mengalah, dan membiarkan Rey membawa Rafa ke penjara untuk bertemu Avram.
***
Di sepanjang koridor penjara, Rafa dan Rey berjalan bersama tanpa ada perbincangan. Rafa berlari saat melihat Avram tengah berjalan bersama dua anggota Polisi.
"Dady!!"
Avram menoleh, balik badan menyambut tubuh Rafa yang memeluknya dengan erat.
"Dady, kau baik baik saja?" tanya Rafa.
"Aku baik baik saja sayang." Jawab Avram tertawa samar.
"Dady mau kemana? apa Dady mau di pindahkan?" tanya Rafa lalu melepas pelukannya.
"Iya sayang, aku di pindahkan ke penjara lain." Kata Avram berbohong.
"Dady baik baik di sana, aku akan sering menjengukmu. Aku janji, asal Dady baik baik saja." Kata Rafa menatap wajah Avram yang terlihat kurus.
Avram tengadahkan wajah, tersenyum dan berusaha untuk tidak menangis.
"Tentu saja sayang, aku pasti baik baik saja dan segera kembali ke sini." Jawab Avram. "Aku dengar kau mulai nakal di kampus?"
"Aku janji Dad, aku tidak nakal lagi. Aku akan giat belajar dan sering menjengukmu." Kata Rafa tersenyum.
"Janji ya, kau tidak boleh nakal?"
Rafa menganggukkan kepalanya. "Aku janji Dad!"
"Ceklek ceklek!"
Suara jeruji penjara di buka, seorang polisi membuka pintu penjara yang menghubungkan koridor satu ke koridor lainnya.
"Dady! cepat kembali!!" seru Rafa memegang besi jeruji, tersenyum ke arah Avram yang berjalan di kawal dua polisi.
"Dady! Dady!" Rafa terus memanggil.
Avram membalikkan badan, berjalan mundur sambil tertawa, satu kakinya di angkat dengan kedua tangan bertolak pinggang meloncat loncat, seperti anak kecil. Di akhir pertemuannya, Avram mengingatkan masa kecil Rafa. Rafa pun tertawa di balik jeruji besi.
"Dady!" seru Rafa lagi.
Avram semakin jauh berjalan mundur hingga hilang di balik tembok.
"Dady!!" panggil Rafa lagi.
Avram masih sempat menyembulkan kepala sambil tertawa dan melambaikan tangannya. Rafa kembali tertawa dan memanggil Avram saat Avram benar benari hilang di balik tembok.
"Dady!! Dady!!" jerit Rafa histeris. Dan Rey hanya bisa diam memperhatikan dengan mata berkaca kaca.
"Dady!!" Dady!!"
"Rafaaa!!!"
Terdengar Avram berteriak lalu muncul di balik tembok, berlari ke arah Rafa dan mereka saling berpelukan, di sertai deraian air mata.
"Dady!! jangan pergi!! jangan pergi!!" ucap Rafa menangis histeris.
"Tolong! tolong aku!!" Seru Avram sambil menangis. "Bantu Akuuu!!" pekiknya kedua tangan melambai ke arah Rey meminta tolong.
Lalu Avram berdiri di hadapan Rey, berkali kali membungkukkan badan, meremas pakaiannya layaknya anak kecil.
"Tolong aku! bantu aku!!" ucap Avram sambil menangis histeris, begitu juga Rafa.
"Dady!!"
Dady!!" Kedua tangannya terulur berusaha meraih tubuh Avram yang terus mengulang kata katanya di depan Rey.
"Tolong aku!! bantu aku! aku salah, aku akui salah!!" Avram terus mengulangnya.
"Dady! Dady jangan pergi! Dady jangan pergi!" pekik Rafa menjerit menangis histeris.
Rey dan kedua polisi yang berada di belakang Avram, terharu melihat Ayah dan Anak yang memiliki ikatan batin yang kuat. Akhirnya Rey meminta kedua Polisi itu untuk menunda eksekusi mati Avram.
Rey sendiri membawa paksa Rafa pergi dari penjara dan mengantarkannya pulang. Setelah mengantarkan Rafa pulang, Rey meminta keringanan dan permohonan kepada pihak terkait. Dan ternyata permintaan Rey di terima, pihak pengadilan memutuskan menunda hukuman mati Avram sampai ada bukti baru, dan membiarkan Rey membuka lagi kasus itu dan melakukan penyelidikan ulang.