
Sehari setelah Elena datang ke Indonesia. Di temani Rafa, mereka mendatangi pemakaman She Blak. Ia juga menanyakan penyebab kematiannya.
"Aku yang melakukannya." Kata Rafa menatap tajam ke arah Elena. "Kau mau melaporkannya?"
Elena menarik napas dengan dalam, matanya berkaca kaca. Membalas tatapan mata Rafa tanpa berkedip cukup lama.
"Tidak!" sahut Elena, tatapannya ia alihkan ke pusara.
"Kenapa? aku yang sudah membuat rem mobil Paman blong." Rafa mengakui perbuatannya terang terangan di hadapan Elena.
"Aku tidak akan melaporkannya, karena dia juga sering menyiksaku." Jawab Elena tenang.
"Apa alasan Paman sering menyiksamu?" tanya Rafa masih menatap tajam Elena.
Elena mengalihkan pandangan menatap tajam ke arah Rafa lagi. Berjalan satu langkah dan berdiri tepat di hadapannya.
"Kau butuh jawaban? atau meng interogasiku?" tanya Elena pelan.
"Apa?" tanya Rafa balik.
"Tidak, aku hanya bercanda." Jelas tersemat senyum di sudut bibir Elena. "Apakah aku harus memberitahumu apa alasannya, sementara aku tidak tahu apa alasan ayah, menyiksaku."
Rafa terdiam menatap kedua bola mata Elena cukup lama. Saling menatap tajam, tanpa ada sepatah katapun. Namun detik berikutnya mereka tersenyum secara bersamaan.
"Kita pulang, hari sudah sore." Rafa meraih tangan Elena lalu mereka melangkah bersama meninggalkan pemakaman.
"Rafa.."
Rafa menoleh ke arah Elena. "Ya?"
"Aku tidak mau pulang dulu, maukah kau menemaniku?" tanya Elena.
"Tentu saja, kau mau kemana?" tanya Rafa.
"Ayo, nanti aku beritahu." Kata Elena lalu menarik tangan Rafa masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil, Rafa bertanya. "Kita mau kemana?"
"Jalan jalan, melihat lihat kota Jakarta di malam hari. Bagaimana?" usul Elena.
Rafa tertawa lebar, mengelus pipi Elena dengan lembut. "Boleh."
Kemudian Rafa menyalakan mesin dan mobilpun melaju meninggalkan pemakaman.
Elena sangat senang dan terhibur, melihat lihat kota Jakarta di malam hari. Dua jam berlalu, Rafa mulai lelah dan mengajak Elena pulang.
"Tidak, aku tidak mau pulang ke rumah. Bisa antarkan aku ke hotel? aku masih ingin menikmati pemandangan di kota ini. Nanti setelah itu kau boleh pulang." Tolak Elena.
"Kau serius?" tanya Rafa.
"Baiklah.." Akhirnya Rafa menyetujui keinginan Elena.
***
Di kamar hotel.
"Elena, aku tidak tega meninggalkanmu di sini. Aku akan menemanimu disini." Niat Rafa untuk pulang kerumah ia batalkan.
"Sungguh?" tanya Elena.
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Menghubungi Quenby dan meminta izin pulang larut malam dengan alasan mengajak Elena jalan jalan. Rafa meminta Quenby untuk tidak menunggunya. Setelah itu, ia memutuskan sambungan telpon dan memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.
Elena sangat senang, memeluk Rafa sekilas. "Aku mau mandi dulu, kau tunggu di sini."
Rafa menganggukkan kepalanya, lalu balik badan dan naik ke atas tempat tidur. Mengeluarkan ponselnya lagi dan memainkan sebuah game di ponsel sambil menunggu Elena selesai mandi.
Tiga puluh menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka. Rafa mengalihkan pandangannya menatap Elena yang hanya menggunakan balutan handuk untuk menutupi tubuhnya.
"Kau sudah selesai? kenapa kau tidak memakai bajumu?" tanya Rafa meletakkan ponselnya di atas meja.
Namun Elena tidak menjawab pertanyaan Rafa. Ia terus melangkah lalu naik ke atas tempat tidur. Rafa hanya diam memperhatikan tidak mengerti maksud Elena.
"A, appa yang kau lakukan?" tanya Rafa dengan gugup.
Elena naik ke atas tubuh Rafa lalu berbisik. "Aku ingin memberikanmu sesuatu yang tidak akan mungkin kau lupakan seumur hidupmu."
"A, appa?" tanya Rafa, bulu kuduknya merinding saat Elena menyentuh telinga dan leher Rafa dengan bibirnya.
"Elena hentikan, jangan lakukan ini.." Rafa menolak dengan lembut namun Elena mengabaikannya.
Elena duduk di atas tubuh Rafa, melepas handuknya lalu di lemparkan ke lantai. Rafa memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Elena tanpa ada sehelai benangpun menutupinya.
"Elena, jangan lakukan itu." Pinta Rafa.
"Tenanglah Rafa, aku menginginkannya." Jawab Elena manja, lalu memaksa membuka kaos yang Rafa kenakan, ia lemparkan ke lantai begitu saja.
Saat Elena memaksa Rafa membuka celamanya, Rafa menolak kembali. Namun Elena tidak kehabisan akal. Ia memeluk tubuh Rafa dan ******* bibirnya dengan liar.
Rafa yang menolak, mendapat ciuman panas dari Elena. Hasratnya terpancing tanpa perlu di ajari. Rafa membalas ciuman Elena, dan membiarkan gadis itu membuka celananya.
Elena merubah posisinya menjadi di bawah, dan meminta Rafa untuk melakukannya. Namun Rafa kembali menolak dan hendak bangun, tetapi Elena menarik kembali tangan Rafa dan mencium bibir Rafa.
Rafa tidak dapat menolah hasrat biologisnya, ia mengikuti aturan main Elena di atas tempat tidur. Kali ini tidak ada lagi penolakan dari bobir Rafa. Rafa hanyut dalam permainan liar Elena, ia lupa segala galanya dan menikmati apapun yang Elena berikan.
Dinding kamar hotel menjadi saksi bisu, dua anak manusia tengah larut dalam kenikmatan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Hingga satu jeritan kecil dari bibir Elena saat Rafa mengambil keperawanan Elena. Namun detik berikutnya Elena kembali terdiam dalam pelukan hangat tubuh Rafa.
Tiga puluh menit berlalu, keduanya mencapai puncaknya. Rafa terbaring lemas di samping Elena. Keringat membasahi tubuh mereka berdua. Elena tersenyum senang meski harus menahan rasa sakit, memeluk tubuh Rafa dan keduanya tertidur pulas.