PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Sandiwara


Pagi pagi Quenby bangun dalam keadaan segar, ia bergegas membersihkan diri. Selang tiga puluh menit, ia selesai merias dirinya yang terlihat cantik meski badannya sedikit kurus.


Quenby bergegas ke kamar Rafa dan membangunkannya. Ia duduk di tepi tempat tidur, membungkukkan badan, menepuk pipi Rafa dengan lembut.


"Jagoanku ayo bangun, sudah siang." kata Quenby.


Perlahan Rafa membuka matanya lalu menatap ke arah Quenby dan tersenyum.


"Tumben Momy bangunkan aku.." sapa Rafa.


"Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan membangunkanmu tiap pagi, menemani kamu sebelum tidur, menyiapkan sarapan dan makan malammu hanya aku, aku saja." ungkap Quenby


"Benarkah?" tanya Rafa.


"Aku berjanji!" Quenby menunjukkan kelingkingnya.


"Terima kasih Momy!" Rafa mengaitkan jari kelingkingnya ke jari Quenby dan tersenyum lebar.


"Ayi bangun, aku siapkan pakaian dan sarapanmu."


Quenby bangun lalu berdiri tegap, melangkahkan kakinya menyiapkan seragam sekolah Rafa. Setelah selesai, ia bergegas keluar kamar untuk menyiapkan sarapan.


Rafa menarik napas dalam dalam, satu sisi ia bahagia melihat Quenby terlihat ceria. Di sisi lain ia membayangkan kesedihan Quenby andai ia tahu kalau Livian telah melakukan kesalahan besar. Perlahan Rafa turun dari atas tempat tidur, lalu beranjak pergi ke kamar mandi.


Tiga puluh menit berlalu, Rafa telah selesai. Ia segera menemui Quenby lalu duduk di kursi meja makan.


"Sayang, kau mau yang mana? selai kacang atau keju?" tanya Quenby


"Keju Mom!" sahut Rafa.


"Pagi!"


Rafa dan Quenby menoleh ke arah suara. Nampak Livian tengah mendorong kursi roda Anna.


"Kalian? sejak kapan kalian pulang?" tanya Quenby terkejut.


"Biar aku jelaskan, Anna akan menumpang di rymah kita untuk beberapa hari sampai mendapatkan rumah. Anna tidak memiliki siapa siap dan dia sudah di keluarkan dari sekolah." Jelas Livian.


"Di pecat? tapi kenapa?" tanya Quenby.


"Anna hamil!" sahut Livian.


"Hamil? siapa yang menghamilimu?" tanya Quenby, setau dia Anna masih single.


"Yang menghamiliku sudah beristri, dia tidak mungkin menikahiku. Anak ini lahir tanpa ayah!" potong Anna.


"Deg!


Quenby langsung teringat masa lalunya, ia sangat paham situasi dan perasaan Anna.


"Bolehkah aku menumpang di rumahmu sementara waktu? tanya Anna menatap ke arah Quenby.


"Tentu saja boleh Bu Anna, rumah ini akan menjadi surga bagimu!" sela Rafa di akhiri tertawa seringai.


"Rafa, benarkah kau mengizinkannya?" tanya Quenby.


"Ya Mom, mungkin anaknya bernasib sama sepertiku. Dan mungkin momy dan dia juga mengalami hal yang sama. Tapi bedanya, Dad tidak pernah berbohong, dan tidak ada sandiwara kemunafikan!" ucap Rafa dengan nada tinggi.


"Sayang, apa maksudmu?" tanya Quenby.


"Ah momy, aku suka bercanda. Lupakan kata kataku," ucap Rafa lalu berdiri. "Aku berangkat sekolah Mom, momy hati hati di rumah ya." pesan Rafa mencium pipi Quenby dengan lembut.


"Aku antarkan kau ke sekolah!" usul Quenby.


"Tidak perlu Momy, aku berangkat bersama paman Acar." Cegah Rafa.


"Baiklah sayang!" sahut Quenby melambaikan tangan ke arah Rafa.


"Anna, sebaiknya kau banyak istirahat. Supaya kandunganmu sehat." Kata Quenby lalu duduk di kursi, di ikuti Livian duduk di sebelah Quenby. "Abaikan kata kata Rafa, jangan tersinggung, dia masih anak anak."


"Tidak apa apa Quen!" sahut Anna.


"Sayang, kau mau rasa apa? keju atau kacang?" tawar Quenby pada Livian.


"Terserah kau, apapun aku suka. Asal kau yang buat, hari ini kau terlihat ceria." Kata Livian menatap wajah Quenby.


"Entahlah, semalam aku minum obat dari Ibu. Bukan obat dari dokter. Aku merasa jauh lebih baik." Jelas Quenby.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Livian mengerutkan dahi menatap wajah Quenby.


"Entahlah, kalau aku minum obat dari Dokter. Aku merasakan tubuhku melemah dan pikiranku sering tidak konsentrasi. Makanya aku ke rumah ibu, dan ibu memberikanku obat. Ternyata obat dari ibu lebih cocok buatku." Ungkap Quenby senang.


"Ini aneh, mengapa obat dari Dokter membuat Quenby seperti orang sakit? ada apa sebenarnya?" ucap Livian dalam hati.


Anna hanya diam menundukkan kepala, sesekali ia melirik dan mengumpat kesal saat Quenby bersikap mesra kepada Livian.