
Satu jam berlalu, Rafa telah menyelesaikan pekerjaan di kafe. Lalu ia bergegas pergi menuju sebuah apartemen yang tak jauh dari kafe milik Quenby. Hanya butuh waktu 15 menit saja, ia telah sampai di halaman Apartemen yang di maksud Aluna.
Menurut informasi yang di dapatkan Aluna selama mengintai Avram. Aluna mengatakan kalau Avram menyewa sebuah apartemen bersama seorang wanita yang bernama Mira yang tak lain sekretarisnya sendiri.
Tanpa menunggu waktu lagi. Rafa bergegas masuk ke dalam gedung, masuk ke dalam lift menuju lantai 7 apartemen. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar no 23.
Rafa mengulurkan tangannya mengetuk pintu cukup keras, lalu ia bersembunyi di balik pintu. Saat seseorang membuka pintu, Rafa langsung berbalik dan mendorong pintu dengan paksa. Ia kembali menutup pintu, menatap seorang wanita yang berdiri mematung dengan raut wajah ketakutan.
"Siapa kau!" bentaknya, melangkah mundur ke belakang. "Tolong-?"
Rafa langsung menubruk wanita itu dan mendekap mulutnya. Menyeret tubuhnya sampai kebalkon kamar.
"Where is my Dad?!" tanyanya di telinga wanita yang bernama Mira, yang tak lain selingkuhan Avram selama ini.
Mira menggelengkan kepala, matanya melebar menatap wajah Rafa.
"Kau tidak mau mengatakannya? baiklah, mungkin kau sudah tidak sayang nyawamu." Rafa mengangkat tubuh Mira hingga kepalanya tertunduk ke bawah.
"Hentikan! baiklah akan aku katakan." Ucap Mira ketakutan.
"Avram berada di taiwan," jawab Mira.
Rafa menatap tajam kedua bola mata Mira. Lalu melepaskan tubuh Mira. Sesaat wanita itu dapat bernapas lega karena Rafa melepaskannya. Namun Rafa berbalik badan dan mengangkat tubuh Mira ke atas lalu ia hempaskan ke bawah. Tubuh Mira meluncur deras bersamaan dengan suara teriakan yang menyayat hati.
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!
"Bukkk!!"
Tubuh Mira ambruk di jalan aspal. Rafa memperhatikan darah segar yang membasahi jalan aspal. Lalu ia bergegas meninggalkan kamar apartemen, sambil melepas sarung tangan karet yang ia gunakan lalu di masukkan kedalam saku jaketnya.
***
Namun Quenby mencoba untuk tidak memperdulikannya, ia berusaha keras untuk tetap meraih semua ingatannya dan memilih diam tanpa memberitahu siapapun. termasuk Avram dan Rafa.
Karena ia sudah tidak tahan, sejak pemeriksaan awal satu minggu yang lalu, tanpa menunggu Rafa pulang dari kafe, ia berangkat ke rumah sakit dan mengambil hasil tes yang selama ini ditunggunya.
Satu jam menunggu akhirnya hasil tes itu keluar, Quenby berbincang serius mengenai penyakitnya itu. Setelah selesai, ia memutuskan untuk pulang sebelum Rafa kembali.
Ia berjalan dengan langkah gontai, menyusuri tepi jalan raya. Quenby melihat kayu balok berukuran sedang, lalu memungutnya dan kembali melangkahkan kakinya sembari memegang balok kayu itu.
Amnesia Retrograde, itu yang di alami Quenby saat ini. Dan amnesia yang menyerang Quenby bersifat permanen, dan sulit untuk di sembuhkan. Dokter mengatakan kalau amnesia yang di derita Quenby akibat trauma masa lalu yang mendalam, memang tidak mudah di usia yang masih anak anak harus mengandung dan melahirkan seorang anak hasil dari perkosaan, tidak hanya itu, amnesia yang di alami Quenby, terjadi cidera otak akibat benda tumpul yang menghantam tengkorak kepalanya.
Quenby berusaha mengingat siapa yang sudah memukul kepalanya. Namun itu sulit untuk di ingatnya, bahkan ia lupa kejadian yang baru saja di alaminya.
"Kenapa aku membawa balok ini?" tanya Quenby dalam hati.
Baru saja ia hendak melemparkan balok kayu itu, terlihat beberapa pria menggunakan setelan jas hitam menghadangnya.
Tiba tiba saja ingatan Quenby kembali ke masa lampau, saat ia masih menjadi ketua mafia. Seketika jiwa membunuhnya bangkit, tanpa menunggu mereka menyerang. Quenby lebih dulu menyerang mereka menggunakan balok kayu.
"BUKKK! BUKK! BUKK!!"
Tiga kali ayunan balok kayu itu, ke kepala tiga pria sekaligus, tersungkur ke jalan aspal bersimbah darah.
Lalu memutar tubuhnya dan berbalik memukul dua pria.
"BUK BUK!!"
Salah satu pria tersungkur, satu pria lainnya mengeluarkan pisau belati lalu ia arahkan keperut Quenby. Dengan sigap, Quenby berkelit menghindari serangan, bersamaan dengan balok kayu itu ia ayunkan ke kepalanya hingga tersungkur. Darah menggenang di jalan aspal, Quenby tersenyum menyeringai lalu balik badan dan berlari meninggalkan lokasi sebelum ada yang melihatnya.