PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Amnesia?


Rafa yang baru saja pulang dari apartemen. Menemukan Quenby tengah duduk bengong di sofa. Rafa berjalan mendekat lalu bersimpun di kaki Ibunya. Terlihat noda darah yang mengerung di wajah Quenby, dan mengundang tanya Rafa.


"Momy, kenapa wajamu banyak noda darah?" tanya Rafa tengadahkan wajahnya.


Quenby terdiam, mengusap pipinya sendiri. Mengerutkan dahi, coba mengingat apa yang sudah terjadi.


"Aku membunuh orang." Kata Quenby tersenyum layaknya anak kecil.


"Membunuh?" tanya Rafa lalu duduk di samping Quenby. Meraih kedua tangan Ibunya, menatap wajahnya. "Siapa yang Momy Bunuh?"


Quenby kembali alisnya bertaut mencoba mengingatnya lagi. "Aku tidak tahu!" sahutnya.


"Kenapa Momy membunuh orang itu?" tanya Rafa lagi.


"Mereka mau membunuhku. Ya sudah, aku bunuh mereka sekalian." Jawab Quenby.


"Mereka.." ucap Rafa pelan, itu artinya lebih dari satu yang berusaha membunuh Ibunya.


"Paman!" panggil Rafa kepada Acar yang berada di dapur.


"Iya Tuan!" sahut Acar.


"Ambilkan air hangat dan kain lembut!" perintah Rafa.


"Baik Tuan!"


Rafa terus memandangi wajah Ibunya, begitu juga dengan Quenby. Seperti orang yang baru saja bertemu setelah sekian lama berpisah.


Tak lama kemudian, Acar datang membawakan air hangat dalam wadah sedang beserta kain lembut.


"Terima kasih Paman!"


Acar membungkukkan badan sesaat, lalu ia kembali ke dapur. Sementara Rafa membersihkan wajah Quenby dengan air hangat.


Setiap sentuhan lembut tangan Rafa, mata Quenby terpejam, meraih tangan Rafa lalu menciumnya. "Kau putraku.."


Rafa menarik tangannya, menatap bingung Quenby.


Rafa tidak menjawab pertanyaan Quenby, ia langsung memeriksa tas Quenby yang ada di atas meja. Lalu mengambil surat surat yang berisi hasil tes kesehatan Quenby.


Mata Rafa melebar, mulutnya menganga membaca setiap keterangan yang tertulis di kertas itu. Lalu ia menatap wajah Quenby dengan tatapan sendu.


"Momy!"


Rafa memeluk erat tubuh Quenby, matanya mulai basah oleh air mata. Ia tidak menduga selama ini Quenby berusaha menutupi penyakitnya, dan menganggap semua itu baik baik saja. Sekarang Rafa paham, mengapa sikap Quenby sering berubah ubah dan tempramental.


"Maafkan aku, Momy..maafkan aku.." ucapnya pelan.


"Maaf untuk apa sayang?" tanya Quenby melepas pelukannya.


"Momy, katakan padaku. Siapa yang telah memukul kepala Momy?" tanya Rafa.


Quenby mengerutkan dahinya, coba mengingat. Namun hasilnya sia sia, Dokter bilang. Quenby akan mengalami amnesia selama 15 menit, setelah itu ia akan kembali normal. Tetapi gal itu akan terus berulang, setiap hari sampai amnesia langka yang di derita Quenby menjadi permanen.


"Tidak perlu kau ingat, biar aku yang menyelesaikannya. Mereka akan mendapat balasan yang sama, seperti yang kau rasakan Mom." Kata Rafa dengan nada marah.


Quenby hanya menggelengkan kepala, namun saat mengingat kata bunuh. Quenby tersenyum tipis, dan mengajak Rafa untuk membunuh orang yang telah menghancurkan keluarganya.


"Momy, aku harus pergi ke Taiwan. Ada pekerjaan penting, tapi aku juga tidak bisa meninggalkanmu di sini. Apa kau mau ikut?" tanya Rafa


"Tentu saja aku ikut bersamamu kemanapun kau pergi, kau putraku satu satunya." Jawab Quenby. "Tapi siapa ayahmu? di mana suamiku?"


Rafa menundukkan kepala sesat, hatinya lebih perih dari sebelumnya. Quenby mulai lupa hal hal pribadi dan orang terdekatnya.


"Kau tidak punya suami Mom..suamimu sudah lama mati." Jelas Rafa.


"Mati? kenapa aku tidak mengingatnya? tapi ya sudahlah kalau memang sudah mati. Aku juga tidak memiliki ingatan tentang ayahmu." Quenby tertawa lebar, di ikuti Rafa.


"Itu baru, Momy aku!" seru Rafa memeluknya kembali.


Hari ini Quenby melupakan siapa suaminya, pelan tapi pasti. Quenby akan melupakan putranya dan dirinya sendiri.