PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Makan malam


Sepulang sekolah Rafa bergegas mencari keberadaan Quenby. Ia bernapas lega mendapati Quenby ada di kamarnya tengah merajut syal untuk Rafa.


"Sayang, kau sudah pulang?" tanya Quenby tersenyum menatap ke arah Rafa yang berjalan mendekatinya lalu duduk di sebelah Quenby.


"Momy baik baik saja?" tanya Rafa menatap raut wajah Quenby.


"Tentu saja sayang, sejak aku minum obat pemberian nenekmu. Aku merasa jauh lebih baik." Ungkap Quenby sambil terus merajut.


Rafa terdiam mendengar pengakuan Quenby, seperti dugaannya. Ada seseorang yang telah meracuni Quenby dengan obat obatan.


"Momy, bolehkah aku melihat obat obatan dari Dokter?" tanya Rafa.


"Tentu sayang, itu di tempat sampah. Aku sudah buang semuanya." Tunjuk Quenby menoleh ke arah tempat sampah.


Rafa berdiri, melangkahkan kakinya mendekati tempat sampah. Lalu ia ambil semua obat obatan yang ada di dalam sampah lalu di masukkannya ke dalam tas. Setelah itu ia kembali menghampiri Quenby dan duduk di sebelahnya.


"Momy, bolehkan aku kerumah oma dan opa? aku rindu mereka berdua."


"Tentu sayang, nanti aku antar setelah selesai rajutan ini." Usul Quenby.


"Baiklah Momy!" sahut Rafa. "Mom..aku mau minta izin lagi."


"Izin kemana sayang?" tanya Quenby.


"Elena mengajakku makan malam romantis berdua. Katanya aku harus pakai pakaian dewasa, memangnya makan malam romantis itu apa mom?" tanya Rafa dengan polosnya.


"Hahahahaha!" Quenby tertawa mendengar penuturan Rafa.


"Momy kenapa tertawa?" tanya Rafa.


"Aku tanya, kau jawab dengan jujur. Bagaimana perasaanmu terhadap Elena?"


"Perasaanku?" Rafa mengerutkan dahi. "Perasaanku biasa saja Mom." Jawab Rafa.


"Maksudku, apakah kau merasakan jantungmu berdebar debar, atau kau merasakan rindu terhadap Elena?" tanya Quenby.


Rafa kembali mengerutkan dahi, mencoba membayangkan apa yang di katakan Quenby. "Tidak Mom!" sahut Rafa.


"Hahahaha, ternyata putraku masih kecil!" goda Quenby mencubit gemas hidung Rafa.


"Aku tidak mengerti momy."


"Lupakan, nanti aku siapkan pakaianmu untuk makan malam bersama Elena. Sekarang kita kerumah kakek dan nenekmu." Quenby meletakkan hasil rajutannya di atas sofa. "Sekarang kau bersihkan badanmu, aku tunggu kau dalam 30 menit."


"Oke Mom!"


Rafa beranjak dari duduknya lalu pergi dari hadapan Quenby menuju kamar pribadinya. Tiga puluh menit kemudian Rafa telah selesai begitu juga Quenby. Kemudian mereka pergi kerumah Karina dan Ava.


Sepanjang perjalanan Quenby terus menggoda Rafa hingga tak terasa mereka telah sampai di kediaman Karina dan Ava. mereka berdua bergegas keluar dari dalam mobil. Kebetulan Karina dan Ava tengah menikmati secangkir teh hangat di teras rumahnya.


"Rafaaa!" seru Karina merentangkan kedua tangannya.


"Oma, Opa!" Rafa memeluk Karina dengan erat, lalu bergantian memeluk erat tubuh Ava.


"Aku rindu kalian!" ucap Rafa manja.


"Kami juga merindukanmu sayang, bagaimana kau baik baik saja?" tanya Karina dan Ava bergantian.


"Iya Oma, Opa!" sahut Rafa.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Ava.


"Belum Ayah." Jawab Quenby


"Bagaimana kalau kita buat makanan spesial?" usul Karina.


"Siap Bu, aku sudah lama tidak makan makanan ibu." Jawab Quenby.


"Ayo kita ke dapur!" ajak Karina pada Quenby.


"Kau temani aku di sini." Kata Ava menatap ke arah Rafa.


"Main catur Opa!" ajak Rafa.


"Ayo!"


Rafa dan Ava duduk di kursi, sementara Karina dan Quenby masuk ke dalam rumah menyiapkan makan siang.


"Opa, aku mau bicara penting." Kata Rafa.


"Ada apa Nak?" tanya Ava.


Kemudian Rafa menceritakan kecurigaannya tentang sakit Quenby. Rafa juga menceritakan perbedaan obat yang di berikan Karina dan dari Dokter.


"Boleh kulihat obatnya?" tanya Ava serius


Rafa menganggukkan kepalanya, lalu ia membuka tas dan mengambil obat dalam botol lalu di berikan pada Ava.


"Opa, tolong cari tahu, obat apa itu dan siapa Dokter yang menangani Momy. Setelah itu, Opa beritahu aku dan rahasiakan untuk sementara dari Momy." Pinta Rafa.


"Kau memang anak yang hebat, aku bangga memiliki cucu sepertimu. Kau sangat menyayangi ibumu." Kata Ava matanya berbinar menatap wajah Rafa. "Kau tidak perlu khawatir, besok aku cari tahu tentang obat ini."


"Terima kasih Opa!"


Kemudian mereka masuk ke dalam rumah. Mereka bermain catur sambil menunggu masakan matang. Kurang dari satu jam, Karina memanggil Rafa dan Ava untuk makan siang.


Setelah sekian lama, mereka bergulat dengan permasalahan. Pengulangan pengulangan tanpa jeda. Setelah sekian lama, di ruang makan itu tak pernah tercipta kehangatan. Hari ini, Ava dan Karina bisa merasakan kehangatan itu lagi. Tawa canda terlontar indah di meja makan. Berawal dari Rafa yang menceritakan tentang Elena dan sikap sikapnya yang membuat Rafa tidak mengerti. Mengundang tawa Ava dan Karina, begitu juga Quenby.


"Bahagia itu sederhana, terkadang aku melupakan setiap momen berharga hanya memikirkan hal yang belum tentu terjadi." Gumam Quenby dalam hati.


***


Malam pukul 19:00.


Rafa sudah terlihat rapi, menggunakan sweater berwarna krem di padukan dengan celana jeans berwarna hitam. Rambutnya yang gondrong ia ikat dengan rapi.


Quenby tersenyum memperhatikan wajah Rafa yang lebih mirip dengan wajah Avram. Terbersit dalam benaknya rasa rindu terhadap pria yang telah membuat hidupnya penuh dengan lika liku, suka dan duka yang entah sampai kapan semua itu akan berakhir.


"Kau tampan mirip Ayahmu, sayang!" puji Quenby.


"Apakah Momy merindukan Dady?" tanya Rafa.


"Tentu tidak sayang," jawab Quenby berbohong. "Ayo berangkat, jangan sampai Elena menunggumu terlalu lama."


"Momy ikut, antarkan aku. Aku tidak tahu apa apa tentang makan malam romantis." Pinta Rafa merajuk.


"Ayo Momy..." rajuk Rafa lagi.


"Baiklah sayang, aku antarkan kau makan malam. Hahaha!" jawab Quenby di akhiri ketawa.


"Ayo.." Rafa merangkul tangan Quenby dan bergelayut manja.


"Ternyata putraku bisa selucu dan sepolos ini." Ucap Quenby dalam hati.


"Kita berangkat!"


Mereka berjalan bersama menuju halaman, lalu masuk ke dalam mobil. Quenby melajukan mobilnya meninggalkan rumah menuju sebuah restoran yang sudah di tentukan Elena.


Tak lama kemudian mereka telah sampai di halaman restoran. Quenby menepikan mobilnya.


"Cepatlah kau temui Elena, aku menunggumu di sini." Ucap Quenby


"Aku tidak mau Momy, ayo ikut bersamaku." Jawab Rafa wajahnya cemberut.


"Sayang, makan malam romantis itu berdua. Masa aku harus duduk satu meja bersama kalian. Nanti Elena tidak merasa nyaman." Jelas Quenby


"Begini saja Mom..Momy ikut bersamaku, tapi Momy duduk di kursi lain. Tapi jangan jauh jauh dariku..aku malu mom.." jawab Rafa.


"Oke, aku setuju!" sahut Quenby.


Kemudian mereka keluar dari pintu mobil. Melangkah bersama memasuki restoran. Rafa memperhatikan setiap sudut restoran lalu tersenyum saat melihat Elena yang menggunakan gaun pendek berwarna merah tua, melambaikan tangan ke arah Rafa.


Quenby tersenyum lalu duduk di kursi, ia menoleh ke samping dan berjengkit kaget saat melihat Avram duduk di sebelahnyam


"Kau ada di sini?" tanya Quenby.


"Aku lapar, makanya aku datang ke sini." Jawab Avram. "Ternyata putra kita sudah besar."


Avram menatap ke arah Rafa dan Elena yang tengah berbincang.


"Kau tidak tahu bagaimana putramu memaksaku datang ke sini." Kata Quenby lalu menceritakan sikap polos Rafa meminta Quenby untuk mengantarkannya makan malam.


"Oya?" Avram tertawa kecil mendengarkan cerita Quenby. "Dia sama persis sepertimu, Quen."


"Tapi wajahnya tidak mirip sepertiku, dia mirip denganmu." Balas Quenby


"Kau cemburu?" tanya Avram.


"Tentu saja, Rafa memiliki banyak kesamaan denganmu. Sedangkan aku Ibunya!" sahut Quenby.


"Kau juga sama saja seperti Rafa, sama sama suka merajut!" Avram dengan reflek mencubit gemas hidung Quenby. "Maaf, aku terlalu bahagia."


"Tidak apa apa." Jawab Quenby menundukkan kepala sesaat lalu mereka berdua memperhatikan putranya


Sementara Rafa tengah di landa bingung dengan pernyataan Elena. Ia sama sekali bingung dengan sikap Elena yang seperti ity.


"Aku mencintaimu Rafa.." ucap Elena pelan.


"Aku juga mencintaimu seperti Mom and Dad!" jawab Rafa tersenyum lebar.


Elena menarik napas dalam dalam kemudian bertanya lagi.


"Maukah kau jadi kekasihku?"


"Pacar kamu?" tanya Rafa balik.


Elena menganggukkan kepalanya dan tersenyum menatap penuh harap semoga jawaban Rafa kali ini memuaskannya.


"Aku juga mau punya pacar Elena!" sahut Rafa.


"Pukk!"


Elena menepuk keningnya sendiri. "Kamu mau jadi pacar aku? kita pacaran yuk?"


"Ayok!" jawab Rafa


Elena mendesah kecewa, tapi menit kemudian ia tersenyum lebar. Masa bodoh dengan jawaban Rafa, yang terpenting bagi Elena adalah Rafa sudah menyetujuinya entah itu Rafa mengerti atau tidak ucapannya sendiri.


"Rafa, pejamkan matamu." Pinta Elena.


Rafa mengangguk lalu memejamkan mata. Perlahan Elena mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Rafa sekilas.


Rafa membuka mata ia merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Ia usap bibirnya dan berkata.


"Kau menciumku?" tanya Rafa.


Elena menganggukkan kepalanya, "kau suka?"


"Aku tidak tahu Elena." Jawab Rafa mengerutkan dahi menatap wajah Elena yang terlihat sangat cantik.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Elena lagi.


"Lapar!" sahut Rafa mengusap perutnya.


"Ya Tuhan!" Elena menepuk keningnya berkali kali.


"Kau kenapa?" tanya Rafa mengusap kening Elina. Membuat gadis itu yang tadinya cemberut kembali tersenyum.


"Sudah lupakan, aku baik baik saja. Kita makan ya!" Elena menurunkan tangan Rafa dan menggenggamnya erat.


"El, tanganmu dingin dan berkeringat. Apa kau sakit?" Tanya Rafa membalas genggaman tangan Elena.


"Aku baik baik saja, aku hanya gugup." Jawab Elena melepaskan genggaman tangannya. "Bukankah kau lapar? bagaimana kalau kita makan?"


Rafa menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya."


Sementara Avram dan Quenby yang melihat Elena mencium bibir Rafa, sama sama menundukkan kepala dan menyembunyikan senyumnya.


"Putra kita benar benar polos." Bisik Avram.


Quenby hanya mengangguk sambil tertawa kecil. Mereka berpura pura tidak memperhatikan Rafa dan Elena sambil berbincang bincang.


"Obat?" ucap Avram.


"Jadi? selama ini kau mengkonsumsi obat dari Dokter Bhak Whan?" tanya Avram.


"Benar, tapi aku sudah berhenti. Obat itu membuat aku lemah. Sekarang aku meminum obat pemberian Ibu." Jawab Quenby.


"Siapakah dalang di balik semua ini? ada yang mencoba membunuh Quenby secara perlahan." Gumam Avram dalam hati.