
Terlahir dari sebuah keadaan yang tak di inginkan mungkin masih bisa di terima, namun hal yang paling sulit adalah mengalahkan diri sendiri. Merubah apa yang tak bisa di rubah, menerima apa yang bisa di rubah tapi tak di inginkan.
Rafa tersenyum, air matanya menetes membuka lembar demi lembar lukisan yang di buat Avram. Selama ini Avram sangat mencintainya dan melukis setiap momen pertumbuhan Rafa dari sejak usia 6 tahun hingga 11 tahun.
Besok adalah hari ulang tahun Rafa tapi tidak ada yang mengingat hari ulang tahunnya Rafa selain Avram, lukisan yang di berikan tadi sore adalah kado terindah untuk Rafa.
Setelah puas menatap semua lukisan itu, ia menyimpannya di laci meja. Lalu ia mengambil jaket yang tergeletak di atas tempat tidur, mengenakannya lalu bergegas keluar rumah dan memutuskan untuk menemui Avram.
Tidak butuh waktu yang lama, Rafa telah sampai di halaman rumah Avram. Namun apa yang Rafa lihat membuatnya membangkitkan emosi yang kapan saja meledak tanpa bisa Rafa kuasai lagi.
"Dad!!" seru Rafa sambil mematikan mesin, lalu turun dari atas motor berlari menghampiri Avram dan membiarkan motornya ambtruk.
"Dad!!" pekik Rafa melepas helmnya lalu ia ayunkan ke kepala pria yang tengah bertarung melawan Avram.
"Bukkk!!"
Pria itu terjungkal dan ambruk darah segar mengalir di kepala pria tersebut. Rafa membalikkan badannya lalu menghantam pria lain yang berusaha memukulnya dari belakang.
"Bukkk!!!" Pria tersebut terjungkal dan ambruk tak sadarkan diri.
"Rafa hentikan!!" seru Livian lantang yang ternyata ada di antara mereka tengah membantu Avram.
"Ayah?" ucap Rafa menoleh.
"Bukk!"
Satu pukulan menghantam wajah Rafa karena kurangnya waspada. Rafa menoleh ke arah pria itu dengan tatapan tajam, lalu menerjang pria tersebut tanpa memberinya kesempatan untuk membalasnya.
Rafa terus memukul, menendang pria tersebut tanpa ampun. Ia tidak melepaskan meski pria tersebut sudah tidak berdaya untuk mekawan Rafa lagi.
"Hentikan Rafa, dia bisa mati!" Avram memeluk Rafa dari belakang supaya berhenti melakukan aksinya.
Avram terdiam menatap musuh yang berhasil Rafa lumpuhkan, tak satupun yang masih bernyawa. Livian yang berdiri di samping Avram begidik ngeri, melirik sesaat ke arah Rafa.
"Aku tidak menyangka putraku bisa sekejam itu, menghabisi musuh tanpa ampun," ucap Avram dalam hati, ia teringat saat masih memiliki organisasi terlarang. Tapi masalahnya beda, Rafa masih kecil dan mustahil memiliki kemampuan membunuh layaknya orang dewasa yang memiliki masa lalu kelam. Tapi Rafa? apa yang salah? sesakit itukah yang di alami Rafa? atau, psikopat?
Avram melirik tajam ke arah Rafa yang terlihat santai seolah tidak terjadi apa apa meski ia mengalami pukulan telak di wajahnya. Rafa sama sekali tidak terlihat kesakitan untuk usianya yang masih di bawah umur.
"Rafa, mengapa kau bisa sekejam itu?" tanya Livian.
"Simpan pertanyaanmu, Ayah. Katakan padaku, kenapa kau ada di sini? dan kenapa dia ada di sini?!" tunjuk Rafa ke arah pria botak yang tak lain adalah Yama.
"Wah wah, aku tidak menyangka kau memiliki berlian yang bisa menghasilkan uang," ucap Yama menatap kagum kepada Rafa.
"Jangan ganggu putraku, kau boleh perlakukanku layaknya pecundang, tapi jangan berani sentuh putraku!" ancam Avram lantang.
"Kau penipu Avram!" seru Yama lantang.
"Dad, ada apa ini?" tanya Rafa tidak mengerti. "Kau mengenal pria botak itu?!"
Avram hanya diam, ia tidak menjawab pertanyaan Rafa.
"Katakan di mana ketua naga hitam kau sembunyikan! Yama berteriak marah. "Ingat Avram, kau berhutang banyak dan kau sudah ingkari janjimu!"
"Ingat, kau hanya punya waktu satu minggu. Kau harus menyerahkan ketua naga hitam atau anak ini yang akan menjadi penggantinya." Ancam Yama lalu ia beranjak pergi bersama anak buahnya yang tersisa.
"Dad!!" seru Rafa tidak dapat menunggu lagi. "Jelaskan padaku!! Rafa mundur selangkah menatap tajam Livian lalu menatap tajam ke arah Avram.
Avram menjatuhkan tubuhnya di atas rumput. Tengadahkan wajahnya menatap putra semata wayangnya. Ingatannya berputar ke belakang, saat ia harus kehilangan segalanya. Harta, ayah tercinta harus meregang nyawa di tangan ketua naga hitam pertama.
Saat itulah Avram benar benar dalam keadaan terpuruk, di saat kondisinya yang tak baik. Ia harus merawat bayi yang di antarkan naga hitam di depan pintu rumahnya.
Di saat Avram berada di titik nadir yang paling bawah, benar benar terpuruk. Seseorang datang dari masa lalu dan menawarkan kedudukan, harta dan kemewahan asalkan Avram mau bekerjasama untuk menyerahkan ketua naga hitam yang telah membunuh ayahnya Avram.
Tanpa pikir panjang Avram menyetujuinya karena ia pun memiliki dendam yang sama terhadap ketua naga hitam. Selain itu, Avram membutuhkan biaya untuk mengobati putranya yang menderita sakit kanker.
Setelah putranya tumbuh dengan baik dan penyakit kankernya bisa di atasi meski tidak dapat sembuh total. Avram memutuskan untuk mencari ketua naga hitam dan menyrrahkannya pada Yama. Namun Avram mengurungkan niatnya menyerahkan ketua naga hitam dan memberitahu Yama kalau ketua naga hitam pertama sudah tiada. Avram meminta Yama untuk menghapus semua perjanjian itu. Namun Yama tidak mau tahu, ia tetap menginginkan ketua naga hitam meski telah di gantikan oleh Quenby.
Demi melindungi Quenby dan putranya. Avram merelakan Quenby menikah dengan Livian. Dia berharap Quenby bisa bahagia dan aman berada di dekat Livian dan mau menyerahkan hak asuh Rafa pada Quenby dan Livian.
Namun semua rencana itu gagal, Yama tetaplah manusia kejam dan licik. Avram harus mengikuti semua mau Yama dengan menjadi mesin pencetak uang. Avram mengikuti berbagai pertandingan tapi bukan untuk menang, hanya untuk di jadikan kambing hitam saja. Semua itu ia lakukan demi Rafa dan Quenby.
"Rafa, putraku. Aku harap kau memahami situasiku saat itu. Aku mencintai dan menyayangi kalian berdua." Kata Avram di akhir ceritanya.
"Lalu apa tujuanmu datang ke sini. Ayah? apa kau juga mau menekan Dady ku supaya kau bisa menikah dengan Anna?" sindir Rafa.
"Aku datang kesini untuk meminta Avram kembali pada Quenby." Jawab Livian.
"Kau pikir Ibuku barang? yang sesuka hatimu kau berikan meski itu kepada Dady ku?? tunjuk Rafa. "Benda saja memiliki harga, apalagi Momy!!" pekik Rafa marah hendak menerjang Livian namun Avram dengan sigap berdiri dan memeluk Rafa dengan erat.
"Pergilah, biar aku tenangkan Rafa." Kata Avram.
Livian menganggukkan kepalanya, lalu beranjak pergi.
"Lepaskan aku, Dad!! seru Rafa.
"Tidak sayang, kau putra kecilku yang baik, penyayang yang bisa kubanggakan. Jangan buatku semakin hancur.."
"Dad.." Rafa balik badan lalu memeluk erat Rafa.
"Jujur padaku, apakah Dady mencintai Momy?" tanya Rafa.
Avram menganggukkan kepalanya, "iya sayang."
Rafa melepaskan pelukannya lalu berjalan mundur menatap tajam ke arah Avram.
"Kalau Dady mencintai Momy, kenapa tidak berjuang sama sama! kenapa Dady meragukan kemampuan Momy! kenapa Dad! kenapa?!
"Rafa..aku-?"
'Cukup! jangan katakan apapun. Dady dan Ayah Livian sama saja! kalian pengecut dan aku kecewa!!" jerit Rafa lalu ia balik badan. Berlari meninggalkan rumah Avram dan mengabaikan panggilan Avram.
"Rafa! tunggu!"
Avram berlari mengejar Rafa hingga tepi jalan raya, namun Rafa sudah tidak ada di mana mana. Avram menjatuhkan tubuhnya dan duduk di tepi jalan, menatap kosong kesebrang jalan raya.