PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Pindah rumah


Sepulang sekolah, Rafa tidak langsung pulang kerumah. Ia sudah ada janji bertemu dengan Ava di rumahnya untuk membicarakan obat obatan yang di konsumsi oleh Quenby selama ini.


Tak butuh waktu lama, Rafa telah sampai dan di sambut hangat oleh kakek dan neneknya. Karina sudah menyiapkan cemilan kesukaan Rafa dan segelas coklat hangat di meja.


"Duduklah sayang di sini." Karina menarik tangan Rafa lalu duduk di sampingnya.


"Bagaimana sekolahmu? bukankah hari ini ulang tahunmu?" tanya Ava.


"Kakek ingat hari ulang tahunku?" tanya Rafa matanya berbinar.


"Tentu saja kami ingat, dan aku punya hadiah untukmu." Kata Ava.


"Terima kasih Opa, Oma!" sahut Rafa gembira karena selain Avram. Kakek dan neneknya mengingat hari ulang tahunnya.


"Minum dulu coklat hangatnya, nanti keburu dingin." Karina mengambil gelas coklat hangat lalu di berikan kepada Rafa.


"Terima kasih Oma!" Rafa mengambil gelas di tangan Karina lalu menyecapnya perlahan.


"Opa, bagaimana dengan obat obatan yang kemarin?" tanya Rafa sambil meletakkan gelas di atas meja.


Ava mengambil botol obat yang sudah ia siapkan di saku bajunya, lalu ia letakkan di atas meja.


"Obat ini bukanlah obat kanker, tapi obat obatan terlarang yang bisa menyebabkan gangguan fungsi otak berkurang. Tidak hanya itu, obat ini merusak saraf saraf tubuh lainnya yang bisa menyebabkan lumpuh permanen hingga merenggut nyawa yang mengkonsumsinya secara rutin." Ungkap Ava.


Karina dan Rafa mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Ava yang di dapatkan dari salah satu Dokter pribadinya.


"Dokter Bhak Wan dan asistennya yang bernama tape bukanlah Dokter spesialis kanker, tapi mereka Dokter pribadi tuan Yama." Jelas Ava lagi.


"Tentu saja sayang, dia orang penting di kota ini dan punya kuasa penuh. Sempat dia menghilang beberapa waktu lama setelah gagal menguasai perusahaan ayahku dulu. Selain itu dia terkenal licik dan kejam." Jelas Ava.


"Aku paham Opa!" sahut Rafa kemudian ia menceritakan tentang Anna di rumahnya, tanpa ada yang Rafa sembunyikan lagi. Ia sadar, masih anak anak. Maka dari itu, Rafa memberanikan untuk menceritakan semuanya pada kakeknya. Biasanya Rafa akan berbagi dengan Avram, tapi sejak pengakuan Avram dan Livian malam itu, Rafa merasa sangat kecewa.


"Apa?? Anna?? wanita ketiga di rumah tangga putriku??" ucap Karina terkejut. "Aku tidak akan membiarkan putriku bernasib sama sepertiku, aku harus tinggal di sana dan menjaganya!" kata Karina geram mengingat masa lalunya yang buruk saat bersama Pramudya.


"Tenanglah sayang," ucap Ava. "Kita harus waspada dan jangan gegabah. Kita harus punya rencana untuk menghadapi mereka."


"Kakek benar, aku sudah lelah dengan semua kebohongan. Aku juga ingin hidup normal seperti anak anak lainnya.." Timpal Rafa.


"Jangan bicara seperti itu sayang, kami sangat menyayangimu." Karina mendekap erat tubuh Rafa dan mencium puncak kepalanya.


"Aku harus bertindak, tidak mungkin aku diam lagi. Berani sekali mempermainkan putriku." Ava mengepalkan tangannya, jiwa mudanya di masa lalu kembali bertahta di dalam hatinya.


"Bagaimana kalau kalian berdua tinggal di rumah Momy? aku yakin Momy senang." Usul Rafa.


"Tentu sayang, kami mau tinggal bersama kalian. Aku ingin melindungi putri dan cucuku, harta yang tak ternilai." Timpal Karina.


"Kau kemasi pakaianmu seperlunya, kita berangkat sekarang." Kata Ava, lalu ia ambil botol obat dan di masukkan ke dalam saku celananya.


Sementara Karina beranjak masuk ke dalam rumah dan mengemasi pakaian mereka berdua. Tak lama Karina sudah selesai dan kembali menemui Rafa juga Ava.


"Ayo kita berangkat!" ajak Karina.


Kemudian mereka bertiga bergegas meninggalkan rumah dan memutuskan untuk tinggal di rumah Quenby sementara waktu.