
Sejak kecil, Avram selalu mengajarkan Rafa untuk bertanggung jawab atas ucapan dan tindakan. Avram tidak pernah mengajarkan Rafa untuk berbohong, dan menanamkan hal hal baik, meski ia sendiri bukanlah pria yang baik di masa lalunya.
Sepulang dari kampus, Rafa memutuskan untuk jujur kepada kedua orang tuanya. Mengakui semua perbuatannya dengan Elena dan berharap mereka merestui dan mengizinkannya untuk menikahi Elena.
Namun sebelum Rafa bicara jujur kepada orang tuanya. Quenby langsung menampar pipi Rafa berkali kali tanpa anak itu mengerti apa kesalahannya.
"Cukup Quen! dia putramu!" seru Avram menarik tangan Quenby mundur ke belakang.
Rafa terdiam memegangi pipinya. Menatap Quenby bingung, lalu beralih menatap Elena yang tengah duduk di sofa seraya terisak.
"Rafa, aku benar benar kecewa!" pekik Quenby, menatap marah putranya yang masih kebingungan.
"Momy? ada ap-?"
"Tutup mulutmu! aku sudah tahu apa yang sudah kau lakukan pada Elena!" ungkap Quenby.
"Mom..bisa aku jelaskan." Jawab Rafa berjalan selangkah mendekati Quenby.
"Jangan dekati aku! aku jijik memiliki putra sepertimu!! Quenby mundur satu langkah menghindari Rafa.
"Dad..Mom..tidak seperti yang kalian pikirkan.." Rafa berusaha menjelaskan tapi Quenby tetap menolak mendengarkan penjelasan Rafa.
"Rafa, benarkah kau tega melakukan itu pada Elena?" tanya Avram ragu.
"Elena, katakan sesuatu.." pinta Rafa menoleh ke arah gadis itu.
"Rafa, kau tega melakukan itu padaku!" Elena tengadahkan wajah menatap Rafa di sertai deraian air mata.
"Apa maksudmu Elena? bukankah kita-?"
"Cukup! bentak Quenby. "Aku tidak percaya memiliki putra seorang pembunuh dan tega memperkosa Elena!" tuduh Quenby.
"Mom! aku memang melakukannya, tapi aku tidak memperkosa Elena. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka!" bantah Rafa.
"Elena.." ucap Rafa pelan. Ia sama sekali tidak menduga akan bicara seperti itu.
"Sekarang juga kau pergi dari rumahku, pergi!!" usir Quenby yang sudah di kuasai emosi.
"Quen tenanglah!" Ava dan Karina berusaha untuk menenangkan putrinya.
"Aku harus bagaimana lagi cara mendidik dia!" tunjuk Quenby. "Lebih baik kau mati sejak kecil dari pada menjadi pembunuh dan memperkosa , lebih baik kau pergi!!" usir Quenby
"Jangan tante, biar aku saja yang pergi. Jangan usir Rafa." Elena melipat kedua tangannya. "Aku mohon tante."
"Elena, kau berdusta!" pekik Rafa marah.
"Anak tidak tahu diri!!" seru Quenby
"Plakk!!!
Kembali Quenby menampar wajah Rafa hingga oleng ke samping lalu jatuh ke lantai. Quenby masih belum puas, ia mengambil sapu yang tak jauh dari tempat Rafa terjatuh dan melayang kan gagang sapu ke tubuh Rafa.
"BUKKK!! BUKKK!!"
"Kau tahu bagaimana rasanya di perkosa? kau tahu bagaimana rasanya hidupmu hancur? kau tahu bagaimana kesucian seorang wanita di renggut? kau tidak tahu apa apa, dasar anak pembunuh!!"
"Quen cukup!!" ucap Ava, Karina dan Avram berusaha mencegah dan menjauhkan Quenby dari Rafa.
Namun Quenby yang sudah di kuasai amarah dan bayang bayang masa lalu saat ia di perkosa oleh Avram. Membuat ia seperti kerasukan setan terus memukulkan gagang sapu bertubi tubi ke tubuh dan kepala Rafa hingga darah segar mengalir di pelipis, dan hidung Rafa. Gagang sapu pun patah, tapi emosi Quenby belum juga reda. Berkali kali menendang tubuh Rafa hingga tak sadarkan diri. Saat Quenby di kuasai amarah, melihat Rafa seperti melihat Avram di waktu mudanya dulu. Quenby tersadar, mundur kebelakang saat melihat Rafa tak bergerak lagi.
"Rafa, Rafa bangun!" pekik Avram mengguncang tubuh Rafa, lalu mengangkat tubuh Rafa dan menggendongnya di bantu oleh Ava. "Ayah, kita bawa ke rumah sakit!"
Ava menganggukkan kepala, lalu mereka bergegas keluar dari rumah di ikuti Karina juga Quenby. Sementara Elena hanya diam lalu duduk di kursi. Tersenyum menyeringai memperhatikan mereka yang terlihat sangat panik.
"Rasakan pembalasanku, kau akan merasakan apa yang kurasakan dulu.." gumam Elena.