
Hari yang di janjikan Quenby telah tiba. Pagi pagi sekali mereka telah mempersiapkan segalanya. Avram sudah datang ke rumah Quenby atas permintaan Rafa, semua sudah selesai. Tetapi masih ada yang di tunggu Livian dan Quenby.
Anna, ya Anna. Livian mengundang Anna untuk ikut bersama mereka dengan alasan untuk mengawasi prilaku Rafa. Setelah penjelasan panjang lebar dari Anna kemarin siang, Quenby pun menyetujui usul Livian untuk selalu mengikut sertakan Anna dalam mengawasi Rafa.
Taka lama kemudian Anna sudah datang ke rumah Quenby, lalu mereka berbincang bincang sesaat. Kemudian mereka memutuskan untuk pergi ke pantai.
Mereka berlima menggunakan satu mobil saja, Livian duduk di depan menyetir mobil dan Anna duduk di sampinya. Sementara Avram, Quenby dan Rafa duduk di belakang.
Sepanjang perjalanan, Livian dan Anna terlibat perbincangan hangat mengingat tentang kisah di sekolah masing masing. Quenby sibuk memainkan ponselnya mencari tahu tentang pengobatan kanker. Sementara Avram hanya duduk dengan tenang bersama Rafa, sesekali tersenyum dan mencium puncak kepala Rafa.
Semakin lama, semakin hangat perbincangan antara Livian dan Anna. Avram yang mengerti situasi yang tidak mengenakkan untuk putranya, ia melirik ke arah Quenby lalu merebut ponsel dari tangannya.
"Hei, kenapa kau ambil ponselku. Ayo berikan!" pekik Quenby bicara dengan nada pelan seolah olah takut mengganggu perbincangan Livian dan Anna.
Avram meletakkan satu jari di bibirnya lalu menunjuk ke arah Rafa yang terlihat kesal. Quenby menganggukkan kepalanya, lalu meminta Rafa duduk di tengah antara Avram dan dirinya.
"Mom..Dad..nanti aku boleh berenang? tanya Rafa pelan.
"Boleh sayang, sudah lama kita tidak berenang bersama. Apakah kau masih pintar berenang seperti waktu dulu?" bisik Avram
"Tentu saja Dad!" sahut Rafa menjawab dengan suara pelan.
"Bagaimana dengan kau, Quen? mau menantang kami berdua?" bisik Avram di telinga Quenby
Namun Quenby tidak buru buru menjawab, ia begidik saat Avram berbisik di telinganya.
"Kebiasaanmu selalu berbisik di telinga, kau tahu bukan? aku tidak suka!" rutuk Quenby pelan lalu mencubit bibir Avram, membuat pria itu mengerang kesakitan.
Rafa tertawa sambil mendekap mulutnya memperhatikan Avram dan Quenby saling memukul pelan karena sama sama tidak terima di goda tentang keburukan masing masing.
Tak terasa mereka telah sampai di pantai. Rafa segera keluar dari pintu mobil, lalu berlari ke arah pantai. Di susul Anna dan Livian mengikuti Rafa dari belakang. Sementara Quenby dan Avram mengeluarkan semua bekal makanan yanf mereka bawa dari rumah, lalu melangkah bersama menyusul Rafa dan yang lain.
Quenby berteriak saat melihat Rafa berlari ke bibir pantai lalu berenang ke tengah.
"Rafa hati hati!" seru Quenby.
Awalnya ia khawatir, namun saat melihat Livian dan Anna ikut berenang, ia pun lega karena ada yang menjaga Rafa. Kemudian Quenby dan Avram menyiapkan makanan dan menatanya dengan rapi.
"Kau tidak ikut berenang?" tanya Avram sambil menata buah buahan.
"Kau meledekku? aku memang bisa berenang, tapi tak sepandai kalian!" sahut Quenby kesal.
"Aku tahu apa keahlianmu!" potong Avram.
"Menangis." kata Avram.
"Awas kau ya, sekali lagi meledekku, aku lemparkan kau ke tengah laut biar di makan ikan hiu!" umpat Quenby semakin kesal.
"Itulah kau Quen.." ucap Avram pelan.
"A, appa maksudmu?" tanya Quenby menjadi canggung mendapatkan tatapan lembut dari Avram.
"Sekarang, yang ada di hadapanku. Bukanlah Quenby ku, bukan ibu dari putraku. Di mana Quenby ku?" ucap Avram lembut.
Quenby menundukkan kepalanya, lalu duduk dengan kedua kaki di tekuk. "Jangan kau tanyakan itu, aku memang telah kehilangan diriku sendiri. Aku merasa asing dengan diriku sendiri."
"Kau keliru, kau lah Quenby yang aku kenal. Hanya saja.." Avram tidak melanjutkan ucapannya.
"Hanya Apa?" tanya Quenby menoleh ke arah Avram.
"Mungkin kau butuh ciuman hangat dariku, hahahahaha! Avram tertawa terbahak bahak. Membuat Quenby kesal.
"Berani sekali kau bicara seperti itu!" rutuk Quenby lalu memukul dan mencubit tubuh Avram tanpa ampun.
"Toloongg!"
Avram dan Quenby menoleh ke arah pantai. Mereka bergegas berlari saat melihat Anna hampir saja tenggelam, hanya terlihat kedua tangannya yang mencoba meminta bantuan. Beruntung Livian berhasil mencapai ke arahnya dan menyelamatkan Anna.
Quenby dan Avram bernapas lega, saat melihat Livian membawa tubuh Anna ke bibir pantai di ikuti Rafa dari belakang.
"Apa yang terjadi?" tanya Quenby.
"Aku tidak tahu, tiba tiba saja dia hampir tenggelam seperti ada yang menariknya daru dalam." Jawab Livian lalu meletakkan tubuh Anna di atas pasir.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit!" seru Quenby.
Namun Livian mencoba menekan dada Anna supaya sadar. Namun berkali kali Livian lakukan Anna masih juga belum sadar. Kemudian Livian memberikan napas buatan lewat mulutnya.
Quenby yang tadinya jongkok, lalu berdiri tegap memperhatikan Livian memberikan napas buatan untuk wanita lain. Quenby coba menepis pikiran buruk tentang Livian, bisa saja ia melakukan hal sama pada pria lain kalau dalam keadaan darurat.
Avram yang mengetahui perubahan sikap Quenby, menyentuh bahunya lalu menganggukkan kepala ketika Quenby menatapnya.
Quenby tersenyum samar, ia mengerti maksud Avram. Sementara Rafa hanya diam tanpa ekspresi memperhatikan itu semua.
"Ketika pasangan sudah menjadi beban, untuk apa di pertahankan." Ucap Rafa dalam hati.