PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Kecelakaan


Sabtu malam pukul 19:03


"Sayang? kau mau kemana? rapi sekali?" tanya Avram dan Quenby bersamaan, melihat putra semata wayangnya terlihat rapi, memakai kaos hitam lengan panjang, celana jeans, rambutnya di ikat dengan rapi.


Rafa menoleh sesaat, mengulum senyumnya lalu kembali fokus memperhatikan pantulan tubuhnya di cermin.


"Aku mau makan malam bersama Sekar, Mom." Jawab Rafa datar.


"Sekar?" ucap Avram mengulang nama yang di ucapkan Rafa.


"Iya Dad..putri Paman Sheblak." sahut Rafa lagi.


"Tapi kau jangan pulang larut malam ya." Pesan Quenby. "Atau, kau mau kuantarkan?"


"Tidak perlu Mom, aku bisa sendiri." Kata Rafa, berjalan mendekati mereka berdua.


"Kalau begitu, hati hati dan jangan pulang terlalu larut malam." Kata Quenby lalu mencium puncak kepala Rafa.


"Aku pergi dulu Mom, Dad."


Avram dan Quenby mengangguk, tersenyum menatap penuh rasa sayang melihat putranya sudah tumbuh dewasa bukan anak remaja lagi yang harus di antar kemanapun dia pergi.


Sementara Rafa bukanlah mengajak makan malam Sekar. Akan tetapi sengaja mendatangi rumah Sekar untuk menyelediki. Dan benar saja, sesampainya di halaman rumah Sekar. Rafa melihat She Blak, Rey dan Livian masih ada dirumah Pramudya.


"Kalau hukum masih bisa di perdaya, mungkin ada cara lain untuk menghentikan kebohongan kalian." Gumam Rafa pelan, berdiri di dekat mobil yang terparkir cukup lama.


Tak lama kemudian, ia menyelinap pergi meninggalkan halaman rumah Sekar dan duduk di tepi ujung jalan.


Detik berlalu berganti menit. Satu jam sudah berlalu Rafa masih duduk di tepi jalan Raya di ujung jalan yang menuju rumah Sekar. Matanya terus memperhatikan mobil yang lewat.


Tak lama kemudian Rafa melihat sebuah mobil meluncur dengan kecepatan tinggi melintas di depannya.


Mobil tersebut kehilangan kendali dan menabrak pengendara mobil lainnya. Terseret jauh dan menabrak mobil lainnya hingga terjadi kecelakaan beruntun.


Mobil yang terseret jauh mulai terbakar, kemacetan terjadi, suara klakson terdengar memekakkan telinga. Orang yang lalu lalang berhenti dan melihat kecelakaan itu dari jarak yang cukup dekat.


Rafa beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan dengan santai mendekati kerumunan orang orang, memperhatikan warga sekitar membantu para korban dan memadamkan api yang membakar mobil tersebut. Tak lama terdengar suara sirine dari mobil patrolo. Rafa bergegas meninggalkan lokasi dan kembali pulang.


***


"Quen, tolong nyalakan tv!" perintah Avram sambil duduk di kursi.


"Baiklah!" sahut Quenby lalu mengambil remote dan menyalakan tv.


Dalam acara televisi itu menyiarkan berita tentang kecelakaan beruntun di jalan raya yang menewaskan She Blak, Rey dan Livian.


"Ini tidak mungkin!" seru Quenby mendekap mulutnya sendiri memperhatikan acara berita di tv.


"Kejadiannya tadi malam." Timpal Avram. "Kecelakaan itu akibat rem mobil blong total."


"Ada apa Mom?" tanya Rafa lalu duduk di kursi sebelaha Avram.


Quenby menjelaskan kepada putranya kalau Livian, Rey dan Sheblak mengalami kecelakaan hingga tewas di tempat.


"Mungkin sudah takdirnya Ayah Livian mati dengan cara seperti itu, Mom jangan sedih." Ucap Rafa tenang.


"Tidak sayang, aku hanya tidak percaya saja. Mereka pergi secepat itu dengan cara yang tragis." Timpal Quenby.


Rafa hanya diam memperhatikan layar televisi. Lalu bangkit dari duduknya menuju teras rumah dan menghubungi anak buah Quenby yang berada di Taipei, untuk membebaskan Jimi dari segala tuduhan yang menimpanya dengan cara apapun.


"Mereka sudah mati, tidak ada lagi yang akan mengganggu keluargaku lagi." Gumam Rafa tersenyum sinis. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya ke atas. "Waktunya untuk memanjakan diri."