
Suara hati seringkali tak terdengar, tenggelam oleh keegoisan. Dan otak seringkali terpengaruh dan membuat manusia berkhianat, termasuk mengkhianati dirinya sendiri.
Itulah yang terjadi pada Quenby saat ini. Apapun yang rafa lakukan selalu mengundang kebencian. Jangankan bicara, mungkin Rafa bernapaspun adalah suatu kesalahan di mata Quenby.
Nalurinya sebagai mafia seakan hilang dari dalam dirinya. Bahkan sebagai wanita, Quenby hanyalah seorang ibu, bukan sosok ibu untuk putranya Rafa.
Namun Quenby tidak pernah menyadarinya sejak ia mengundurkan diri menjadi seorang mafia. Quenby sudah merasa telah mengerahkan kemampuannya untuk merawat dan mendidik Rafa. Merasa baik, itulah yang Quenby rasakan saat ini, dan hal itu adalah hal yang manusiawi di rasakan setiap orang. Ketika dia merasa baik, apapun yang di ucapkan dan di yakininya menjadi benar!
Tanpa dia sadari, Quenby telah membuat jarak anatara dia dan putranya. Antara dirinya dan Avram, kejenuhanpun tercipta. Komunikasi yang terjadi diantara mereka saat ini hanyalah formalitas.
Rafa lebih banyak menyendiri, Avram mulai pulang terlambat dengan alasan banyak pekerjaan. Quenby sibuk dengan usaha yang baru di rintis olehnya. Situasi, keadaan dan lingkungan menunjang perubahan besar pada diri Quenby dan keluarga kecilnya.
Lambat tapi pasti, Avram dan Quenby mulai melupakan kewajibannya sebagai orang tua terhadap Rafa. Elena yang berada dalam satu rumah dengan leluasa melancarkan aksinya tanpa ada yang menyadari. Tapi tidak dengan Rafa, dia memang diam. Tetapi bukan tidak tahu, diam diam Rafa punya cara sendiri untuk membalas dendam dan membongkar kejahatan bukan untuk membersihkan namanya. Akan tetapi menjadi kepuasan tersendiri baginya saat ini dan selamanya.
Setelah kabar kematian orang orang di sekeling Rafa, yang Rafa kenal baik selama ini. Benarkah Elena bekerja sendiri menyusun rencana ini? tugas Rafa adalah membongkarnya sendiri.
Sisi lain dari Rafa, lambat laun semakin terlihat. Untuk menyelesaikan permasalahan yang semakin hari semakin membingungkan. Rafa mulai giat berlatih bagaimana caranya menjadi seorang psikopat yang handal.
Membalas dendam yang paling menyenangkan adalah membalas dengan keanggunan.
Membunuh paling menyenangkan adalah membunuh mental - (Kutipan salah satu Reader)
***
Hari ini Rafa memutuskan untuk berhenti kuliah tanpa sepengetahuan Quenby dan Avram. Setiap hari dari pagi sampai sore, Rafa menghabiskan waktunya berdiri di depan pintu gerbang rumah Pramudya. Sejak kematian Pramudya dan yang lain, rumah itu di isi pacar baru Elena yang bernama Nathan.
Awalnya Nathan tidak mengetahui, dan tidak memperdulikan setiap kali melihat seseorang berdiri di depan pintu gerbang menatap tajam ke arah rumahnya.
"Mari bermain main denganku, akan ku ukir sesuatu yang indah di detik detik ajalmu tiba." Gumam Rafa dengan tatapan tajam tanpa ada lagi sinar kehidupan di dalamnya.
Hari demi hari, Nathan mulai resah dengan kehadiran Rafa yang selalu berdiri di depan pintu gerbang rumahnya. Nathan merasa di awasi oleh Rafa, dan ia mulai merasa hidupnya terancam.
Suatu hari, di hari minggu yang cerah. Nathan merasakan sedikit lega, pagi ini dia tidak melihat Rafa di depan pintu gerbangny. Untuk menjaga hal hal yang tidak di inginkan. Ia menyewa bodyguard untuk melindungi dirinya dari ancaman. Tidak hanya itu, dia juga memanggil Elena dan dua orang yang sangat familiar untuk berdiskusi di rumahnya.
"Always behind you." Gumam Rafa tersenyum menatap ke arah pintu rumah Pramudya.
Rafa terus berdiri di bawah bayangan sinar bulan. Menatap ke arah rumah Pramudya, dari kaca jendela. Terlihat jelas, empat orang tengah duduk dan berbincang bincang. Meski Rafa tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, namun sosok yang familiar bagi Rafa. Sudah cukup bukti siapa kawan siapa lawan.
"Sejauh mana kau berlari mengejar bayanganmu, kau tidak akan pernah bisa mengalahkan bayanganmu." Gumam Rafa.