PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Terbiasa dengan luka


Sesampainya di markas, Quenby dan Rafa keluar dari dalam mobil. Lalu meminta salah satu anak buahnya untuk menyembunyikan mobil miliknya. Setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam markas menuju ruang bawah tanah. Di mana Avram sudah menunggu mereka berdua.


"Dad!!" seru Rafa berlari ke arah Avram lalu memeluknya dengan erat. "I miss you so much Dad.."


"My Big Baby..." kata Avram dengan lembut.


"Dad.." Rafa melepaskan pelukannya.


"Ya sayang?" sahut Avram.


"Jangan pergi lagi.." ucap Rafa.


Avram tertawa lebar, matanya menatap ke arah Quenby yang hanya memperhatikan kedekatan mereka berdua.


"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, selain kematian." Bisik Avram di telinga Rafa.


Rafa pun tertawa kecil, lalu menoleh ke arah Quenby.


"Momy!"


Quenby tersenyum, lalu berjalan menghampiri mereka berdua. Saling berpelukan dengan segenap perasaan yang mereka miliki.


"Rafa, apa kau lapar sayang?" tanya Avram lalu melepas pelukannya.


"Aku juga lapar!" sahut Quenby memotong.


"Ayo kita makan!" seru Avram, merangkul bahu Rafa untuk duduk di kursi, di ikuti Quenby.


Makanan lezat sudah tersaji di atas meja, sebelum Quenby dan Rafa datang. Anak buahnya yang telah menyiapkan semua hidangan itu untuk mereka bertiga.


Avram mengambilkan steak lalu di letakkan di atas piring milik Rafa. Membantunya memotong steak hingga potongan kecil. Kemudian menyuapi Rafa dengan penuh kasih sayang.


Hanya Avram yang bisa membuat mata Rafa berbinar bahagia. Hanya ayahnya yang bisa membuat Rafa tersenyum dengan tulus. Hanya berada di dekat Avram, putranya bisa saling berbagi cerita tawa dan canda.


Quenby hanya diam, sesekali menimpali candaan mereka berdua lalu ikut tertawa meski hatinya terasa perih.


Setiap aku terbangun dari tidur 


aku berharap segalanya telah usai 


tiada lagi selarik kata luka


tiada lagi tetes airmata 


Taukah kalian.. 


aku ingin menganggap semua ini hanya igauan ngeri dalam mimpi 


aku ingin menganggap semua ini tak pernah terjadi dalam hidupku 


aku ingin seperti dulu ,yang mampu terlelap dalam pelukan pelukan kalian


namun ternyata aku masih lumpuh dan berada di tempat yang sama.


Harus bagaimana lagi caranya untuk memberitahu kalian..


Aku sangat menyayangi kalian..sangat..


Tapi saat ini bahumu tak lagi mampu ku rengkuh


saat aku harus kembali menyendiri dan


aku telah terbiasa dengan luka karena luka itu aku.


Quenby tersenyum samar, lalu mengambil tisu di atas meja. Menyeka sisa makanan di sudut bibir Rafa dan Avram secara bergantian.


Avram dan Rafa menoleh, menatap sayang ke arah Quenby lalu keduanya memeluk erat tubuh Quenby.


"Aku sayang Momy.." ucap Rafa.


"Aku mencintaimu.." bisik Avram.


***


"Apa rencanamu?" tanya Avram sambil mendekap erat tubuh Quenby. Duduk di sofa, memperhatikan Rafa yang tengah tertidur pulas di atas tempat tidur.


"Kita pergi ke Indonesia. Ayah dan Ibu sudah lebih dulu di sana. Kita tinggalkan semua yang ada di sini. Memulai hidup baru, identitas baru di sana." Ungkap Quenby.


"Quen, sadarkah apa yang sudah kau lakukan saat ini?" tanya Avram lagi, tangannya membelai lembut rambut Quenby.


"Ya aku tahu, melibatkan Rafa. Mengambil resiko besar. Tapi Avram, aku tidak bisa begitu saja menyerah kepada mereka yang jelas jelas tidak adil." Kata Quenby melirik sesaat ke arah Avram.


"Selain itu, kita akan kesulitan keluar dari kota ini. Tentu saja Polisi sedang mencariku dan langkahku tidak sebebas kau dan Rafa." Jelas Avram. "Aku akan menyulitkan kalian berdua."


"Apa maksudmu?" tanya Quenby menarik kepalang dari dada Avram, menatap tajam ke arahnya.


"Quen, jika kau melibatkan Rafa dalam pelarianku. Sama saja kau mempersulit Rafa ke depannya dan itu tidak akan mudah. Rafa masih kecil, butuh kebebasan dan bimbingan." Ungkap Avram.


"Lalu?" tanya Quenby masih belum mengerti.


"Pergilah kalian berdua ke Indonesia. Bawa pergi Rafa dari sini. Biarkan aku yang mempertanggung jawabkan semuanya. Bagiku, melihat kalian baik baik saja itu sudah membuatku bahagia." Jelas Avram, tangannya terulur, mengusap lembut pipi Quenby.


"Tidak, aku tidak mau. Sudah kubilang, keputusanku sudah bulat. Kita mati bersama, lewati suka dan duka sama sama. Aku yakin Rafa juga setuju denganku " Tolak Quenby.


"Tapi-?"


"Aku mencintaimu, aku menyayangi kalian berdua. Biarkan aku menebus kesalahanku di masa lalu. Aku hanya butuh dukungan kalian. Apa kau pahami itu?"


Avram menganggukkan kepalanya. "Baiklah sayang.."


Avram menarik bahu Quenby lalu memeluknya dengan erat.


"Kalian hidupku, jiwaku.." ucap Avram pelan. "Jika itu maumu, aku ikuti semuanya."


Quenby tersenyum, lalu membalas pelukan erat suaminya. Memejamkan mata, dan mencoba untuk tertidur di dada bidang Avram.