PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Jebakan


Rafa membuka matanya, bangun lalu duduk di atas tempat tidur, tangannya meraba bawah bantal mengambil ponsel lalu menyalakannya. Mata Rafa melebar melihat sepuluh panggilan tak terjawab dari Elena. Dan gadis itu meninggalkan sebuah pesan.


"Rafa, kau di mana?" ucap Rafa membaca pesan singkat Elena.


Rafa menarik napas dalam dalam, ada keinginannya untuk membalas pesan singkat Elena. Namun ia tidak tahu harus berkata apa, lalu ia menekan nomer ponsel Elena. Ponsel ia dekatkan di telinganya, tak lama panggilannya terhubung.


"Rafa! kau di mana?" tanya Elena terdengar cemas di telinga Rafa.


"Rafa!"


Namun Rafa tidak menjawab sepatah katapun, ia langsung mematikan ponselnya. Lalu di letakkan kembali di atas tempat tidur. Menarik napas panjang, mengusap rambutnya dengan kasar.


"Maaf Elena, aku tidak bermaksud membuatmu khawatir, tapi aku juga harus melindungi orangtuaku."


"Rafa, ayo sayang berkemas!" seru Quenby dari arah pintu.


"Baik Mom!" sahut Rafa lalu turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Rafa telah selesai. Lalu menemui kedua orangtuanya di lantai atas.


"Mom..Dad.." sapa Rafa.


"Sayang, ayo kita berangkat sekarang." Kata Quenby lalu memakaikan topi dan masker di wajah Rafa, supaya tidak ada yang mengenali.


Setelah selesai, mereka melangkah bersama keluar dari markas. Di kawal oleh anak buahnya, untuk mengecoh pihak berwajib jika kepergian mereka di ketahui oleh Polisi. Namun anehnya, pelarian Quenby membawa Avram berjalan dengan mulus. Sama sekali tidak terlihat polisi yang berpatroli di setiap jalan.


"Sayang, apa kau tidak merasa aneh?" tanya Avram memperhatikan sekitar jalan raya.


"Kita gunakan pesawat pribadi, kau tau bukan? jalan menuju ke sana memang sepi." Jawab Quenby.


Tiba tiba, sopir menepikan mobilnya, membuat Quenby bertanya.


"Kenapa kau berhenti?" tanyanya.


"Nyonya, sepertinya ada perbaikan jalan. Tidak bisa di lewati mobil. Apakah kita harus memutar arah?" tanya sang sopir menoleh ke belakang.


"Tinggal sedikit lagi, kalau kita memutar arah. Bisa terlambat, kurang lebih tiga puluh menit kalau memutar arah." Jawab Quenby.


"Apa yang harus saya lakukan?" tanya sopir lagi.


"Biar kami jalan kaki, jaraknya juga tidak terlalu jauh." Kata Quenby.


"Baiklah Nyonya!" sahut sang sopir.


"Rafa sayang, ayo keluar Nak. Kita jalan kaki, tinggal sedikit lagi." Perintah Quenby.


"Iya Mom!" sahut Rafa lalu keluar dari pintu mobil.


Quenby berjalan lebih dulu, sementara Avram berjalan bersama Rafa bergandengan tangan menuju jembatan mengikuti langkah Quenby. Namun tiba tiba saja Quenby meminta Avram dan Rafa untuk berhenti.


"Sayang, ada apa?" tanya Avram.


Namun Quenby tidak menjawab, ia terus melangkah pelan dengan tatapan lurus ke depan. Tak lama Rafa mengikuti langkah Quenby, namun langkahnya terhenti di tengah jembatan.


"Momy!!!" jerit Rafa saat melihat Quenby berlari ke arahnya. Nampak puluhan anggota polisi sudah menghadang mereka di ujung jembatan.


"Dor!"


Rafa menoleh ke arah Avram yang tiba tiba saja ambruk ke jalan aspal. Nampak di ujung jembatan lainnya anggota Polisi sudah mengepung.


"Dady!!" jerit Rafa lalu menoleh lagi ke arah Quenby.


"Momy! Rafa balik badan berlari ke arah Avram lalu membantunya berdiru, darah segar mengalir di punggung Avram.


"Momy!! Momy!!" Jerit Rafa menatap ke arah Quenby yang berlari.


"Dor!!"


"Jangan bunuh Dadyku!!"


"Jangan bunuh Dadyku!!"


Teriak Rafa merentangkan kedua tangannya menghalangi kedua orang tuanya, dengan tatapan penuh harap ke arah anggota polisi tersebut. Namun atasan mereka mengharuskan menembak mati Avram di tempat. Tetapi mereka kesulitan karena pergerakan Rafa yang terus menghalangi ayahnya.


"Jangan bunuh Dady!!


"Jangan bunuh Dady!!"


Teriakan Rafa mengundang perhatian orang orang yang lalu lalang tak jauh dari lokasi, akhirnya mereka penasaran dan ingin melihat apa yang terjadi.


"Jangan bunuh Dady!!" teriak Rafa di sertai deraian air mata. Sementara Quenby terus memeluk tubuh Avram.


Rupanya, air mata dan permohonan Rafa membuat hati nurani orang orang yang ada di sekitar menjadi tergugah. Melihat pemandangan seperti itu, mereka menerobos jajaran anggota Polisi lalu membentengi Rafa dan orang tuanya. Mereka pun berteriak lantang dengan kedua tangan di atas. Meski mereka tidak tahu apa masalahnya, namun mereka merasa ada yang harus di bantu.


"Tegakkan keadilan! tegakkan keadilan! bunuh kami dulu! bunuh kami dulu!!" teriak orang orang itu. Namun teriakan mereka tidak berarti apa apa.


Anggota polisi dari dua arah yang berbeda terus berjalan mendekati mereka dengan senjata api di tangan.


"Jangan halangi tugas kami, atau kalian kami tangkap!" kata salah satu anggota Polisi.


"Jangan bunuh Dady!!" teriak Rafa terus terusan membuat salah satu atasan mereka tertegun menatap ke arah Rafa.


"Kami tidak tahu apa masalhnya, tapi dengan cara seperti ini kalian telah menghancurkan masa depan anak ini!!" teriak salah satu pria yang membentengi Rafa.


Kemudian ia menarik tangan Rafa dan mengarahkan wajahnya ke arah Polisi.


"Apa kalian tidak melihat wajah polosnya? apa kalian tega merenggut masa depannya? menghukum mati ayahnya di depan mata anak ini!!"


"Stopp!!" teriak salah satu polisi dari arah belakang.


"Rey? ucap Avram pelan.


"Hentikan!" perintah Rey.


Semua anggota Polisi menurunkan senjatanya, memperhatikan Rey menghampiri Avram dan Quenby. Kemudian orang orang itu menepi setelah Rey memerintahkan untuk tidak menembak mati Avram.


"Rey.." sapa Avram.


"Ayo kubantu!" Rey merangkul bahu Avram supaya berdiri, di ikuti Quenby.


"Lepaskan Dad and Momy!!" teriak Rafa mendorong tubuh Rey ke samping.


"Tenang Rafa, aku hendak membantu." Kata Rey.


"Bohong!!" teriak Rafa.


Kemudian Rey memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menangkap Rafa supaya tidak menyulitkannya membantu Avram dan Quenby yang tertembak.


"Lepaskan aku!!" teriak Rafa dalam cengkraman dua Polisi.


"Rafa!!" seru Avram.


"Dady!! Momy!!"


Rafa terus berteriak dan memberontak saat melihat Quenby dan Avram di bawa masuk ke dalam mobil patroli untuk di bawa ke rumah sakit.


"Dady! Momy!"


"Rey, aku mohon biarkan Rafa ikut bersama kami." Pinta Avram kepada Rey di dalam mobil.


"Aku mohon..."


"Baiklah!" sahut Rey. Kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Rafa ke rumah sakit.