PSYCHOPATH BABY BOY

PSYCHOPATH BABY BOY
Negosiasi


Sesampainya di halaman rumah. Elena dan Rafa keluar dari pintu mobil. Mereka berdua bergegas berjalan bersama menuju rumah. Namun sesampainya di dalam rumah, Rafa terkejut melihat Livian dan Anna, seorang anggota polisi dan salah satu wanita dari yayasan pemerintah yang hendak mengambil hak asuh Rafa.


Rafa mengalihkan pandangannya ke arah Quenby yang menangis di dalam pelukan Avram. Karina dan Ava yang berdiri di samping Quenby mencoba untuk menenangkannya.


"Ada apa Mom? Dad?" tanya Rafa.


"Rafa.." Karina berjalan mendekati Rafa dan memeluknya erat.


"Ayah! jelaskan padaku ada apa!" seru Rafa menatap ke arah Livian dan juga Anna yang berdiri di sampingnya.


"Rafa, kau yang telah menyebabkan aku kehilangan anakku!!" seru Anna menatap marah ke arah Rafa. "Kau juga yang telah menyebabkan kedua temanmu tewas, kau anak manusia atau iblis!!" pekik Anna.


"Tutup mulutmu!!" balas Quenby marah. "Kau yang wanita iblis! alasan saja kau menyalahkan putraku, kau yang tidak tahu diri!"


"Bukti sudah ada Nyonya Quenby. Kau mau menyangkal apa lagi? kalian memang tidak becus mengurus anak sendiri, kalian tidak pantas menjadi orangtuanyam Kalian sudah mencetak anak pembunuh!"


"Plakkk!!


Quenby menampar wajah Anna dengan kencang. "Tutup mulutmu, atau aku bunuh kau sekarang juga!!" ancam Quenby marah.


"Tenanglah Quen, kalau kau bersikap seperti ini. Itu sama saja merugikan putra kita." Avram coba menenangkan Quenby.


"Nyonya, Tuan Avram. Bukti sudah kami kantongi. Dengan terpaksa kami harus memproses putra kalian dan mengambil hak asuh Rafa." Sela Pak Polisi.


"Tidak! anakku tidak bersalah!" pekik Quenby histeris.


"Maaf Nyonya. Tuan. Dengan sangat terpaksa kami harus menangkap Rafa." Katanya lagi.


"Pak Polisi, aku tidak bersalah. Aku bisa buktikan semua itu." Pinta Rafa berjalan satu langkah mendekati Pak Polisi. "Beri aku waktu untuk aku, dan akan kubuktikan kalau bukan aku pelakunya."


"Kau mau menyangkal apalagi Rafa, sebaiknya kau ikut. Ini semua demi kebaikanmu." Sela Livian.


"Aku tidak bicara denganmu." Kata Rafa tegas. "Aku mohon Pak Polisi, beri aku waktu." Pinta Rafa menatap penuh harap.


"Pak, beri kami waktu. Tolong, dia masih anak anak." Bela Avram.


"Apa jaminannya kalau dia tidak membunuh lagi?" tanya Pak Polisi.


"Aku jaminannya!"


Semua orang menoleh ke arah suara. Nampak She Blak berdiri di ambang pintu, lalu berjalan menghampiri mereka.


"Papa!" Elena berjalan mendekati She Blak lalu memeluknya erat.


"Tuan She Black?" sapa Pak Polisi.


"Aku yang akan menjamin semuanya, beri anak ini waktu. Beri dia kesempatan untuk membuktikan semuanya kepada kalian semua." Se Blak tersenyum ke arah Elena yang bergelayut manja di tangannya.


"Berapa lama, waktu yang kau minta?" tanya Pak Polisi.


"Lamanya satu bulan. Jika Rafa tidak bisa membuktikannya, silahkan kalian teruskan pekerjaan kalian menangkap dan mengambil hak asuh Rafa." Ungkap She black.


"Apa jaminannya kalau dia tidak membunuh lagi?" tanya Pak Polisi.


"Selama putraku menjalankan misinya, biar aku yang menggantikan Rafa di penjara. Ini saya lakukan sebagai pengingat putraku untuk tidak bertindak ceroboh!" usul Avram.


"Baik! kami terima!" kata Pak Polisi.


"Dad.." ucap Rafa, matanya berkaca kaca menatap ke arah Avram.


Avram berjalan mendekati Rafa lalu memeluknya dengan erat.


"Mari Pak!" Avram menyerahkan kedua tangannya untuk di borgol.


Rafa terdiam menyaksikan Avram tangannya di borgol. Tidak ada air mata yang menetes meski ia ingin menangis. Semua sudah ia simpan di dalam hatinya.


Quenby hanya bisa menangis memeluk Karina. Ia sama sekali tidak mencegah Avram. Karena Quenby tahu, Avram tidak mungkin bisa di cegah.


"Kami permisi, maaf sudah mengganggu ketenangan kalian." Kata Pak Polisi. Lalu ia membawa Avram keluar dari rumah, di ikuti wanita yang dari yayasan itu.


"Kau tega sekali melaporkan semua ini pada Polisi!" bentak Quenby menatap marah ke arah Livian.


"Quen, aku hanya ingin membuktikan kalau aku tidak bersalah, aku tidak mengkhianatimu." Jawab Livian.


"Cukup! pergi kalian dari rumahku, pergi!!" pekik Quenby marah.


"Baik!" sahut Livian lalu balik badan melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


"Anak sama ibu sama sama gilanya!" umpat Anna lalu balik badan dan berlalu menyusul Livian.


"Aku tidak gila..aku bukan anak iblis..bukan momy..bukan.." ucap Rafa pelan.


"Rafa..pentingkah penilaian mereka untuk hidupmu?" tanya Elena.


Rafa menggelengkan kepalanya. "Tidak, mereka tidak tahu apa apa."


"Kenapa kau harus sedih? kita hidup bukan atas dasar penilaian orang lain. Tetaplah jadi dirimu sendiri, Rafa yang aku kenal." Timpal Elena lagi


"Elena!"


Rafa berjalan mendekati Elena dan memeluknya erat. Dan Elena dengan senang hati membiarkan Rafa memeluknya. Jantungnya berdegup kencang, rasa hangat menjalar kedalam dadanya. Elena membalas pelukan Rafa semakin erat.


"Aku menyayangimu, aku mencintaimu Rafa.." bisik Elena pelan sekali.


Namun Rafa yang berusaha menenangkan diri, menekan emosinya. Kata kata Elena di telinganya terdengar lain arti.


"Apa? kau mau hadiahnya sekarang?" tanya Rafa sambil melepas pelukannya. "Ayo kita ke kamarku."


Elena hanya bisa menarik napas panjang, menatap jengah Rafa.


"Bukan Rafa, aku-?"


Rafa menarik tangan Elena sebelum Elena menyelesaikan ucapannya, lalu mereka berjalan bersama menuju kamar Rafa.


She Black tersenyum melihat kedekatan mereka, meski terselip perasaan sedih di dalam hatinya


"Quen, aku pulang." Kata She Black.


"Terima kasih, kau sudah percaya kepada putraku " Quenby berjalan mendekati She Black, lalu memeluknya erat.


"Jangan sungkan, kau tidak perlu khawatir Aku akan bebaskan suamimu." Kata She Black melepas pelukan Quenby.


"Caranya?" tanya Quenby.


"Dengan jaminan lain, tapi ingat. Kau harus membantu putramu untuk menyelidiki kasus ini." Pinta She Black.


"Tentu, dia putraku satu satunya. Aku percaya kalau Rafa tidak bersalah." Jawab Quenby.


"Baiklah, kau hubungi aku jika butuh bantuan." Tawarnya.


"Terima kasih paman!" sahut Quenby.